Gubes UGM: Kurangi Kecelakaan di Yogyakarta dengan Audit Keselamatan

Gubes UGM: Kurangi Kecelakaan di Yogyakarta dengan Audit Keselamatan

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 02 Okt 2022 12:00 WIB
Wisatawan padati objek wisata bukit paralayang Watugupit, Giricahyo, Purwosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, Rabu (4/5/2022). Objek wisata bukit paralayang Watugupit menyuguhkan pemandangan garis pantai selatan kabupaten Bantul, Yogyakarta saat matahari terbenam. Keindahan senja berpadu dengan garis pantai momen indah yang dinantikan wisatawan.
Ilustrasi pantai Gunung Kidul. Begini saran Guru Besar UGM untuk kurangi kecelakaan di Yogyakarta, baik di jalan maupun di obyek wisata. Foto: Pius Erlangga
Jakarta -

Sejumlah kecelakaan terjadi sepanjang 2022 di jalan hingga lokasi wisata Yogyakarta. Salah satunya korbannya yaitu Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. dr. H. Samekto Wibowo, P.Far.K, Sp. FK(K), Sp.S(K), Sabtu (24/9) lalu.

Dikutip dari laman kampus, UGM tengah berkabung atas kepergian Prof. Samekto yang meninggal akibat terseret ombak di pantai di Gunung Kidul.

Sebelumnya, bus wisata PO Gandos Abadi mengalami kecelakaan di Bukit Bego, Bantul, Yogyakarta pada Minggu (6/2). Para penumpang berencana melakukan wisata dengan rute Breksi, Sleman ke Hutan Pinus, Mangunan, lalu ke Parangtritis. Kecelakaan ini menewaskan 13 korban jiwa.

Guru Besar Transportasi Fakultas Teknik UGM Prof. Dr.-Ing. Ahmad Munawar mengingatkan, upaya audit keselamatan harus dilakukan pemerintah daerah untuk ikut mencegah terjadinya kecelakaan dengan Audit Keselamatan.

Ia menuturkan, Yogyakarta sangat menarik untuk dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara karena merupakan kota wisata dengan objek wisata beragam. Untuk itu, sayang sekali ketika kegembiraan dan keceriaan wisatawan kadang ternodai kecelakaan yang memakan korban.

"Kecelakaan-kecelakaan tersebut tentu saja menyebabkan kegembiraan menjadi duka yang sangat mendalam. Penyebab kecelakaan memang dapat bermacam-macam. Meski begitu, sesungguhnya ada upaya yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk ikut mencegah terjadinya kecelakaan dengan Audit Keselamatan," tutur Ahmad, dikutip dari laman kampus, Sabtu (1/10/2022).

Peringatan di Objek Wisata Rawan Kecelakaan

Ahmad mengingatkan, peringatan perlu diberlakukan di objek-objek wisata rawan kecelakaan seperti di pantai. Salah satunya dengan pemasangan rambu-rambu di daerah berbahaya dengan papan tulisan berbunyi Daerah Berbahaya atau tulisan Awas Terseret Ombak.

Tidak hanya papan rambu, Ahmad mengingatkan, menempatkan petugas yang selalu memberi peringatan pada wisatawan yang berada di tempat tersebut juga bisa dilakukan.

Ahmad mencatat, dari informasi yang terkumpul pada saat almarhum Prof. Samekto terseret ombak, tidak didapati rambu-rambu peringatan tersebut.

"Petugas juga tidak ada pada saat itu sehingga tidak ada teguran dari pengelola wisata. Dengan mengingatkan kembali soal audit keselamatan ini diharapkan dapat mengurangi kecelakaan-kecelakaan yang mungkin terjadi sehingga Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata tidak hanya menarik untuk dikunjungi, namun juga menjamin keselamatan untuk para wisatawannya," tuturnya.

Usaha Mengurangi Kecelakaan di Jalan

Anggota Dewan Penasihat Forum Studi Transportasi antarperguruan tinggi ini menjelaskan, audit keselamatan jalan dapat dilakukan dengan mengidentifikasi daerah rawan kecelakaan atau black spot.

Ia menambahkan, audit keselamatan juga dapat melalui proses analisis dan usaha-usaha untuk mengurangi kecelakaan yang mungkin terjadi.

Menurut Ahmad, melakukan perubahan geometri jalan adalah cara yang terbaik untuk mengantisipasi kecelakaan di jalan, tetapi memang hal tersebut sulit untuk dilakukan.

Adapun upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan memasang rambu-rambu peringatan dan penempatan pos-pos polisi di daerah rawan kecelakaan.

"Pemasangan rambu-rambu peringatan tersebut misalnya pada turunan yang tajam dengan memberikan tulisan Turunan Tajam, Kurangi Kecepatan, Kecepatan Maksimum 30 km/jam dan gunakan persneling rendah," jelas Ahmad.

Ia menerangkan, penggunaan persneling rendah juga merupakan usaha untuk mengurangi kecepatan, terlebih di saat saat rem kurang berfungsi, agar terhindar dari kecelakaan. Di samping itu, perlu juga menurutnya ada penempatan pos polisi.

"Perlu juga penempatan pos polisi agar kendaraan lebih berhati-hati pada saat melewati ruas jalan tersebut," kata Ahmad.



Simak Video "Ada Dugaan Pelanggaran Etik, Guru Besar UGM Terancam Sanksi"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/rah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia