ADVERTISEMENT

Pakar UGM Ungkap Alasan Larang Berkendara Pakai Sandal Jepit, Rentan Kecelakaan?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 20 Jun 2022 16:30 WIB
Jalan berlubang di kawasan Jalan Bhayangkara, Solo, tepatnya di simpang tiga SMA Negeri 7 membuat sejumlah pengendara motor sering terjatuh.
Foto: Ari Purnomo/Pakar UGM Ungkap Alasan Larang Berkendara Pakai Sandal Jepit
Jakarta -

Korps Lalu Lintas Kepolisian RI telah mengeluarkan imbauan terkait larangan penggunaan sandal jepit saat berkendara. Namun, anjuran ini justru menuai polemik di masyarakat.

Pakar teknik lalu lintas dan teknik transportasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Dewanti., M.S., menjelaskan alasan terbitnya aturan ini. Aturan ternyata bertujuan melindungi pengendara motor.

Sepeda motor dikenal sebagai the most dangerous circle atau kendaraan yang paling berbahaya jika dikaitkan dengan keterlibatan kecelakaan. Artinya, pengendara motor paling berisiko terluka jika terjadi kecelakaan.

"Kenapa, jika terjadi insiden sangat rentan mencederai pengendara atau penumpangnya. Kesenggol pastinya langsung badan, jatuh juga langsung berbenturan, berbeda dengan mobil yang ada bodi pelindungnya," ujarnya dikutip dari laman UGM, Senin (20/6/2022).

Sepeda motor saat ini adalah jumlah kendaraan yang paling banyak di Indonesia. Pengendara motor adalah yang paling banyak menjadi korban kecelakaan. Para korban umumnya berusia muda 20-45 tahun dan masih produktif.

Sandal jepit ternyata bukan satu-satunya yang harus dihindari pengendara motor, demi menekan risiko bila terjadi kecelakaan. Seperti tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 tahun 2019 pasal 4, berikut yang harus dipatuhi pemotor:

- memakai jaket dengan bahan yang dapat memantulkan cahaya disertai dengan identitas pengemudi

- menggunakan celana panjang

- menggunakan sepatu

- menggunakan sarung tangan

- membawa jas hujan.

Dengan adanya aturan tersebut, pengendara motor tak punya alasan menggunakan sandal jepit saat berkendara. Pemotor wajib menggunakan sepatu untuk keamanan dan keselamatan ketika di jalan.

Meski harus dipatuhi masyarakat, Dewanti menjelaskan pemberlakuan larangan menggunakan sandal jepit tidak perlu langsung memberi sanksi. Penerapan aturan perlu waktu dan proses sosialisasi terlebih dahulu.

Seperti implementasi pemakaian helm beberapa tahun lalu, untuk pemberlakuan aturan tersebut butuh waktu yang lama. Bahkan di awal-awal soal helm sebagai pelindung kepala menimbulkan pro kontra di masyarakat.

"Ada yang beralasan panas, sumuk, jika sanggulan tidak bisa dan lain-lain. Proses penyadaran (keselamatan berkendara) butuh waktu dan pada akhirnya sekarang sudah lumayan untuk pengguna helm ini, jika di awal-awal dulu mungkin masih sekitar 70 persen, kini hampir 98-99 persen apalagi di perkotaan," tuturnya.



Simak Video "Duh! Tiap Jam Ada 2 Orang Tewas karena Kecelakaan Lalin di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia