Kisah Mahasiswa LPDP Hadapi Krisis Inggris, Berhemat & Ajukan Dana Tambahan

Kisah Mahasiswa LPDP Hadapi Krisis Inggris, Berhemat & Ajukan Dana Tambahan

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 30 Sep 2022 20:30 WIB
BATH, UNITED KINGDOM - SEPTEMBER 25: In this photo illustration, British GDP £1 coins and bank notes are pictured on September 25, 2022 in Bath, England. The UK pound sterling fell to its lowest level against the U.S. dollar since 1985, as concerns grew at the prospect of a surge in the UK government borrowing to pay for the multiple tax cuts, announced in Conservative Party chancellor Kwasi Kwarteng’s mini-budget. The fall in the value of sterling is also contributing to the UKs cost of living crisis, as inflation hits a near-30-year high. (Photo Illustration by Matt Cardy/Getty Images)
Ilustrasi kisah mahasiswa LPDP hadapi krisis Inggris. Foto: (Getty Images/Matt Cardy)
Jakarta -

Seorang penerima beasiswa LPDP, Adit (bukan nama sebenarnya), menceritakan bagaimana dia menghadapi hantaman biaya hidup di tengah krisis Inggris.

Resesi di negara tersebut memang dikabarkan dalam situasi parah. Sampai-sampai sejumlah kepala sekolah di Inggris melaporkan siswa memakan karet atau bersembunyi di taman bermain pada jam istirahat karena tak mampu membeli makan siang.

Lantas, apa saja yang dilakukan Adit untuk menyikapi kebutuhan yang tengah melambung?

Cara Mahasiswa LPDP Bertahan Hidup di Tengah Krisis Inggris

Adit menyampaikan, dia memilih pergi ke toko grosir seperti Asda, Aldi, atau Lidl untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Program-program diskon untuk mahasiswa juga kerap dia manfaatkan supaya bisa membeli baju sampai makanan dengan harga yang miring.

"Harganya jauh lebih murah dengan kualitas yang bagus," kata Adit (28/9/2022), dikutip dari CNN Indonesia.

Penerima beasiswa LPDP tersebut juga mendaftar kartu anggota di toko-toko tertentu supaya bisa berlangganan kopi sampai obat dengan harga yang dapat dijangkau.

Soal makanan, Adit menghindari membeli makanan siap saji. Dia berusaha untuk masak sendiri setiap hari, sebab bisa menghemat sampai lebih dari 60 persen.

Andaikan ingin makan di restoran, dia berkunjung pada jam-jam jelang tutup agar memperoleh diskon sampai 50 persen.

"Contoh ke Itsu. Harga sushi normalnya 8 pound, tapi kalau datang menjelang mereka tutup harga jadi 4 pound," terangnya.

Supaya bisa memantau pengeluaran, Adit pun selalu menyusun catatan keuangan per bulannya.

Di Inggris, harga sewa rumah turut melonjak di samping harga kebutuhan pokok. Kenaikan sewa rumah menjadi sekitar 50-300 pound sterling atau berkisar Rp 816 ribu sampai Rp 4,9 juta.

Untungnya, Adit tak merasakan dampak melonjaknya sewa rumah karena sudah melakukan kesepakatan harga pada tahun lalu. Jadi, harga sewa tidak akan naik selama masih masa kontrak.

Dia mengingat, sebetulnya beberapa barang sudah mengalami kenaikan harga sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari lalu.

"Kenaikan terasa di harga-harga kebutuhan pokok, berkisar antara 0,3 pound sterling sampai 1,5 pound sterling untuk sayur, buah, dll. Minyak goreng sempat langka dan mahal bulan Mei-Juni," urainya.

Walau berbagai harga kebutuhan naik, Adit merasa masih bisa mencukupinya. Dia menuturkan krisis di Inggris tak seberapa berdampak kepada mahasiswa awardee LPDP. Kendati begitu, dia mencoba mengajukan dana tambahan ke LPDP sebagai upaya antisipasi krisis pada masa mendatang.

"Untuk mengajukan dana tambahan sudah dan sedang dilakukan, dan masih dipertimbangkan pihak LPDP," ungkapnya.



Simak Video "Legislator Sentil Penerima LPDP Makan Uang Rakyat Tapi Ogah Kerja di RI"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia