Ners Unair: Hati-hati, Dua Kebiasaan Ini Sama Bahayanya Seperti Merokok

Ners Unair: Hati-hati, Dua Kebiasaan Ini Sama Bahayanya Seperti Merokok

Fahri Zulfikar - detikEdu
Kamis, 29 Sep 2022 17:00 WIB
Ilustrasi kurang istirahat
Foto: Thinkstock/Poike/Ilustrasi Kebiasaan Kurang Tidur
Jakarta -

Kebiasaan merokok memiliki bahaya karena bisa mengganggu kesehatan tubuh. Bahkan bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.

Bahaya yang ditimbulkan dari kebiasaan merokok ini ternyata juga bisa diakibatkan kebiasaan lain yang sering dilakukan dalam sehari-hari.

Bahkan cenderung sering dilakukan berbagai kalangan mulai dari mahasiswa hingga pekerja. Kebiasaan apa yang dimaksud?

Berikut ini dua kebiasaan yang sama bahayanya dengan merokok dikutip dari laman Ners Universitas Airlangga (Unair).

Dua Kebiasaan yang Berbahaya Seperti Merokok:


1. Kekurangan Jam Tidur

Kebiasaan pertama yang memiliki potensi bahaya sama dengan merokok adalah kurangnya jam tidur secara normal. Untuk jam tidur normal yang dimaksud adalah sesuai usia berikut ini.

- Usia remaja (14-17 tahun): 8-10 jam/hari

- Pasca remaja (18-25 tahun): 7-9 jam/hari

- Dewasa (26 - 64 tahun): 7-9 jam/hari.


Mengutip P2PTM Kemenkes RI, Ners Unair menuliskan bahwa tidur kurang dari jam normal dapat menyebabkan tingginya tekanan darah, serangan jantung, stroke, obesitas, dan gangguan kesehatan lain.

Menurut studi, kurangnya tidur menyebabkan kematian dan jumlahnya hampir sama dengan kematian akibat merokok.

Bahkan pada jangka waktu tidur kurang dari enam jam setiap malam dapat meningkatkan risiko dua kali lipat pada pasien yang memiliki faktor risiko untuk mengidap penyakit jantung dan diabetes.

Apabila dalam sehari sudah merasa cukup tidur tapi tetap lelah, sebaiknya bisa konsultasi ke dokter.


2. Terlalu Lama Duduk

Kebiasaan duduk terlalu lama juga sering dikaitkan dengan potensi bahaya yang sama seperti kebiasaan merokok.

Sejumlah studi menjelaskan bahwa duduk terlalu lama berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti diabetes tipe 2, obesitas, kanker, demensia, hingga meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah (penyakit kardiovaskular).

Duduk dalam jangka waktu yang lama juga bisa meningkatkan risiko terjadinya sindrom piriformis.

Ketika dalam posisi duduk, tubuh diibaratkan sedang dalam keadaan padam karena hanya sedikit aktivitas otot yang diaktifkan.

Dalam hal ini, tidak ada standar mengenai berapa waktu yang dihabiskan seseorang untuk bisa dianggap duduk terlalu lama.

Namun, bila pekerjaan atau kegiatan yang sebagian besar dilakukan dalam posisi duduk, ada baiknya untuk mulai mengurangi intensitas duduk.

Misalnya dengan berjalan tiap beberapa jam sekali atau mengganti posisi dengan tidak duduk sementara.

Sebagian dokter bahkan merekomendasikan untuk istirahat dari posisi duduk tiap 30 menit. Dengan begitu, tulang, otot, serta tubuh secara keseluruhan dapat lebih difungsikan.



Simak Video "Minta Tak Diskriminasi, BPJS Kesehatan Beberkan Inovasi Pelayanan Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia