4 Resesi Ekonomi Global dari Masa ke Masa

4 Resesi Ekonomi Global dari Masa ke Masa

twu - detikEdu
Rabu, 28 Sep 2022 13:00 WIB
Penarikan uang besar-besaran pada 2007 di cabang Northern Rockdi Birmingham, Britania Raya karena warga berspekulasi ada masalah perbankan jelang resesi 2009.
Penarikan uang besar-besaran pada 2007 di cabang Northern Rockdi Birmingham, Britania Raya karena warga berspekulasi ada masalah perbankan jelang resesi 2009. Foto: Wikimedia Commons
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan ancaman resesi 2023 di tengah perekonomian global.

Resesi ekonomi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dalam waktu stagnan dan lama, mulai dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Resesi ekonomi bisa memicu penurunan keuntungan perusahaan, meningkatnya pengangguran, hingga kebangkrutan ekonomi.

Sri Mulyani mengatakan, banyaknya negara di dunia yang menaikkan suku bunga acuan secara ekstrem dan bersama-sama seperti di Amerika Serikat hingga Inggris memicu inflasi sampai resesi.

"Bank dunia sudah menyampaikan kalau bank sentral seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrim dan bersama-sama, maka dunia pasti mengalami resesi di tahun 2023," katanya dalam konferensi pers APBN KiTa, dikutip dari detikFinance.

Ia menerangkan, pengetatan suku bunga yang dilakukan negara maju untuk menjinakkan inflasi. Kondisi ini diikuti oleh koreksi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

Sebagai contoh, sambungnya, Federal Reserve atau bank sentral AS memastikan akan terus menaikkan suku bunga sampai inflasi Amerika Serikat terkendali. Suku bunga di AS sendiri sudah naik sebesar 75 basis poin (bps).

Resesi global bukan kali pertama terjadi di dunia. Sejak 1950, empat resesi ekonomi global terjadi pada 1975-2009.

Menurut penelitian Global Recession oleh M. Ayhan Kose dkk. dari World Bank, pasar dan perekonomian berkembang pada 2009 justru bisa pulih lebih kuat setelah resesi global ini. Berikut resesi ekonomi dari masa ke masa.

Resesi Ekonomi Global dari Masa ke Masa

1. Resesi 1975

Resesi 1975 muncul setelah embargo minyak dari Arab pada 1973. Meskipun embargo berakhir pada Maret 1974, perubahan suplai minyak dan kenaikan harganya memicu inflasi serta pelemahan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di sejumlah negara.

Pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal lalu diterapkan terutama oleh beberapa negara maju. Harapannya, pertumbuhan ekonomi bisa pulih pada 1976. Namun, negara Group of 7 seperti Kanada, Prancis, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat, kecuali Jerman dan Jepang, masih terus mengalami inflasi tinggi.

2. Resesi 1982

Resesi 1982 dipicu oleh kenaikan harga minyak pada 1979, pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat dan sejumlah negara maju, serta krisis utang Amerika Latin.

Pada 1979, harga minyak naik tajam. Salah satu penyebabnya yakni karena disrupsi akibat revolusi Iran yang turut mendorong inflasi di perekonomian negara maju. Karena itu, kebijakan moneter pun diperketat di negara-negara maju seperti Jepang, Italia, Inggris, Jerman, hingga Amerika Serikat.

Akibatnya, angka pengangguran naik pada 1982-1983. Sementara itu, negara-negara Amerika Latin mengalami krisis, kesulitan membayar utang karena naiknya suku bunga global dan jatuhnya harga komoditas akibat pelemahan pertumbuhan global.

Di resesi 1982, perekonomian negara maju umumnya bisa pulih lebih cepat, meskipun angka pengangguran masih tinggi. Namun, resesi global ini mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi berkepanjangan di negara Amerika Latin, Karibia, dan Afrika wilayah Sub-Sahara.

3. Resesi 1991

Resesi 1991 dipicu oleh sejumlah faktor. Perang Teluk I tahun 1990-1991 juga disebut memicu ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga minyak yang tajam.

Di Eropa Timur dan Tengah serta negara-negara eks Uni Soviet, transisi ke ekonomi pasar salah satunya dipersulit oleh inflasi tinggi.

Sementara itu, negara-negara Skandinavia mengalami krisis perbankan parah di awal tahun 1990-an setelah liberalisasi sektor keuangan dan ekspansi cepat di pasar kredit pada tahun 1980-an.

Di Amerika Serikat, melemahnya lembaga pemberi pinjaman sejak 1980-an membebani pasar perumahan, terutama selama krisis kredit 1990-1991.

Di Jepang, gelembung harga aset pecah sehingga mengakibatkan resesi dan periode panjang pertumbuhan rendah dan inflasi yang mendekati nol.

4. Resesi 2009

Resesi 2009 terjadi setelah krisis keuangan sejak Great Depression. Krisis keuangan ini terjadi di pertengahan 2007 pada perekonomian negara-negara maju, setelah pelonggaran regulasi dan pengawasan lembaga dan pasar keuangan, harga aset, berkembangnya kredit di berbagai negara, hingga ekspansi cepat di high-risk lending, khususnya di pasar perumahan Amerika Serikat.

Layanan keuangan global Lehman Brothers bankrut pada 2008. Kebankrutannya turut memicu krisis makroekonomi dan keuangan.

Kelak, hubungan pasar AS dan pasar keuangan lainnya turut memicu krisis di perekonomian negara maju dan beberapa negara berkembang. Krisis perbankan di negara-negara Eropa berkembang pada 2008.

Rentetan kejadian ini memicu penurunan tajam harga aset dan krisis kredit, jatuhnya perdagangan global, dan resesi di sejumlah negara.

Namun, sejumlah negara berkembang, kecuali beberapa wilayah di Eropa dan Asia Tengah, justru dapat melewati resesi global 2009 dengan relatif baik. Kondisi ini salah satunya ditengarai oleh terbatasnya eksposur perekonomian di negara-negara ini terhadap pasar keuangan global.



Simak Video "Investasi, Jalan Ninjaku"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia