Pemberontakan APRA: Latar Belakang Sejarah dan Akhir Pemberontakan

Pemberontakan APRA: Latar Belakang Sejarah dan Akhir Pemberontakan

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 27 Sep 2022 16:30 WIB
Gedung Divisi Siliwangi saat Bandung diduduki APRA, 23 Januari 1950. APRA menjadi tantangan penerapan Pancasila di awal masa kemerdekaan.
Sejarah Pemberontakan APRA. (Foto: Wikimedia Commons/30 Tahun Indonesia Merdeka)
Jakarta -

Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) adalah peristiwa pemberontakan yang meletus pada 23 Januari 1950 di Bandung. Pemberontakan ini dipimpin oleh Raymond Westerling, mantan kapten tentara Kerajaan Hindia Belanda Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL).

Pada saat itu, Westerling berusaha untuk mempertahankan bentuk negara federal dan menolak Republik Indonesia Serikat (RIS). Westeling menilai, RIS di bawah Soekarno dan Hatta terlalu fokus pada wilayah Jawa atau Jawa sentris.

Menurut situs resmi Perumusan Naskah Proklamasi oleh Kemendikbud, latar belakang pemberontakan APRA didorong oleh hasil Komisi Meja Bundar (KMB).

Latar Belakang Pemberontakan APRA

Konferensi Meja Bundar pada Agustus 1949 menghasilkan keputusan:

1. Kerajaan Belanda akan menarik pasukan KL (Koninklijk Leger) dari Indonesia.
2. Tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) akan dibubarkan dan akan dimasukkan ke dalam kesatuan-kesatuan TNI.

Pasukan KL dan KNIL merasa dirugikan dengan keputusan KMB. Pasukan KNIL takut mengalami hukuman atau ancaman saat menyatu dengan TNI kelak.

Akhirnya, seorang Komandan dari kesatuan khusus Depot Speciale Troopen (DST), Kapten Raymond Westerling memanfaatkan keadaan. Ia berhasil mengumpulkan 8.000 pasukan dari desertir dan anggota KNIL.

Westeling kemudian menggunakan nama Ratu Adil dari kitab Jangka Jayabaya tentang datangnya "Sang Ratu Adil". Westerling pun menamai gerakan ini dengan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Pemberontakan APRA

Target pemberontakan APRA adalah Jakarta dan Bandung. Jakarta menjadi target sasaran sebab pada awal Januari 1950 sedang ramai dilakukan Sidang Kabinet RIS untuk membahas kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan.

Kemudian, APRA juga menargetkan kota Bandung karena situasi kota belum sepenuhnya dikuasai oleh pasukan Sliwangi. Ditambah pula dengan basis kekuatan militer Belanda yang kuat di Bandung.

23 Januari 1950 pagi, pasukan yang menamakan diri APRA bergerak dari Cimahi menuju pusat kota Bandung, utamanya ke Markas Divisi Siliwangi di Jalan Oude Hospitaalweg (sekarang Jalan Lembong). Sepanjang jalan menuju markas Divisi Siliwangi, pasukan APRA menembaki tentara Siliwangi yang terlihat tak bersenjata.

Akhirnya, pertempuran tak seimbang 800 APRA melawan 100 tentara Siliwangi yang tersisa di markas terjadi. Pertempuran ini menewaskan Letkol Adolf Lembong. Akhirnya, APRA menguasai markas Siliwangi.

Akhir Pemberontakan APRA

Pada Januari 1950, Presiden RIS Sukarno menunjuk Hamid sebagai menteri negara tanpa portofolio sekaligus koordinator tim perumusan lambang negara.

Menteri tanpa portofolio adalah menteri pemerintahan tanpa tanggung jawab spesifik atau tidak mengepalai kementerian tertentu.

Dalam sidang kabinet 10 Januari 1950, Hamid membentuk Panitia Lencana Negara. Kemudian, diadakan sayembara pembuatan lambang negara. Di sisi lain, Hamid menjalin mufakat dengan Westerling karena ingin mempertahankan negara federal dan kecewa dengan jabatannya yang hanya sebagai menteri tanpa portofolio.

Menurut Buku Modul Sejarah Indonesia kelas XII oleh Kemendikbud, Hamid mengakui telah memberi perintah kepada Westerling dan Inspektur Polisi Frans Najoan untuk menyerang sidang Dewan Menteri RIS pada 24 Januari 1950.

Dalam penyerbuan itu, Hamid juga memerintahkan agar semua menteri ditangkap, sedangkan Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX, Sekretaris Jenderal Ali Budiardjo, dan Kepala Staf Angkatan Perang RIS (APRIS) Kolonel T.B. Simatupang harus ditembak mati.

Drs. Moh. Hatta turun langsung untuk berunding dengan Komisaris Tinggi Belanda. Akhirnya, Mayor Jenderal Engels yang merupakan Komandan Tinggi Belanda di Bandung mendesak Westerling untuk meninggalkan Kota Bandung. Berkat hal itu, APRA pun berhasil dilumpuhkan oleh pasukan APRIS.



Simak Video "Rel Trem Kuno di Proyek MRT Fase 2 Disebut Tertua di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(nir/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia