"Zaman Kegelapan Eropa", Betulkah Tidak Benar-benar Gelap?

"Zaman Kegelapan Eropa", Betulkah Tidak Benar-benar Gelap?

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 23 Sep 2022 16:30 WIB
Old rustic building exterior in romantic medieval town of Nördlingen in Bavaria, Germany.
Kota peninggalan Abad Pertengahan di Nördlingen in Bavaria, Germany. Foto: Thinkstock
Jakarta -

Zaman Kegelapan Eropa adalah periode Zaman Pertengahan Awal para warga di barat Eropa, khususnya sekitar tahun 476-800, ketika tidak ada kekuasaan Roma di wilayah ini. Dalam pengertian lebih luas, zaman ini terjadi pada tahun 500-1000, yang ditandai dengan banyaknya perang dan tidak adanya kehidupan urban.

Periode pertengahan awal atau Periode Migrasi disebut sebagai Zaman Kegelapan karena kurangnya informasi tentang periode tersebut, seperti dikutip dari Encyclopaedia Britannica.

Namun, para cendekia di periode setelahnya disebut menggunakan istilah Zaman Kegelapan sebagai istilah yang merendahkan karena punya agenda untuk menampilkan kelebihan zamannya masing-masing dibandingkan dengan yang terjadi di periode pertengahan.

Contohnya, para cendekiawan Italia zaman Renaisans dianggap menggunakan istilah ini dengan agenda untuk memperlihatkan kontras antara periode pertengahan dengan zaman Renaisans yang terkesan mengembalikan ilmu pengetahuan, seni, dan kemajuan peradaban ke tengah masyarakat, seperti dikutip dari laman Khan Academy.

Periode Migrasi atau Zaman Kegelapan dimulai dari masa runtuhnya Kekaisaran Romawi hingga sekitar tahun 1000. Bagaimana kehidupan di masa itu?

Kondisi pada Zaman Kegelapan di Eropa

Kemajuan Masa Lalu Rusak dan Tidak Dapat Digunakan

Suku-suku Jermanik bermigrasi ke selatan dan barat Eropa pada abad ke-5. Mereka mempertahankan banyak kebiasaan dan cara hidup mereka.

Namun, banyak tanda peningkatan kualitas hidup yang diperkenalkan selama Kekaisaran Romawi, seperti pertanian yang relatif efisien, jaringan jalan, sistem pasokan air, dan rute pengiriman, rusak hingga benar-benar tidak dapat digunakan, termasuk warisan-warisan artistik dan ilmiah lainnya. Penurunan kualitas hidup ini berlangsung selama Periode Migrasi atau Zaman Kegelapan Eropa.

Gereja Berkaitan dengan Negara

Selama Periode Migrasi, tidak ada struktur politik besar yang muncul di Eropa untuk memberikan stabilitas di tengah masyarakat. Dua kerajaan besar, Jerman dan Italia, mulai kehilangan kesatuan politiknya.

Satu-satunya kekuatan yang mampu memberikan dasar bagi kesatuan sosial pada warga saat itu adalah Gereja Katolik Roma.

Setelah pembubaran Kekaisaran Romawi, muncul gagasan tentang Eropa sebagai satu besar negara-gereja , disebut Susunan Kristen. Susunan Kristen dianggap terdiri dari dua kelompok fungsionaris yang berbeda, yaitu sacerdotium atau hierarki gerejawi, dan imperium atau pemimpin sekuler.

Pertanian yang Berkembang

Sebelum Abad Pertengahan Awal, kemakmuran pertanian Eropa sebagian besar terbatas di selatan. Tanahnya yang berpasir, kering, dan gembur, cocok untuk bajak yang dikenal pada masa itu, yakni bajak gores, seperti dikutip dari History.

Kemudian, penemuan bajak berat yang dapat menggarap tanah liat yang jauh lebih subur jauh di dalam bumi serta udara hangat saat itu memungkinkan perkembangan pertanian di daerah utara Eropa pada abad ke-10.

Penemuan Abad Pertengahan awal lainnya yaitu kerah kuda, yang ditempatkan di leher dan bahu kuda untuk mendistribusikan berat dan melindungi hewan saat menarik gerobak atau bajak. Kuda terbukti jauh lebih kuat dan efektif daripada lembu, dan kerah kuda saat itu merevolusi pertanian dan transportasi. Penggunaan tapal kuda logam juga umum digunakan pada tahun 1000.

Kemajuan Sains dan Matematika di Dunia Islam

Kemajuan sains dan matematika mungkin lebih lambat di Eropa Barat selama Abad Pertengahan Awal. Namun, kemajuannya dianggap stabil dan meletakkan dasar bagi kemajuan masa depan pada periode abad pertengahan berikutnya.

Di periode yang sama , dunia Islam maju dalam bidang matematika dan sains dari dasar ilmu peninggalan Yunani dan teks-teks kuno lainnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Terjemahan Latin dari "Buku Kompendatif tentang Perhitungan dengan Penyelesaian dan Penyeimbangan," oleh astronom dan matematikawan Persia abad kesembilan al-Khawarizmi (sekitar 780-c. 850) akan memperkenalkan aljabar ke dunia Eropa, termasuk solusi sistematis pertama dari persamaan linear dan kuadrat. Versi Latin dari nama al-Khawarizmi sendiri mengilhami kata "algoritma."

Dasar Ilmu untuk Renaisans

Pada tahun 800, Paus Leo III menobatkan Charlemagne sebagai "kaisar Romawi", yang akhirnya berkembang menjadi gelar Kaisar Romawi Suci.

Charlemagne membangun negara terpusat yang kuat, mendorong kelahiran kembali arsitektur bergaya Romawi, mempromosikan reformasi pendidikan dan memastikan pelestarian teks-teks Latin klasik. Kemajuan kunci dari aturan Charlemagne adalah pengenalan skrip tulisan tangan standar, yang dikenal sebagai miniscule Carolingian.

Dengan inovasi seperti tanda baca, huruf kapital dan spasi antar kata, Charlemagne merevolusi sistem membaca dan menulis dan memfasilitasi produksi buku dan dokumen lainnya.

Meskipun dinasti Carolingian kelak bubar pada akhir abad kesembilan dan Charlemagne sendiri meninggal pada tahun 814, warisannya di "Zaman Kegelapan" Eropa akan memberikan fondasi, seperti buku, sekolah, kurikulum, dan teknik pengajaran untuk Renaisans dan kebangkitan budaya lainnya di kemudian hari.



Simak Video "Heboh Walkot Cilegon Tanda Tangani Spanduk Tolak Pendirian Gereja"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia