Perjanjian Tuntang, Jejak Penyerahan Kekuasaan Hindia Belanda pada Inggris

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 23 Sep 2022 13:15 WIB
Kementerian Keuangan tengah melakukan renovasi terhadap Gedung AA Maramis atau yang lebih dikenal sebagai Gedung Daendels.
Gedung AA Maramis peninggalan Daendels sebelum penyerangan kekuasaan Belanda pada Inggris di nusantara. Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta -

Perjanjian Tuntang atau Kapitulasi Tuntang adalah kesepakatan antara pihak Inggris dengan pihak Belanda terkait penyerahan Kepulauan Nusantara kepada pemerintah Inggris atau Britania Raya pada tahun 1811.

Perjanjian Tuntang dilatari oleh kekalahan perang Belanda dari pasukan Inggris. Pasukan Belanda pun mundur ke Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Sebelum pasukan Inggris datang, VOC di Nusantara mengalami kebangkrutan pada tahun 1799. Pemerintahan di Nusantara lalu langsung diserahkan pada pemerintah kerajaan Belanda pada waktu itu, seperti dikutip dari laman resmi Tuntang.

Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte yang menang atas kekuasaan Belanda saat itu lalu memberikan kekuasaan pada saudaranya, Louis Bonaparte, sebagai Raja Belanda.

Raja Louis Bonaparte memerintahkan Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda. Daendels bertugas untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris serta membereskan keuangan pemerintahan.

Dalam masa pemerintahannya, Daendels melanggar undang-undang dengan menjual tanah negara pada pada pihak swasta. Ia pun ditarik kembali ke Belanda dan digantikan oleh Gubernur Jenderal Jan Willem Janssens pada 20 Februari 1811.

Dikutip dari laman Batavia Digital Perpusnas RI, Janssens tiba di Istana Buitenzorg (Bogor) pada 15 Mei 1811. Ia memulai masa jabatannya dalam kondisi genting. Para prajurit Daendels tidak cakap menjadi prajurit, sehingga kelak mudah dikalahkan Inggris yang menyerang pada 26 Agustus 1811.

Janssens pun menarik mundur pasukan ke Semarang, menambah pasukan dengan prajurit Eropa di kota tersebut dan di Surabaya, beserta prajurit dari Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Gempuran Inggris membuat Janssens dan pasukan mundur ke Tuntang.

Di Tuntang, Janssens menyatakan menyerah pada Jenderal Auchmuty dalam Perjanjian Kapitulasi Tuntang. Dengan penandatanganan perjanjian tersebut, Janssens hanya menjaga bendera Prancis berkibar di Hindia Belanda sebagai penjajah selama enam bulan.

Isi Perjanjian Tuntang

Perjanjian Tuntang adalah perjanjian penyerahan kekuasaan Belanda kepada Inggris atas seluruh Nusantara, termasuk pangkalan-pangkalan yang dimiliki Belanda.

Berikut isi Perjanjian Tuntang:

  1. Seluruh pulau Jawa dan semua pangkalan-pangkalan yang dimiliki Belanda yaitu yang terdapat di daerah Madura, Palembang, Makassar, dan Sunda Kecil harus diserahkan kepada pemerintahan Inggris.
  2. Seluruh tentara atau militer-militer Belanda harus menjadi tawanan pemerintahan Inggris.
  3. Bagi pegawai sipil yang ingin bekerja, bisa bekerja untuk pemerintahan Inggris termasuk di dalamnya orang-orang Belanda.

Dampak Perjanjian Tuntang: Penjajahan Inggris di Indonesia

Dampak Perjanjian Tuntang di Nusantara yaitu tumbuhnya penjajahan Inggris di pulau-pulau nusantara selama 5 tahun, pada 1811-1816. Kekuasaan Inggris di Hindia Belanda dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.

Sejumlah kebijakan dilakukan pemerintah kolonial Inggris di Nusantara yaitu:

  1. Wajib pajak dan kerja paksa dihapuskan.
  2. Rakyat menentukan tanaman yang ditanam.
  3. Tanah merupakan milik pemerintah, petani adalah penggarap.
  4. Bupati merupakan pegawai pemerintah.

Meskipun Raffles disebut sebagai pembaharu, penjajahan Inggris di Hindia Belanda tidak berlangsung lama. Perubahan politik di Eropa membuat Inggris sepakat menyerahkan Hindia Belanda kembali pada Belanda.



Simak Video "Melihat Patung Ikonik Daendels dan Pangeran Kornel di Sumedang"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/kri)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia