Menengok "Raksasa" di Kebun Raya Cibodas

Menengok "Raksasa" di Kebun Raya Cibodas

- detikEdu
Senin, 19 Sep 2022 17:39 WIB
Kebun Raya Cibodas
Kebun Raya Cibodas Foto: (Ismet Slamet/detikcom)
Jakarta -

Penampakan raksasa biasanya ditakuti orang. Tapi tidak untuk raksasa yang satu ini, ia begitu indah dan kokoh. Perawakannya besar berbulu lebat, menutupi sebagian tubuhnya. Bila melihat bagian tubuhnya yang menggulung, terbayang belalai Mammoth si binatang purba.

Setidaknya begitulah yang ada di alam imajinasi saya untuk raksasa yang satu ini. Cukup lama rupanya saya tak mengunjungi taman tematik paku-pakuan Kebun Raya Cibodas. Taman ini sudah ada sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda.

Taman dengan luas 2000 m² ini difungsikan untuk mengoleksi berbagai jenis tanaman paku-pakuan. Tidak hanya paku-pakuan asal Indonesia, taman ini juga mengoleksi jenis dari mancanegara. Kurang lebih ada 101 jenis paku-pakuan yang menjadi koleksinya, termasuk si raksasa.

Cuaca dengan udara lembab di kawasan itu menambah kerinduan saya melihatnya. Tidak ada cerita romantis yang saya alami di sana. Namun, rasa kecintaan saya terhadap paku-pakuan tidak pernah pudar. Paku-pakuan bagi saya sangat unik dan berbeda dengan tanaman pada umumnya. Paku tidak memiliki bunga dan tidak pernah menghasilkan biji, tetapi menghasilkan spora.

Spora merupakan bagian penting dari tumbuhan paku karena berfungsi sebagai alat perkembangbiakkan dalam proses regenerasi. Bagaikan juragan real estate, paku memiliki banyak rumah untuk sporanya. Rumah tersebut kerap dikenal dengan istilah sporangium. Kumpulan spongarium tersebut akan membentuk adanya sorus, si real estate, yang terletak di bawah permukaan daun.

Tumbuhan paku dapat hidup di tanah, air, menempel pada tumbuhan lain, dan di sisa-sisa tumbuhan atau sampah-sampah. Tanaman paku tumbuh subur di daerah tropis. Mereka senang menghuni daerah yang hangat dan lembab di bumi. Cukup mencengangkan, jenisnya di dunia diketahui mencapai lebih dari sepuluh ribu.

Si Paku Raksasa

Angiopteris evecta, si Paku Raksasa, dikenal juga dengan nama paku gajah atau paku raja. Disebut paku gajah karena bentuk daunnya yang masih muda menggulung, berbulu dan besar. Sepintas sangat mirip dengan belalai gajah. Spesies ini merupakan salah satu jenis dari suku Marattiaceae. Paku ini memiliki keistimewaan pada ukurannya yang besar. Itulah mengapa ia dijuluki si Paku Raksasa.

Angiopteris evecta, si paku raksasa, di Kebun Raya CibodasAngiopteris evecta, si paku raksasa, di Kebun Raya Cibodas Foto: dok. BRIN

Bagian bawah tanaman ini memiliki rimpang yang menyerupai bonggol. Rimpang merupakan bekas patahan batang daun yang menumpuk. Rimpang tegak besar dan berdaging seperti batang. Tinggi rimpang mencapai 120 sentimeter dan diameter 100 sentimeter.

Paku raksasa memiliki daun tersusun berjajar rapi sepanjang 4 meter. Setiap helai daunnya berukuran panjang 20 sentimeter dan lebar 2,5 sentimeter, dengan bagian tepi bergerigi.Tangkai daunnya tebal dan berdaging. Panjangnya dapat mencapai sekitar 2 meter dari bagian pangkal hingga daun pertama.

Angiopteris evecta tersebar luas di daerah tropis mulai dari Madagaskar dan Asia tropis. Di seluruh Asia Tenggara sampai ke Australia dan Polinesia. Hutan yang lembab dataran rendah, sampai menengah, di lembah yang basah, serta, ngarai adalah tempat yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan Angiopteris evecta.

Akhirnya saya tiba di taman paku-pakuan, tempat si raksasa itu bermukim. Suasana pagi di taman itu begitu asri, kicauan burung yang bersahutan, seakan menyambut kedatangan saya yang lama tak bersua. Nampak dari kejauhan di antara rimbunnya pohon, Angiopteris evecta yang gagah, indah, dan memesona.

Si Paku Raksasa banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias karena bentuknya yang menarik bahkan bagian-bagian tertentu dari tanaman ini dapat dimakan dan bermanfaat juga sebagai obat tradisional.

Dikutip dari artikel "Angiopteris evecta (G.Forst.) Hoffm. PAKIS RAKSASA NAN MEMPESONA"https: //publikasikr.lipi.go.id, bahwa di Papua Nugini rimpang yang mengandung tepung dapat dikonsumsi. Setelah dilakukan pengolahan yang lama untuk menghilangkan racun terlebih dahulu, tanaman ini berpotensi untuk bahan pangan.

Rimpang diolah dengan cara dipotong-potong, lalu direndam dan dijemur. Di Ambon daun mudanya dapat dimakan. Di Filipina daun yang masih menggulung dimasak sebagai sayuran. Tidak hanya berpotensi sebagai bahan pangan, jenis paku raksasa juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Ramuan dari rimpangnya digunakan untuk menghentikan pendarahan pada saat keguguran kandungan kehamilan.

Batangnya ditumbuk untuk mengobati batuk dan daun mudanya digunakan sebagai tapal pada bagian yang bengkak. Bahkan di Kolli Hills yaitu bagian timur Ghats, India, Angiopteris evecta yang dikenal dengan nama lokal yanai yanagi. Jenis ini juga digunakan sebagai obat radang usus dan sakit perut. Caranya, dengan meminum air rebusan daunnya setelah ditambah dengan air lemon.

Meskipun berpotensi sebagai bahan pangan dan obat, paku jenis ini sebaiknya tidak dimanfaatkan secara langsung. Cara pemanfaatannya di setiap wilayah berbeda-beda, tergantung cara pengolahan dan peruntukannya.

Namun sebaiknya, dalam memanfaatkan tanaman ini disarankan lebih berhati-hati. Terlebih, tanaman tersebut belum kita kenal dan terbiasa kita manfaatkan. Mencari informasi yang cukup tentang tanaman-tanaman tersebut, merupakan cara yang lebih baik agar tidak salah menggunakannya.

Tak terasa hari sudah beranjak siang, cukup lama rupanya saya berada di taman itu. Saya pun harus kembali pulang. Kedatangan saya di taman itu juga memastikan semua koleksi tanaman dalam kondisi baik. Semua pengunjung memang tidak boleh memetik, mencabut, atau merusak tanaman di seluruh area Kebun Raya Cibodas.

*Tatang Jasin, Pranata Humas Muda BRIN



Simak Video "Momen Sri Sultan HB X Resmi Ditetapkan Sebagai Gubernur DIY 2022-2027"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia