Daftar Bahasa yang Hampir Punah di Indonesia, Sudah Pernah Dengar?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Rabu, 07 Sep 2022 07:00 WIB
Map of Indonesia through magnifying glass
Ilustrasi bahasa daerah di Indonesia yang hampir punah. Foto: Istockphoto/naruedom
Jakarta -

Data dari UNESCO mengungkapkan setiap 2 minggu, ada satu dari total sekitar 7.000-an bahasa daerah di dunia mengalami kepunahan. Termasuk di antaranya 25 bahasa daerah di Indonesia yang juga hampir punah.

Ancaman kepunahan itu disebabkan oleh para penutur asli bahasa daerah banyak yang tidak lagi menggunakan dan mewariskan bahasa ke generasi berikutnya. Sehingga khazanah kekayaan budaya, pemikiran, dan pengetahuan akan bahasa daerah terancam punah.

Hal ini juga diungkapkan oleh Kepala Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbudristek Prof. E. Aminudin Aziz, M.A,. Ph.D melalui YouTube Kemendikbudristek.

"Faktor kepunahannya adalah sudah tidak banyak dipakai lagi," ucapnya.

25 Bahasa Daerah di Indonesia yang Hampir Punah

Dikutip dari laman CNN Indonesia, beberapa bahasa daerah yang terancam punah berasal dari daerah Timur Indonesia mulai dari Sulawesi, NTT, hingga Papua.

Bahasa dari Maluku yang terancam punah antara lain bahasa Hulung, Bobat, Samasuru. Kemudian dari Sulawesi Utara ada bahasa Ponosakan serta Sangihe Talaud dan dari Sulawesi Selatan ada bahasa Konjo.

Lalu dari Gorontalo ada bahasa Minahasa dan bahasa Gorontalo Dialeg Suwawa serta bahasa Benggaulu dari Sulawesi Barat.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT) ada bahasa Nedebang dan bahasa Adang yang juga terancam punah.

Sementara itu di daerah Papua ada bahasa Mander, Namia, Usku, Dubu, Irarutu, Podena, Makiew, Bku, Mansim Borai serta dari Papua Barat ada bahasa Arguni dan Kalabra.

Tidak hanya di daerah Timur Indonesia saja, di daerah Jambi ada bahasa Bajau Tungkai Satu dan bahasa Lematang dari Sumatera Selatan.

Upaya Pemerintah untuk Mencegah Kepunahan Bahasa

Prof. Aminudin mengatakan untuk mencegah upaya kepunahan bahasa Daerah di Indonesia, pemerintah melalui Badan Pengembangan Bahasa akan melakukan revitalisasi bahasa.

"Sebagai unit yang atau lembaga negara yang diberi amanat akan terus melestarikan dan melindungi bahasa daerah secara bersama-sama. Supaya tidak punah, bahasa daerah harus direvitalisasi," terangnya.

Revitalisasi diperlukan karena bahasa bukan hanya urusan kombinasi kata dan bunyi saja tetapi ada refleksi kearifan lokal, perasaan, hingga nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa yang menjadi ekspresi masyarakat.

"Jadi itu esensi yang menjadi alasan mengapa kementerian melakukan revitalisasi bahasa daerah," ucap Prof. Aminudin.

5 Langkah Revitalisasi Bahasa

Dia menjelaskan, sejauh ini, pihak Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbudristek sudah membuat peta jalan dengan membuat 5 langkah untuk revitalisasi bahasa daerah, yakni:

1. Melakukan Pemetaan

Pemetaan dilakukan terkait wilayah bahasa-bahasa itu dipakai. Sejauh ini, sudah ada 718 bahasa yang terdata.

2. Kajian Vitalitas

Baru sekitar 150-an bahasa yang sudah dilakukan kajian dari 718 bahasa yang terdata. Artinya, masih begitu sedikit yang sudah dikaji vitalitasnya.

3. Melakukan Konservasi

Konservasi yang dimaksud adalah pendokumentasian unsur dari bahasa itu. Mulai dari unsur bunyi, morfologisnya, sintaksis, unsur makna, dan pembuatan kamusnya.

4. Melakukan Konsultasi

Konsultasi dilakukan dengan penutur bahasa daerah, pengampu-pengampu kepentingan apakah mau direvitalisasi atau tidak.

5. Berkelanjutan

Selama ini tidak berkesinambungan ketika sebuah program dilakukan dianggap sudah selesai kemudian diserahkan pada masyarakat. Ke depan, pihak Badan Pengembangan Bahasa akan melakukan revitalisasi yang berkelanjutan.



Simak Video "Heboh Juru Bahasa Isyarat HUT Ke-77 RI Ikut Joget 'Ojo Dibandingke'"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia