Belajar dari Pakar

Tentang Angka 1

Rachmat Hidayat - detikEdu
Kamis, 18 Agu 2022 21:30 WIB
Rachmat Hidayat
Rachmat Hidayat
Rachmat Hidayat adalah grand mentor di Ngajimatematika. Seorang guru matematika yang sekarang diamanahi menjadi kepala sekolah di SMP AL FURQAN MQ TEBUIRENG. Pemerhati pendidikan matematika di Indonesia
angka 1
Angka 1/Foto: Getty Images/iStockphoto/Lemon_tm
Jakarta -

Saya sering ditanya tentang siapakah penemu matematika. Pertanyaan singkat ini tidak mungkin dijawab dengan singkat dan sederhana. Sebab matematika bukanlah produk tunggal berupa barang yang ditemukan melainkan adalah kumpulan pengetahuan.

Tapi, jika pertanyaannya digeser sedikit menjadi bagaimana awalnya matematika bermula, maka jawaban dari pertanyaan itu mungkin sekali untuk kita sederhanakan. Jejak matematika tertua bisa kita temukan di sekitar pegunungan Lebombo yang berada di Afrika Selatan. Jejak itu berupa tulang yang memuat 29 goresan.

Menurut beberapa ilmuwan 29 goresan itu dimaksudkan untuk menghitung fase peredaran bulan. Kemungkinan besar ini digunakan untuk wanita zaman dahulu untuk menghitung masa menstruasi mereka.

Pakai Tulang Lelombo

Pelajaran tentang bagaimana awal matematika dapat dilihat tulang Lebombo. Berbeda dengan yang kerap disalahpahami banyak orang saat ini, mereka menganggap matematika adalah ilmu yang sulit dan merepotkan.

Keberadaan tulang Lebombo justru menjadi bukti bahwa matematika digunakan untuk menyederhanakan atau menyelesaikan masalah manusia dalam kehidupannya.

Angka 1 Sebagai Awal

Mungkin banyak dari sebagian orang bertanya, "mengapa pada tulang Lebombo bilangan dua puluh sembilan tidak ditulis dengan angka "29" sebagaimana kita menuliskannya. Melainkan dengan menggoreskan garis tipis sebanyak 29 kali?"

Jawabannya, "sebab matematika bermula dengan angka 1". Ya, matematika berawal ketika manusia zaman dahulu untuk pertama kalinya membuat sebuah garis tipis yang mereka maksudkan untuk menandai satu hari telah berlalu.

Untuk membuat angka dua, mereka cukup membuat goresan sebanyak dua kali yang menandakan dua hari telah berlalu, dan seterusnya. Itu sebabnya bilangan dua puluh sembilan dituliskan dengan cara membuat angka 1 (yang berupa garis) sebanyak 29 kali. Goresan itu menjadi titik mula matematika yang paling penting.

Angka 1 Yang Sederhana

Mungkin beberapa orang yang cukup kritis akan bertanya, "mengapa angka 1 diwakili dengan sebuah garis tipis? Bukankah saat itu manusia bisa menuliskan atau menggambarkan simbol lain?"

Jawabannya, "karena garis tipis itu sungguh sangat sederhana". Hanya butuh satu goresan untuk menuliskan angka 1, tanpa ada lekukan atau tarikan khusus.

Bandingkan misalnya dengan simbol angka tiga "3" yang butuh setidaknya 3 kali goresan dan beberapa lekukan. Akibatnya jika manusia zaman dahulu butuh membuat angka 10, mereka cukup menggoreskan angka 1 sebanyak 10 goresan.

Bandingkan jika mereka harus membuat angka 10 dengan menggunakan simbol lain yang setiap simbolnya butuh 3 goresan, maka total akan dibutuhkan sebanyak 30 goresan. Jadi, angka 1 sejak zaman dahulu sampai sekarang adalah angka yang paling sederhana bahkan tidak pernah berubah.

Angka 1 Yang Paling Penting

Jika semua pengetahuan matematika sejak pertama kali ada sampai saat ini dituliskan dalam bentuk buku, maka mungkin sekali buku itu terdiri dari jutaan bahkan miliaran halaman.

Tapi sebanyak apapun pengetahuan itu titik mulanya adalah angka 1. Ketika manusia dengan sadar membuat sebuah goresan berbentuk garis tipis pada tulang Lebombo. Karena penjumlahan beberapa angka 1 inilah manusia pada akhirnya mengenal angka lain seperti 2 yang merupakan hasil dari 3, dan seterusnya.

Dalam ilmu bilangan, semua bilangan asli yakni bilangan yang kita pakai dalam kehidupan kita (mulai 1, 2, 3, ...), dapat dinyatakan dalam penjumlahan dari angka 1. Misalnya 5 dapat ditulis sebagai (penjumlahan satu sebanyak 5 kali) begitu juga dengan bilangan 8 bahkan 100.

Oleh karenanya manusia zaman dahulu cukup membutuhkan satu simbol yakni angka 1 untuk membuat bilangan berapapun. Misalnya bilangan 17 yang sudah bisa dituliskan dengan menggoreskan angka 1 sebanyak 17 kali.

Dari 3 hal di atas sebenarnya kita bisa menarik banyak sekali hikmah. Tapi yang terutama barangkali adalah sebagaimana matematika, dalam hidup sekalipun sebuah penemuan besar sekali pun selalu diawali dengan satu langkah kecil yang sederhana, yang menjadi paling penting.

Tidak ada satu orang pun yang dapat dengan tiba-tiba menemukan teorema Pythagoras jika sebelumnya angka 1 tidak ditemukan. Selain itu kita akhirnya dapat memastikan satu hal bahwa matematika adalah tentang bagaimana membuat hidup menjadi lebih mudah dan sederhana.

Jika ada yang merasa bahwa matematika itu rumit dan merepotkan, yakinlah ada yang salah dengan cara dia belajar matematika.

Artikel ini merupakan kerja sama detikEdu dengan Ngaji Matematika. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.



Simak Video "Momen Jokowi Bertemu Anak-anak Pandai Matematika di Sumut"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia