Menilik Kerajaan Malaka yang Bercorak Islam Sebelum Dikuasai Portugis

Kristina - detikEdu
Kamis, 18 Agu 2022 13:45 WIB
Malacca - Scanned 1890 Engraving
Lukisan Malaka yang sudah dipindai. Foto: Getty Images/benoitb
Jakarta -

Kerajaan Malaka atau juga dikenal dengan Kesultanan Malaka adalah salah satu kerajaan bercorak Islam di Nusantara. Kerajaan ini diketahui berdiri sekitar 1400-an sebelum akhirnya dikuasai Portugis pada 1511.

Menurut catatan Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik sampai Kontemporer karya Adi Sudirman, Kerajaan Malaka didirikan oleh Parameswara antara tahun 1380-1403 M.

Parameswara adalah putra Raja Sam Agi dari Sriwijaya. Saat mendirikan Kerajaan Malaka, ia masih menganut agama Hindu.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Malaka

Disebutkan dalam buku tersebut, saat itu Parameswara melarikan diri ke Malaka karena kerajaannya di Sumatra runtuh akibat serangan Majapahit. Saat Malaka didirikan, terdapat penduduk asli dari suku Laut yang hidup sebagai nelayan di wilayah tersebut. Mereka berjumlah sekitar 30 keluarga.

Parameswara dan pengikutnya adalah rombongan pendatang dengan kebudayaan yang jauh lebih tinggi dari masyarakat setempat. Oleh karena itu, mereka berhasil memengaruhi penduduk asli dan bersama-sama mengubah Malaka menjadi kota yang ramai. Konon Malaka dijadikan sebagai pusat perdagangan.

Rombongan pendatang juga mengajak penduduk asli untuk bercocok tanam. Mereka menanam berbagai macam tanaman seperti tebu, pisang, dan rempah-rempah. Selain itu, para pendatang juga telah menemukan biji-biji timah di daratan.

Ada sejumlah versi mengenai asal usul nama Kerajaan Malaka. Menurut manuskrip berjudul Malay Annals yang ditulis oleh Tun Sri Lanang, Malaka merupakan sebuah pohon yang menjadi tempat berteduh Parameswara kala itu.

Sementara itu, dalam versi lain menyebut, Malaka berasal dari bahasa Arab malqa yang artinya tempat bertemu. Nama ini diperoleh karena di tempat inilah para pedagang dari berbagai penjuru saling bertemu.

Pusat Penyebaran Islam di Kerajaan Malaka

Parameswara baru memeluk Islam pada pertengahan masa pemerintahannya, yakni tahun 1414. Ia kemudian berganti nama menjadi Muhammad Iskandar Syah.

Dalam buku Sejarah Indonesia karya Mariana disebutkan, Kerajaan Malaka berkembang sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar di Asia Tenggara. Wilayah kekuasaannya meluas hingga Semenanjung Malaka pada masa pemerintahan Muhammad Iskandar Syah.

Dalam memajukan perekonomiannya, ia menjadikan Malaka sebagai penguasa tunggal jalur perdagangan di Selat Malaka. Hal ini membuatnya harus menguasai Samudra Pasai dengan cara menikahi putri rajanya.

Kerajaan Malaka mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah (1459-1477). Pada masa inilah Malaka menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara.

Malaka Dikuasai Portugis pada 1511

Pada 1511 saat dalam pemerintahan Sultan Mahmud Syah, ibu kota Kerajaan Malaka diserang oleh bangsa Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque. Serangan tersebut dimulai pada 10 Agustus 1511.

Baru pada 24 Agustus 1511 Malaka jatuh ke tangan Portugis. Sultan Mahmud Syah kemudian melarikan diri ke Bintan dan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pemerintahan baru.

Sejumlah perlawanan terhadap penaklukan Portugis terus berlanjut. Pada Januari 1513, Pati Unus--Sultan Demak--menyerang Malaka. Namun, serangan tersebut berhasil dikalahkan oleh Portugis.

Serangan lain pun terus berlanjut. Hingga akhirnya, Kerajaan Malaka benar-benar sepenuhnya dikuasai oleh Portugis.



Simak Video "Megahnya Arsitrktur Istana Siak Bergaya Eropa dan Timur Tengah, Riau"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia