Kisah Negara Pertama yang Akui Kemerdekaan RI, Putar Lagu Indonesia Raya

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 16 Agu 2022 20:00 WIB
Al-Azhar University in Cairo. (File photo: Reuters)
Read more at https://www.channelnewsasia.com/news/world/egypt-university-expels-female-student-for-hugging-male-friend-11117552
Kisah Mesir, negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Foto: Reuters
Jakarta -

Mesir menjadi negara yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto pada 22 Maret 1946. Padahal, Mesir dan negara Liga Arab tahu bahwa perjanjian Linggarjati pada 1946 hanya mengakui RI sebagai negara bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS) yang akan dibentuk Belanda dengan tambahan pulau-pulau Indonesia lainnya.

Berdasarkan Perjanjian Linggarjati, kedaulatan Indonesia diakui di Jawa dan Sumatra saja. Namun, Mesir memutuskan untuk mengakui RI sebagai negara yang berdaulat penuh dan membuka hubungan diplomatik pada 10 Juni 1947 (21 Rajab 1366), seperti dikutip dari Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan oleh Yudi Latif.

Dukungan Mesir, Negara yang Pertama Kali Mengakui Kemerdekaan Indonesia

Komite Pembela Kemerdekaan Indonesia

Setelah pengakuan de facto atas kemerdekaan Indonesia, pemerintah Mesir lalu mendirikan Komite Pembela Kemerdekaan Indonesia yang terdiri dari tokoh-tokoh Mesir, Arab, dan Islam.

Pemerintah Mesir juga bersedia menanggung kehidupan ekonomi warga Indonesia di Mesir setiap bulan sebagai ganti utang yang diputuskan kedutaan Belanda saat itu.

Indonesia Raya di Radio Kairo

Pemerintah Mesir juga mempersilakan diplomat dan pelajar Indonesia untuk merayakan kemerdekaan nasional pertama di Mesir dengan mengumandangkan Indonesia Raya di Radio Kairo dan menggelar pentas seni teater politik yang dimainkan pemuda Mesir.

Pengakuan De Jure Pertama Indonesia

Konsul Jenderal Mesir di Mumbai, India, Mohammad Abdul Mun'im mendarat di ibu kota RI di Yogyakarta setelah perjanjian Linggarjati.

Ia datang sebagai utusan Liga Arab yang ingin mengakui kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, delegasi Indonesia diharapkan segera bertolak ke negara-negara Arab.

Delegasi diplomatik Indonesia lalu berangkat ke Mesir melalui Mumbai pada 16 Maret 1947. Delegasi Indonesia saat itu terdiri dari H. Agus Salim, H.M. Rasjidi, Nazir St. Pamuncak, Abdul Kadir, dan AR Baswedan, seperti dikutip dari Merawat Indonesia: Belajar dari Tokoh Peristiwa oleh Lukman Hakiem.

Perjalanan ini disambung dengan perjalanan kedua pada Juni 1947. Agus Salim bertemu dengan Pangeran Faisal dari Mesir, Menlu Saudi Arabia, tokoh keagamaan, dan tokoh partai di sana.

Pada 10 Juni 1947, Menlu dan Perdana Menteri Mesir Nohkrasi Pasha dan Agus Salim menandatangani perjanjian bahwa negara Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure.

Pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir merupakan pengakuan internasional pertama yang diperoleh Indonesia.

Setelah pengakuan de jure dari Mesir, negara-negara lainnya turut mengakui kemerdekaan Indonesia, antara lain Lebanon, Suriah, Irak, Afghanistan, Vatikan, Arab Saudi, dan Yaman.

"Kemenangan Indonesia dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagaimana dilakukannya di masa-masa lampau," kata Mohammad Hatta.

Berdasarkan hasil rapat umum partai politik dan ormas di Mesir 20 Juli 1947, pemboikotan barang buatan Belanda di negara Arab, lalu dijalankan.


Negara-negara Arab juga melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda, menutup pelabuhan dan lapangan terbang Arab untuk Belanda, serta membentuk tim kesehatan untuk menolong korban Agresi Belanda.

Rakyat Mesir juga mengirim misi Bulan Sabit Merah ke Indonesia beserta obat, alat kesehatan, dan tim dokter.

"Karena itu tercatatlah, bahwa negara-negara Arab yang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknya ke Yogya dan yang paling dahulu memberikan bantuan biaya bagi diplomat-diplomat Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Yemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan Iran, Turki mendukung RI," kata A.H. Nasution.

Kelak, kemerdekaan Indonesia juga diakui berbagai negara lain secara de jure setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949.



Simak Video "Percepatan Sertifikasi Barang Milik Negara Oleh Kemenhub Ditjen Perkeretaapian"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia