Peristiwa Jepang Menyerah Tanpa Syarat pada Sekutu Tahun 1945

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 15 Agu 2022 21:00 WIB
Menlu Jepang Mamoru Shigemitsu dan perwakilan Jepang di kapal USS Missouri saat menandatangani penyerahan kekuasaan tanpa syarat pada Sekutu, 2 September 1945.
Menlu Jepang Mamoru Shigemitsu dan perwakilan Jepang di kapal USS Missouri sebelum penandatanganan penyerahan kekuasaan tanpa syarat pada Sekutu secara resmi, 2 September 1945. Foto: Wikimedia Commons/US National Archives
Jakarta -

Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1945, atau pada 15 Agustus 1945 menurut waktu Jepang.

Kabar tentang Jepang menyerah pada Sekutu didengar oleh Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chairul Saleh di Radio BBC, seperti dikutip dari Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen) oleh Redaksi Pustaka Grhatama.

Golongan muda ini langsung mendesak golongan tua untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia, kendati ditolak karena khawatir timbul pertumpahan darah.

Berangkat dari kabar tentang Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu tersebut, golongan muda membawa Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok agar tidak terpengaruh janji-janji pihak Jepang.

Dari situ, kedua golongan kembali ke Jakarta untuk merumuskan naskah Proklamasi dan melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Apa yang sebenarnya terjadi pada Jepang sehingga Indonesia dapat merdeka pada 1945?

Jepang Menyerah Tanpa Syarat pada Sekutu

Deklarasi Postdam

Sebelum Jepang menyerah tanpa syarat, pihak Sekutu menyusun Deklarasi Postdam yang berisi tuntutan dan persyaratan penyerahan Jepang. Sebab, Jepang masih menyatakan perang di wilayah Pasifik, seperti dikutip dari Encyclopedia Britannica.

Deklarasi Postdam ini disusun Presiden AS Harry S. Truman, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, dan pemimpin Nasionalis China Chiang Kai-shek pada 28 Juli 1945. Deklarasi tersebut mengklaim bahwa perhitungan penasihat militer Jepang yang salah membuat negara tersebut hancur.

Untuk itu, pihak Sekutu memberikan ultimatum pada Jepang untuk menyerahkan kekuasaan. Syaratnya, Jepang harus mau senjatanya dilucuti total, daerah tertentu diduduki Sekutu, dan setuju pada pembuatan "pemerintah yang bertanggung jawab."

Deklarasi Postdam juga menjanjikan Jepang tidak akan diperbudak sebagai ras atau dihancurkan sebagai sebuah bangsa. Jika tidak setuju, Jepang diancam akan hancur.

Perdana Menteri Jepang Minister Suzuki KantarĊ merespons ultimatum tersebut pada jumpa pers dengan "mokusatsu" dan tidak memberi pernyataan lebih lanjut. Mokusatsu secara kasar diartikan sebagai "no comment."

Ultimatum tersebut kemudian dimanifestasikan Sekutu dengan pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.

Serangan Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki

Mula peristiwa Jepang menyerah pada Sekutu ditandai serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, 6 & 9 Agustus 1945. Di tengah peristiwa pengeboman, Uni Soviet juga mendeklarasikan perang terhadap Jepang.

Pada 12 Agustus 1945, Soekarno, Moh. Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat bertemu Jenderal Terauchi di markas besar Panglima Tertinggi Militer Jepang di Dalat, Vietnam Selatan.

Jenderal Terauchi menyampaikan pernyataan Pemerintah Jepang bahwa bangsa Indonesia akan segera diberi kemerdekaan.

Di balik peristiwa ini, penyelidikan pascaperang mendapati bahwa bom atom dan masuknya Uni Soviet dalam pusaran perang bukan penyebab inti keputusan Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu. Tetapi, kedua peristiwa tersebut berkemungkinan mendorong Jepang menyerah lebih cepat.

Blokade Bawah Laut dan Kekalahan Ekonomi

Catatan pascaperang mendapati, blokade bawah lautlah yang mendorong Jepang menyerah tanpa syarat. Sebab, blokade bawah laut di bawah pulau-pulau Jepang mendorong kekalalahan ekonomi Jepang dengan menyulitkan eksploitasi koloni baru hingga menenggelamkan tonase pedagang.

Kekalahan ekonomi membuat pemimpin-pemimpin Jepang yakin sudah menemui jalan buntu di tengah perang. Pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki, kota-kota hancur, persediaan habis, kapasitas industri yang rusak, kekurangan makanan, dan inflasi yang meningkat membuat kekuatan nasional Jepang terancam dan pemerintah Jepang kehilangan rasa hormat.

Peristiwa Jepang menyerah pada Sekutu secara resmi ditandatangani di kapal perang USS Missouri di Teluk Tokyo pada 2 September 1945. Selamat belajar, detikers.



Simak Video "Lonceng Peringatan 77 Tahun Tragedi Bom Atom di Jepang"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia