Ini Peran Pendidikan dalam Meraih Kemerdekaan Indonesia beserta Tokoh-tokohnya

Anisa Rizki - detikEdu
Selasa, 16 Agu 2022 17:30 WIB
Gedung STOVIA
Foto: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-3.0)
Jakarta -

Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia tentunya melibatkan seluruh elemen rakyat, salah satunya perjuangan dalam bidang pendidikan. Tidak hanya perjuangan fisik, pendidikan memiliki peran penting pada pergerakan nasional.

Peran pendidikan sendiri bisa dilihat dari pemikiran kritis para tokoh dan berbagai diplomasi. Sebelum berlakunya Politik Etis pada tahun 1902, Indonesia telah mengenyam pendidikan nonformal dan adat.

Pendidikan tersebut dinilai kurang memberikan wawasan yang luas, sebab tidak berorientasi ke masa depan. Karenanya, kala itu banyak masyarakat yang sulit mengikuti perkembangan zaman.

Awal Mula Kemunculan Pendidikan di Indonesia

Mulanya, pendidikan di Indonesia diinisiasi oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1847. Saat itu, penyakit menular seperti kolera, tifus, dan disentri mulai merebak.

Sebagai langkah penanganan dan pencegahan, pemerintah Hindia-Belanda memberikan pelatihan "juru suntik" bagi pemuda yang kelak menjadi penyuluh kesehatan di daerahnya masing-masing.

Dikutip dari laman resmi Direktorat Sekolah Menengah Pertama pada Selasa (16/8/2022), pemerintah Hindia-Belanda mulai merencanakan pendidikan kedokteran dengan sistem pendidikan selama 3 tahun.

Pada pelaksanaannya, dikeluarkan Surat Keputusan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1856 tertanggal 11 Mei 1856. Para lulusan sekolah tersebut mendapatkan gelar "Dokter Jawa", oleh karenanya sekolah itu disebut sebagai "Sekolah Dokter Jawa".

Penerapan Politik Balas Budi

Politik Etis atau Politik Balas Budi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda semakin memberikan celah bagi rakyat Indonesia untuk meraih kemerdekaan.

Dalam trilogi Politik Etis, Belanda memberikan tiga kebijakan pada rakyat pribumi, yaitu irigasi (pengairan), migrasi (perpindahan penduduk), dan edukasi (pendidikan).

Nah, pendidikan memiliki dampak yang paling signifikan terhadap perubahan. Kala itu, para pemuda Indonesia banyak mendapatkan pendidikan sistem Barat.

Bukan hanya pada bidang kedokteran, namun juga pengetahuan umum seperti ilmu bumi, sejarah, dan lain sebagainya.

Meski pelaksanaannya cukup diskriminatif dan selektif, namun dampak pendidikan dinilai cukup positif bagi bangsa Indonesia. Wawasan kebangsaan dan rasa cinta tanah air semakin mendalam, sehingga terjalin rasa persatuan dan kesatuan.

Sekolah Dokter Jawa Beralih Nama Jadi STOVIA

Sekolah Dokter Jawa kemudian bertransformasi menjadi STOVIA atau School tot Opleiding van Inlandsche Artsen pada awal abad ke-20.

STOVIA banyak melahirkan cendekiawan Indonesia yang memiliki peran penting dalam pembentukan organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia, Boedi Oetomo (1908).

Selain itu, banyak juga rakyat Indonesia yang mendirikan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang pendidikan seperti Sekolah Rakyat, Perguruan Taman Siswa, Pendidikan INS (Indonesisch Nederlandsche School), dan Perguruan Rakyat.

Penyelenggaraannya sendiri dilakukan oleh pihak swasta dan segala sesuatunya menggunakan biaya pribadi.

Tokoh-tokoh Pendidikan Indonesia

Munculnya organisasi-organisasi tersebut tak terlepas dari peran para tokoh pendidikan Indonesia. Dikutip dari buku Pengantar Pendidikan Era Globalisasi karya Prof. Dr. Hamid Darmadi, M.Pd., M.Sc., berikut sejumlah pahlawan nasional yang memiliki peran penting di dunia pendidikan Indonesia.

1. Ki Hajar Dewantara

Lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889, pemilik nama Raden Mas Soewardi Suryaningrat ini dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara sendiri merupakan gelar yang ia sandang ketika berumur 40 tahun agar bisa lebih dekat dengan rakyat pribumi.

Sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara membangun sekolah dengan nama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa yang kemudian dikenal dengan nama Taman Siswa pada tahun 1922.

Selain itu, Ki Hajar Dewantara juga memiliki banyak pengalaman mengajar di sekolah bergengsi Belanda dan membawanya untuk menemukan konsep baru tentang metode pengajaran di Taman Siswa.

Bahkan, pasca kemerdekaan Ki Hajar Dewantara ditunjuk sebagai Menteri Pengajaran Indonesia dan dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Gadjah Mada.

2. R.A Kartini

Selanjutnya ada Raden Ajeng Kartini. Putri Bupati Jepara tersebut dipilih menjadi pahlawan nasional pendidikan karena pemikirannya tentang kaum wanita Jawa yang dapat mengenyam pendidikan dan memperoleh derajat sama dengan laki-laki.

Kartini juga mendirikan sebuah sekolah, hanya saja sekolahnya ditujukan untuk kaum perempuan. Ketika wafat, Kartini tidak hanya meninggalkan sekolah melainkan juga jejak pemikiran dalam surat-surat yang dibukukan oleh J.H Abendanon, salah satu sahabat pena Kartini.

3. K. H. Hasyim Asy'ari

Satu lagi tokoh pahlawan muslim yang berjuang di jalur pendidikan, Hasyim Asy'ari. Seorang ulama dan pahlawan nasional yang lahir pada 14 Februari 1871 itu memprakarsai berdirinya organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Beliau cukup peduli dengan pendidikan, terutama pendidikan umat muslim. Sepulangnya menimba ilmu di Makkah pada 1899, beliau mendirikan pesantren Tebu Ireng yang menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Pulau Jawa pada abad ke-20.

Nah, itulah peran penting pendidikan dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Lewat pendidikan, para pahlawan nasional dibekali senjata yang lebih berbahaya ketimbang senapan api. Mereka mengharumkan nama bangsa melalui pemikiran-pemikirannya.



Simak Video "Sosok Pahlawan Masa Kini di Perjalanan Kemerdekaan"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia