Biografi Singkat Moh. Hatta, dari Bangku Sekolah ke Kuliah

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 14 Agu 2022 13:00 WIB
Mohammad Hatta.
Biografi Mohammad Hatta dari masa sekolah hingga kuliah. Foto: Wikimedia Commons
Jakarta -

Dr. (H.C.) Drs. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902 dari pasangan anak guru agama kenamaan dan anak pedagang sukses, H. Moh. Jamil dan Siti Saleha. Ia merupakan anak kedua setelah Rafi'ah, kakak perempuannya yang lahir pada 1900.

Hatta bernama Mohammad 'Athar, yang artinya harum. Sehari-hari dipanggil Atta, jadilah namanya berubah jadi Moh. Hatta. Saat Hatta usia 7 bulan, ayahnya meninggal di usia 30 tahun, seperti dikutip dari Biografi Singkat Mohammad Hatta oleh Rohmat.

Hatta kecil tidak punya banyak teman karena tidak diperbolehkan bermain oleh neneknya. Namun ketika sudah punya teman, ia akan menjadikannya sahabat akrab, tidak membedakan si kaya dengan si miskin.

Moh. Hatta saat Sekolah

Hatta punya semangat belajar yang tinggi. Ia sudah membaca dan menulis sebelum masuk Sekolah Rakyat (SR). Saat umurnya sudah cukup ia masuk SR dan duduk satu kelas dengan kakaknya, Rafi'ah.

Sore hari selepas sekolah, Hatta belajar bahasa Belanda. Usai salat Maghrib, ia belajar mengaji di surau.

Hatta hanya sekolah di SR hingga tahun ketiga. Di tengah tahun ajaran, ia disuruh pindah ke sekolah Belanda, Eurepeesche Lagere School (ELS) dan diterima di kelas 2. Guru bahasa Belanda Hatta menyuruhnya pindah karena menganggap Hatta sudah bisa berbahasa Belanda dengan baik.

Umumnya, murid ELS adalah anak-anak Belanda, anak-anak Indonesia kaya, terpandang, atau anak-anak Indonesia dari pegawai pemerintah. Kendati Hatta merasa canggung, ia dapat menyesuaikan diri dan lulus di tahun 1916.

Hatta ingin lanjut sekolah ke Hogere Burger School (HBS) di Jakarta. Namun, sang ibu menyuruh Hatta lanjut sekolah di Padang saja, di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang setara SMP. Jarak Padang-Bukittinggi tidak terlalu jauh sehingga ibunya masih dapat mengawasi.

Hatta sempat menolak dan tidak ingin lanjut sekolah. Ia bahkan melamar pekerjaan dan diterima di kantor pos. Sang paman yang mengetahui hal ini lalu berhasil membujuk Hatta untuk melanjutkan sekolah sesuai keinginan ibunya.

Tamat MULO, sang ibu tidak lagi melarangnya sekolah di kota besar seperti Jakarta. Ia pun lanjut sekolah di Prins Hendrik School (PHS) Jakarta, tinggal di rumah paman jauhnya yang seorang pedagang, Ayub Rais. Hatta sering berdiskusi dengan Ayub Rais untuk menguji pelajaran di sekolah dengan pengalaman pamannya saat berdagang.

Tahu keponakannya cerdas dan berpengetahuan luas, Ayub Rais berjanji menyekolahkan Hatta ke Belanda. Hatta pun sering dibelikan buku.

Berangkat Kuliah ke Belanda

Tamat sekolah di PHS pada 1921, Hatta bersiap pergi ke Belanda sambil menanyakan saran guru-guru Belandanya. Stigter, salah satu guru, justru menyarankan Hatta bekerja saja karena ada kebutuhan pegawai perusahaan dengan gaji besar. (detik.com/tag/hatta)

Sementara itu, De Kock, mantan guru Hatta lainnya, mendukung keinginannya.

"Uang mudah kau cari. Kesempatan menuntut ilmu jarang bersua. Kau masih muda. Belajarlah dengan rajin. Saya doakan semoga kau berhasil," kata De Kock.

Nasihat De Kock menguatkan Hatta, tetapi usaha dagang pamannya sedang tidak bagus. Uang tabungan untuk studi Hatta ke Belanda pun terpakai untuk kebutuhan lain. Saat meminta beasiswa pemerintah, surat permohonannya terlambat diajukan.

Tidak putus akal, Hatta menemui Stokvis, Inspektur Perguruan Menengah. Stokvis lalu mengontak Yayasan van Deventer. Yayasan ini rupanya mau memberikan beasiswa pada Hatta setelah ia tiba di Belanda, tetapi biaya perjalanan ditanggung sendiri.

Hatta pun bersiap ke Belanda dengan uang tabungannya dari uang belanja. Ayub Rais dan keluarga di kampung halaman pun memberikan sejumlah bekal uang.

Anggota Organisasi Mahasiswa Indische Vereeniging

September 1921, Hatta menjadi anggota Indische Vereeniging. Kelompok ini merupakan organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda yang berdiri sejak 1908, terpengaruh berdirinya Boedi Oetomo di Jakarta di tahun yang sama. Indische Vereeniging bertujuan untuk menumbuhkan persatuan di antara sesama mahasiswa Indonesia di Belanda.

Di organisasi ini, Hatta belajar dari kisah-kisah tiga serangkai Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker (Danudirdja Setiabudi) tentang rakyat Indonesia yang makin menderita karena pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang.

Anggota Indische Vereeniging belajar bahwa kendati mereka dapat hidup senang dan bersekolah tinggi, banyak warga buta huruf dan hidup sengsara yang masih harus dibantu dari penderitaan dan penjajahan. Nama perkumpulan pun mereka ganti menjadi Indonesische Vereeniging, lalu menjadi Perhimpunan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Putra, diganti nama jadi Indonesia Merdeka.

Menjadi ketua Perhimpunan Indonesia pada 1926, Hatta menghadiri kongres-kongres internasional pemuda dari negara-negara yang ingin merdeka dari penjajahan. Pemerintah kolonial menganggap Hatta berbahaya karena tulisannya yang mengecam pemerintah dapat membangkitkan pemberontakan rakyat.

Pada 1927, Hatta ditangkap bersama pengurus PI lainnya, Nazir Datuk Pamuncak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Kadir Joyodiningrat, dan dipenjarakan di Rotterdam selama 5 bulan.

Belajar di Penjara

Hatta boleh membawa buku di penjara. Di sana, ia pun belajar dan menyusun pembelaan untuk dikemukakan di pengadilan. Ia dan kawan-kawannya dibantu tiga ahli hukum sebagai pembela, dan dituntut 3 tahun penjara oleh jaksa. Walau hakim belum memberi keputusan di sidang pertama pada 8 Maret 1928, mereka diizinkan meninggalkan penjara.

Di sidang kedua, Hatta mengutarakan naskah pembelaan berbahasa Belanda berjudul Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka). Di sana, ia menguraikan nasib bangsa karena penjajahan Belanda dan tujuan PI untuk mencapai kemerdekaan Indonesia dengan perjuangan politik, tanpa kekerasan dan tanpa menghasut rakyat untuk melakukan pemberontakan.

Pengadilan yang tidak mampu membuktikan kesalahan mereka lalu membebaskan Moh. Hatta dan pengurus PI. Setiap tahun, Hatta dipilih kembali menjadi ketua PI hingga 1930. Namun, ia menolak pada 1931 karena akan menghadapi ujian sarjana dan berusaha membantu tanpa menjadi ketua, sambil aktif mengikuti kongres pemuda.

Kelak, Moh. Hatta mendidik anggota muda PI untuk menjadi pemimpin, antara lain Sutan Sjahrir, Abdullah Syukur, dan Rusbandi.



Simak Video "KuTips: Cara Kilat Nyatet Otomatis Tanpa Repot Ngetik"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia