Benarkah Jarak Matahari ke Bumi Semakin Dekat?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Rabu, 10 Agu 2022 16:00 WIB
Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah menemukan exoplanet yang mengorbit di satu bintang tunggal seperti di tata surya tempat manusia hidup. Planet berbatu tersebut dapat mendukung keberadaan air cair dan NASA mengatakan planet ini sangat mirip dengan Bumi.
Foto: Screenshot via web Nasa.Gov/Benarkah Jarak Matahari ke Bumi Semakin Dekat?
Jakarta -

Matahari bergerak sedemikian rupa melintasi langit sehingga jarak rata-rata antara Bumi dan matahari tidak statis dari tahun ke tahun. Apa penyebabnya?

Dikutip dari LiveScience, jarak Matahari ke Bumi yang tidak statis bukan menjadi semakin dekat. Namun, Matahari justru semakin jauh dari Bumi dari waktu ke waktu.

Menurut penjelasan Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA), rata-rata Bumi berjarak sekitar 93 juta mil (150 juta kilometer) dari matahari.

Namun, orbitnya tidak melingkar sempurna; itu sedikit elips, atau berbentuk oval. Ini berarti jarak Bumi dari matahari dapat berkisar dari sekitar 91,4 juta hingga 94,5 juta mil (147,1 juta hingga 152,1 juta km).

Penyebab Jarak Matahari ke Bumi yang Menjauh

Adapun jarak yang semakin jauh ini memiliki dua penyebab utama. Salah satunya adalah bahwa matahari kehilangan massa.

Sedangkan penyebab kedua karena melibatkan gaya yang sama, yang menyebabkan pasang surut di Bumi.

1. Matahari Menyusut

Reaksi fusi nuklir yang menggerakkan matahari mengubah massa menjadi energi, mengikuti persamaan Einstein yang terkenal E = mc^2.

Karena matahari terus-menerus menghasilkan energi, ia juga terus kehilangan massanya. NASA memperkirakan sisa masa hidup matahari sekitar 5 miliar tahun lagi.

Brian DiGiorgio, seorang astronom di University of California, Santa Cruz, juga memprediksi bahwa matahari akan kehilangan sekitar 0,1% dari total massanya sebelum dimulai untuk mati.

"Meskipun 0,1% mungkin tidak terdengar banyak, ini massa yang banyak. Massanya kira-kira sama dengan massa Jupiter," kata DiGiorgio. Padahal massa di Jupiter sekitar 318 kali massa Bumi.

DiGiorgio juga menjelaskan bahwa kekuatan tarikan gravitasi suatu benda sebanding dengan berapa banyak massa yang dimilikinya.

"Karena matahari kehilangan massa, tarikannya ke Bumi melemah, membuat planet kita menjauh dari bintang kita sekitar 2,36 inci (6 sentimeter) per tahun," jelasnya.

"Ini cukup diabaikan, terutama dibandingkan dengan variasi normal dalam jarak orbit Bumi yang terjadi karena orbitnya yang sedikit elips - sekitar 3%," imbuh DiGiorgio.

2. Pengaruh Pasang Surut

Sama seperti tarikan gravitasi bulan menghasilkan pasang surut di Bumi, begitu pula gravitasi bumi menarik matahari.

Seperti yang diketahui, Matahari berputar pada porosnya setiap 27 hari sekali. Karena ini lebih cepat dari 365 hari atau lebih yang dibutuhkan Bumi untuk menyelesaikan orbit mengelilingi matahari, tonjolan pasang surut yang dihasilkan Bumi saat matahari berada di depan Bumi.

Apakah Bisa Memengaruhi Iklim?

DiGiorgio mengatakan, saat Bumi menjauh dari Matahari, cahaya Matahari akan menjadi lebih redup.

Mengingat bahwa jarak Bumi dari matahari dapat tumbuh sebesar 0,2% selama 5 miliar tahun ke depan.

"Peredupan ini sesuai dengan pengurangan 0,4% energi matahari yang mengenai permukaan bumi. Ini relatif kecil dibandingkan dengan variasi normal dalam kecerahan matahari yang terjadi karena orbit elips Bumi, jadi tidak perlu terlalu dikhawatirkan," tuturnya.



Simak Video "Deretan Peristiwa Masa Lalu yang Bikin Bumi Hampir Kiamat "
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia