Gerakan Non-Blok atau GNB: Sejarah, Negara Pendiri, dan Peran Indonesia

Rafi Aufa Mawardi - detikEdu
Selasa, 09 Agu 2022 12:00 WIB
Konferensi Asia Afrika digelar di Bandung pada 18-24 April 1955. Salah satu pertemuan internasional terbesar pada masanya itu dihadiri sejumlah pemimpin dunia.
Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 merupakan cikal bakal berdirinya Gerakan Non Blok (Foto: Dok. asianafricanmuseum.org)
Jakarta -

Hai detikers, tahukah kamu jika Indonesia merupakan negara yang memiliki andil besar dalam perdamaian dunia? Yap, salah satu momentum penting yang membuat Indonesia harum namanya di dunia internasional adalah Gerakan Non-Blok atau GNB.

Apa itu Gerakan Non-Blok adalah suatu organisasi internasional yang terdiri lebih dari 100 negara-negara yang menganggap dirinya tidak beraliansi dengan kekuatan besar apapun. Dalam hal ini, Indonesia merupakan salah satu negara yang menginisiasi berdirinya organisasi ini bersama beberapa negara-negara lain.

Sejarah Gerakan Non-Blok

Awalnya, organisasi Gerakan Non-Blok ini lahir pasca Perang Dunia ke-2 yang menghancurkan berbagai ekosistem dan sektor-sektor penting. Dalam konteks politik, Perang Dunia ke-2 ini membentuk fragmentasi dari negara-negara yang terasosiasi dalam dua blok.

Blok tersebut dikenal dengan Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan paham liberalisme-demokrasi dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet dengan ideologi sosialisme-komunisme. Ada 8 negara yang ikut dalam Blok Barat, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, Luxemburg, Norwegia, dan Kanada.

Di lain sisi, Blok Timur juga memiliki beberapa negara masuk ke dalam sistem, yakni (Uni Soviet, Cekoslovakia, Rumania, dan Jerman Timur. Kemudian, mengapa dua negara ini yang memimpin? Karena Amerika Serikat dan Uni Soviet merupakan negara pemenang di Perang Dunia ke-2 dan berambisi melebarkan pengaruhnya ke negara-negara lain di dunia.

Dalam upaya melakukan hegemoni pengaruh yang masif kepada negara-negara lain di dunia, maka Blok Barat membentuk NATO (North Atlantic Treaty Organization) dan Blok Timur membentuk Pakta Warsawa. Tidak hanya sampai disitu, kedua blok ini masih tetap mencari sekutu untuk menambah pertahanannya di Asia, Afrika dan Amerika.

Atas dasar ini, ada beberapa negara yang tidak ingin berpihak kepada Blok Barat dan Blok Timur atau netral. Akhirnya, negara-negara ini mendirikan Gerakan Non-Blok (GNB) yang memiliki sikap geopolitik yang putih, netral, dan tidak memihak kepada kedua blok tersebut.

Hingga Gerakan Non-Blok resmi ditetapkan pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) I di Beograd, Yugoslavia pada 1-6 September 1961.

Pendiri Gerakan Non-Blok

Ada lima negara pendiri atau pemrakarsa Gerakan Non-Blok yang diwakili oleh para pemimpin negara, yaitu:

  1. Presiden Sukarno (Indonesia)
  2. Presiden Gamal Abdul Nasser (Republik Persatuan Arab-Mesir)
  3. PM Pandit Jawaharlal Nehru (India)
  4. Presiden Joseph Broz Tito (Yugoslavia)
  5. Presiden Kwame Nkrumah (Ghana)

Negara yang menjadi inisiator ini juga menerapkan prinsip fundamental dalam organisasi Gerakan Non-Blok, yaitu:

  • Saling menghormati integritas teritorial dan kedaulatan
  • Perjanjian non-agresi
  • Tidak mengintervensi urusan dalam negeri negara lain
  • Kesetaraan dan keuntungan bersama
  • Menjaga perdamaian

Peran Indonesia dalam Gerakan Non-Blok

Dikutip dari Modul Pembelajaran SMA Sejarah Indonesia Kelas XII (2020) yang disusun oleh Irma Samrotul Fuadah, Indonesia memiliki peran yang besar dalam Gerakan Non-Blok, yakni:

  1. Sebagai salah satu negara inisiator Konferensi Asia Afrika (KAA) yang merupakan cikal bakal digagasnya Gerakan Non-Blok
  2. Sebagai salah satu negara pengundang dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non-Blok yang pertama. Hal ini terjadi, karena Indonesia merupakan salah satu pendiri dan berperan besar dalam mengundang mengajak negara lain untuk bergabung dalam
  3. Menjadi ketua dan penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok yang ke X yang berlangsung pada 1-7 September 1992 di Jakarta dan Bogor.
  4. Indonesia berperan dalam dibukanya kembali dialog utara-selatan, yaitu dialog yang memperkuat hubungan antara negara berkembang (selatan) terhadap negara maju (utara)

Tujuan GNB atau Gerakan Non Blok

Dikutip dari situs resmi Kementerian Luar Negeri, tujuan utama GNB awalnya pada upaya dukungan bagi hak menentukan nasib sendiri, kemerdekaan nasional, kedaulatan, dan integritas nasional negara-negara anggota.

Selain itu, terdapat juga tujuan GNB adalah:

  1. Penentangan terhadap aparteid;
  2. Tidak memihak pada pakta militer multilateral;
  3. Perjuangan menentang segala bentuk dan manifestasi imperialisme;
  4. Perjuangan menentang kolonialisme, neo-kolonialisme, rasisme, pendudukan, dan dominasi asing; perlucutan senjata;
  5. Tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain dan hidup berdampingan secara damai;
  6. Penolakan terhadap penggunaan atau ancaman kekuatan dalam hubungan internasional; Pembangunan ekonomi-sosial dan restrukturisasi sistem perekonomian internasional;
  7. Kerja sama internasional berdasarkan persamaan hak.

Nah, itu merupakan sejarah Gerakan Non-Blok serta negara pendiri dan peran Indonesia yang sangat luar biasa. Semoga menambah wawasan detikers!



Simak Video "Peringatan KAA, Ratusan Bendera Negara Berkibar di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia