Apa Latar Belakang Terjadinya Peristiwa Rengasdengklok? Ini Penjelasannya

Rafi Aufa Mawardi - detikEdu
Kamis, 04 Agu 2022 07:00 WIB
Rengasdengklok berkaitan erat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Di sana terdapat rumah yang pernah disinggahi Soekarno-Hatta jelang proklamasi kemerdekaan.
Rengasdengklok berkaitan erat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Di sana terdapat rumah yang pernah menjadi tempat Sukarno-Hatta diungsikan jelang proklamasi kemerdekaan. (Foto: ANTARA FOTO/Muhamad Ibnu Chazar)
Jakarta -

Peristiwa Rengasdengklok merupakan momentum yang penting bagi Indonesia dalam perjalannya menuju kemerdekaan. Peristiwa ini menyimpan tensi yang panas dan argumentasi yang cukup keras dari golongan muda dan golongan tua. Tetapi, apa latar belakang terjadinya peristiwa Rengasdengklok?

Latar Belakang Terjadinya Peristiwa Rengasdengklok

Latar belakang terjadinya peristiwa Rengasdengklok dimulai dari kegiatan kunjungan dari Bung Karno, Bung Hatta, dan KRT. Wedyodiningrat ke Saigon. Mereka hadir berkunjung karena mendapatkan undangan langsung dari panglima militer Jepang yang bertugas di kawasan Asia Tenggara.

Ternyata, di saat yang bersamaan Jepang dinyatakan telah kalah dalam Perang Dunia ke-2 yang dimulai dari pengeboman di kota Hiroshima dan Nagasaki beberapa hari sebelumnya.

Setelah bocornya berita kekalahan Jepang oleh Sekutu, para kelompok yang terdiri dari golongan muda mengirimkan surat yang mendesak agar Sukarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Akan tetapi, Sukarno dan Hatta menolak desakan dari golongan muda yang menjadi cikal bakal peristiwa Rengasdengklok.

Alasan lain mengapa golongan muda begitu menginginkan agar segera diproklamasikan kemerdekaan adalah kekhawatiran bahwa Sekutu akan mendarat dan menjajah Indonesia kembali.

Dalam buku yang berjudul Detik-detik Proklamasi (2011) yang ditulis oleh Arifin Suryo Nugroho dan Ipong Jazimah, dijelaskan bahwa penolakan dari Bung Karno dan Bung Hatta menjadi dasar penculikan dari golongan muda ke Rengasdengklok.

Namun diksi "penculikan" ini banyak ditentang oleh beberapa pelaku sejarah seperti Latief Hendraningrat. Menurutnya, maksud para pemuda mengungsikan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok itu adalah upaya dari golongan muda untuk menjauhkan Bung Karno dan Bung Hatta dari kota Jakarta yang berpotensi untuk diintervensi oleh pimpinan militer dan pemerintah Jepang.

Desakan golongan muda dalam peristiwa Rengasdengklok pada golongan tua agar segera memproklamasikan kemerdekaan membawa berkah bagi bangsa Indonesia yakni mempercepat pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Golongan tua menginginkan rencana proklamasi harus dirapatkan lebih dulu dengan anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Adapun golongan muda berpendapat PPKI adalah organisasi bentukan Jepang meski anggotanya orang Indonesia. Kemerdekaan harus diraih dan diperjuangkan sendiri, lepas dari segala yang berbau buatan Jepang.

Lokasi Peristiwa Rengasdengklok

Kondisi geografis dari Rengasdengklok ini merupakan wilayah kecamatan yang letaknya sekitar 20 km di arah utara Karawang, Jawa Barat. Di mana letaknya cukup dekat di sisi sungai Citarum. Daerah ini termasuk wilayah pemasok beras di Karawang dan berdekatan dengan pantai dan tentunya kota Jakarta.

Peristiwa Rengasdengklok terjadi pada 16 Agustus 1945 jam 04.00 WIB. Usai rapat di Cikini 71, Jakarta, pada 15 Agustus 1945 malam, utusan golongan muda menemui Sukarno dan juga Hatta. Mereka mendesak agar proklamasi diadakan pada 16 Agustus 1945. Hanya saja Sukarno menolak dan berkeras akan dibahas dulu dengan wakil-wakil PPKI.

Gagal membujuk Sukarno, golongan muda sepakat untuk mengamankan Ir. Sukarno dan Mohammad Hatta ke luar kota demi menjauhkan dari pengaruh Jepang. Sukarno dan Hatta dibawa ke rumah milik Djiauw Kie Siong di Kampung Bojong, Rengasdengklok. Kie Siong adalah seorang petani kecil keturunan Tionghoa. Turut dibawa pula Fatmawati dan Guntur Sukarnoputra.

Mengapa Rengasdengklok dipilih untuk dijadikan tempat mengamankan Sukarno dan Hatta? Alasannya, pada zaman penjajahan Jepang, Rengasdengklok ini dijadikan sebagai tangsi Pembela Tanah Air (PETA) di bawah Purwakarta dan memiliki Daidan PETA di Jaga Monyet Rengasdengklok.

Letak Rengasdengklok pun terpencil. Sehingga jika ada gerakan Jepang menuju ke wilayah ini dapat segera dideteksi. Karena itu Rengasdengklok dianggap aman dari Jepang.

Atas pertimbangan militer ini, maka golongan muda yang diwakili tokoh-tokoh seperti Sukarni, Singgih, dan Jusuf Kunto membawa Bung Karno ke Rengasdengklok menggunakan mobil yang dikendarai oleh Iding (Winoto Danu Asmoro).

Sukarno dan Hatta tak sampai 24 jam berada di Rengasdengklok. Setelah ada kesepakatan golongan tua yang diwakili Achmad Soebardjo dengan Wikana, akhirnya tercapai kesepakatan bahwa kemerdekaan harus dideklarasikan di Jakarta. Soebardjo menjemput Sukarno-Hatta kembali ke Jakarta.

Pada 16 Agustus 1945 malam, di kediaman Laksamana Muda Maeda dirumuskanlah naskah teks proklamasi untuk dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Tokoh-tokoh dalam Peristiwa Rengasdengklok

Dalam peristiwa bersejarah ini, ada beberapa tokoh-tokoh sentral yang menjadi aktor penting dalam peristiwa Rengasdengklok pada hari-hari terakhir sebelum diproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kira-kira siapa saja tokohnya?

· Sukarno: Sebagai tokoh yang diculik dan didesak oleh golongan muda untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

· Mohammad Hatta: Bersama Bung Karno ke Rengasdengklok untuk secara kolektif merumuskan teks proklamasi.

· Achmad Soebardjo: Menjadi mediator antara dinamika perdebatan antara golongan muda dan golongan tua.

· Sukarni: Golongan muda yang menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.

· Jusuf Kunto: Ikut membuat rencana dan bersama Sukarni serta beberapa tokoh muda lain menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.

· Chairul Saleh: Sebagai pemimpin rapat penting dalam konteks menetapkan lokasi dan tanggal diproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

· Sayuti Melik: mengetik teks proklamasi yang disusun oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

· Subianto: Terlibat dalam rapat-rapat terakhir menjelang kemerdekaan Indonesia bersama golongan muda dan golongan tua.

Untuk mengenang peristiwa Rengasdengklok tepatnya di bekas markas kompi PETA, Kampung Bojong dibangun monumen atau tugu Rengasdengklok yang diresmikan 17 Agustus 1950. Monumen ini dikenal juga dengan sebutan Tugu Kebulatan Tekad yang kini menjadi wisata sejarah di Karawang.



Simak Video "Megawati Ingin Perbaiki Tendensi Bung Karno Komunis"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia