Cara Tak Biasa Orang Saleh dalam Mengingat Kematian

Kristina - detikEdu
Kamis, 28 Jul 2022 05:00 WIB
A realistic Arabian interior miniature with window and columns. Silhouette of muslim praying on carpet near window. Festive greeting card, invitation for Muslim holy month Ramadan Kareem. Selective focus
Ilustrasi orang saleh dalam mengingat kematian. Foto: Getty Images/iStockphoto/Zeferli
Jakarta -

Kematian adalah hal yang pasti akan dijumpai oleh setiap yang bernyawa sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al Ankabut ayat 57. Orang-orang saleh pada zaman dahulu memiliki cara sendiri dalam mengingat kematian.

Syaikh Majdi Muhammad asy-Syahawi menceritakan kisah salah satu khalifah Dinasti Umayyah yang berkuasa dari tahun 717 hingga 720 Masehi, Umar bin Abdul Aziz, dalam Sakarat al-Maut, Wa'izhah al-Maut Wa Syada'iduhu yang diterjemahkan oleh Fedrian Hasmand.

Konon, Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para ahli fikih setiap malam untuk mengingat tentang kematian, hari kiamat, dan akhirat. Kemudian, mereka saling menangis sedemikian rupa seolah-olah ada sesosok jenazah di hadapan mereka.

Dikisahkan pula, Umar bin Abdul Aziz juga pernah meminta kepada seorang ulama agar memberinya nasihat. "Berilah aku nasihat!" ucapnya.

"Anda bukanlah khalifah pertama yang mati," ujar sang ulama.

Umar berkata, "Tambahkan lagi nasihat untukku!"

"Tidak seorang leluhurmu pun, bahkan sampai Adam, yang tidak pernah merasakan kematian. Giliranmu pun sudah tiba," kata ulama tersebut.

Mendengar perkataan ulama tersebut, air mata Umar langsung bercucuran.

Tak hanya sampai di situ cara Umar bin Abdul Aziz dalam mengingat kematian. Ia juga pernah berkata kepada salah seorang teman yang sedang duduk bersamanya, "Hai fulan, aku tidak bisa tidur malam ini karena memikirkan kubur dan penghuninya."

"Seandainya kamu melihat mayat setelah tiga hari berada di dalam kuburnya, niscaya kamu merasa takut untuk dekat-dekat dengannya, padahal semasa hidupnya kamu sangat akrab dengannya," lanjutnya.

"Niscaya kamu juga melihat sebuah ruang sempit yang dikerubungi serangga jahat, di mana nanah mengalir dan cacing-cacing berpesta pora di tengah sergapan bau busuk dan basahnya kain kafan. Padahal, rupanya dulu begitu elok, aromanya harum, dan pakaiannya bersih," lanjut Umar. Setelah mengatakan hal itu, ia menangis sesenggukan, lalu jatuh pingsan.

Rabi' bin Khutsaim Menggali Kuburan dan Tidur di Dalamnya

Selain Umar bin Abdul Aziz, salah satu tabi'in yang utama dan termasuk delapan orang paling zuhud pada masanya, Ar-Rabi bin Khutsaim, juga memiliki cara tak biasa dalam mengingat kematian.

Rabi' bin Khutsaim pernah menggali kuburan di pekarangan rumahnya. Lalu, ia tidur di dalamnya berkali-kali setiap hari agar senantiasa mengingat kematian.

Dia juga pernah berkata, "Seandainya ingatan tentang kematian pergi meninggalkan hatiku sesaat saja, niscaya hatiku hancur!"

Amr bin Ash Salat Usai Melihat Sebuah Kuburan

Syaikh Majdi Muhammad asy-Syahawi turut menceritakan kisah orang saleh lainnya dalam mengingat kematian. Ia mengisahkan, sahabat Nabi Muhammad SAW, Amr bin Ash, mendirikan salat dua rakaat setelah melihat sebuah kuburan.

Kemudian, ada seseorang menegurnya, "Kamu tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya?"

Amr bin Ash menjawab, "Aku teringat akan penghuni kubur dan amal yang sudah tidak bisa lagi mereka lakukan. Maka aku ingin mendekatkan diri kepada Allah melalui dua rakaat salat."

Sementara itu, al-Hasan bin Shalih yang merupakan ahli fikih dan ahli ibadah, setiap kali melewati kuburan ia selalu mengucapkan salam kepada para penghuni kubur seraya berkata, "Alangkah indahnya tampilan luarmu, padahal banyak malapetaka di dalammu."

Berkaitan dengan kematian, Ibrahim at-Taimi mengatakan, "Dua hal yang memutuskan kenikmatan dunia dari diriku: mengingat kematian dan berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla."



Simak Video "Komnas HAM Akui Pernah Bertemu Ferdy Sambo: Dia Cuma Nangis"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia