Mengapa Suporter Sepakbola Sering Rusuh? Ini Jawaban Pakar Psikologi UGM

Nikita Rosa Damayanti - detikEdu
Rabu, 27 Jul 2022 11:30 WIB
Sejumlah suporter klub sepak bola Persebaya berunjuk rasa di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/11/2021). Mereka menuntut revolusi sistem persepak bolaan Indonesia yang sportif, jujur dan profesional. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj.
Unjuk rasa suporter bola. Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Jakarta -

Kerusuhan saat pertandingan sepakbola bukan hal yang jarang. Baru kemarin Senin (25/7), sempat terjadi kerusuhan di Kawasan Tugu dan Gejayan, Yogyakarta sebelum pertandingan Persis Solo versus Dewa United.

Ternyata, terdapat alasan mengapa suporter sepakbola identik dengan keurusuhan. Psikolog UGM, Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D., Psikolog menjelaskan, tindakan anarkis maupun vandalisme yang dilakukan oleh suporter sepak bola terjadi karena dipengaruhi oleh jiwa massa.

"Anarkisme yang terjadi pada suporter bola ini karena jiwa massa," jelasnya dikutip dari laman UGM, Selasa (26/7/2022).

Koentjoro menyampaikan bahwa seseorang atau individu dapat bersikap berbeda saat berada di tengah massa atau gerombolan. Ketika berada di tengah massa, individu akan terdorong untuk melakukan tindakan yang tidak akan dilakukan saat sedang sendiri.

"Jiwa massa ini timbul ketika berada di antara massa dan memunculkan perilaku aneh yang saat dia sendirian tidak akan berani melakukan hal-hal itu. Apalagi ditambah dengan mengenakan pakaian atau atribut yang kemudian menggambarkan itu adalah satu bagian," ujarnya.

Berkerumun ditambah dengan adanya atribut kelompok massa, dikatakan Koentjoro mendorong seseorang berani melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan saat sendiri. Tak hanya pada suporter bola, hal itu juga terjadi pada kerumunan massa lainnya seperti kampanye maupun demo.

"Misalnya saja di tengah demo atau kampanye ada pemimpin yang meneriakkan kata-kata dan melakukan gerakan tertentu secara tidak sengaja atau tak disadari akan tertular. Orang seringkali kehilangan kesadaran saat sudah berkumpul karena terhipnotis lingkungan," paparnya.

Bagaimana Cara Mencegah Kerusuhan Massa?

Guna mencegah kericuhan massa, Koentjoro menyebutkan pentingnya upaya pengendalian massa. Pengengendalian massa bisa dilakukan dengan memecah massa dalam kelompok-kelompok lebih kecil agar jiwa massa tidak terlalu solid.

"Penting memecah massa agar massa tidak terkonsentrasi menjadi satu,"imbuhnya.

Ia mengatakan aparat keamanan dapat membuat pengaturan waktu kepulangan suporter dalam beberapa kloter. Selain itu, aparat juga bisa mengatur rute untuk memecah kerumunan.

"Kalau jiwa sudah dikendalikan massa itu kan susah apalagi kalau ada penyusup dengan tujuan tertentu seperti adu domba atau pun buat konten biar virak. Ini kan mengerikan jadi untuk mencegah kericuhan perlu memecah konsentrasi massa baik lewat pengaturan waktu ataupun rute," pungkas dosen pengajar Psikologi Sosial UGM itu.



Simak Video "Horor Ricuh Berdarah di Penjara Ekuador, 13 Tahanan Tewas"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia