Antrean Haji Malaysia sampai 141 Tahun, Kok Bisa?

Devi Setya - detikEdu
Jumat, 22 Jul 2022 14:45 WIB
Jamaah haji 2022
Ilustrasi jamaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci Foto: (dok AP I)
Jakarta -

Umat muslim Indonesia yang ingin berangkat ibadah haji harus sabar menunggu keberangkatan maksimal 43 tahun untuk kuota 100 persen. Lain lagi dengan Malaysia yang harus rela antre hingga 141 tahun.

Antrean super lama untuk jamaah haji Malaysia ini salah satunya disebabkan oleh aturan ketat yang diberlakukan oleh pemerintah. Bahkan ketika kuota haji dibatasi 50 persen maka antrean jamaah asal Malaysia bisa mencapai 300 tahun.

Tentu angka ini sangat mencengangkan, apalagi usia manusia terbatas dan sangat jarang yang bisa mencapai 100 tahun. Apa saja penyebabnya?

Dilansir dari situs resmi Kemenag (22/7) calon jamaah haji asal Indonesia memiliki masa tunggu haji paling lama 43 tahun untuk kuota 100 persen atau 86 tahun untuk kuota 50 persen. Kuota 50 persen ini ditetapkan sebagai aturan selama pandemi COVID-19.

"Di Malaysia 141 tahun masa tunggu. Kalau kuota 50 persen (seperti tahun ini) masa tunggu bisa hampir 300 tahun," ujar Dato' Sri Syed Saleh Syed Abdul Rahman, Ketua Rombongan Haji (Tabung Haji) Malaysia, Kamis (21/7/2022).

Pernyataan Syed Saleh Syed Abdul Rahman ini disampaikan ketika memimpin rombongan tim haji Malaysia berdialog dengan tim Haji Indonesia di PPIH Daerah Kerja Makkah.

Berdasarkan data haji Malaysia 2022, tahun ini Malaysia memberangkatkan 14.600 jemaah, sedang Indonesia 100.051 jemaah. Jika kuota normal, jemaah yang diberangkat dari Malaysia sebanyak 31 ribu, Indonesia lebih dari 200 ribu.

Calon jamaah haji gemuk tak boleh berangkat

Banyak hal yang membuat antrean calon jamaah haji Malaysia ini memanjang, salah satunya karena aturan ketat yang diberlakukan. Misalnya, Malaysia melarang penderita penyakit tertentu berangkat haji. Bahkan orang dengan obesitas atau kegemukan juga menjadi salah satu syarat yang pantang dilanggar.

"Ada aturan Body Mass Index (BMI) dihitung 40 ke atas tidak boleh berangkat. 35-40 kalau punya penyakit bawaan juga tidak dibenarkan berangkat," ujarnya.

BMI adalah cara menghitung berat badan ideal berdasarkan tinggi dan berat badan dengan menggunakan rumus tertentu.

Selain obesitas, calon jemaah yang memiliki penyakit bawaan, seperti kencing manis dan darah tinggi, yang tidak terkontrol juga dilarang berangkat.

Proses pemeriksaan kesehatan juga dilakukan hingga dua kali . Selain juga pemeriksaan PCR terkait Covid-19.

"Ini yang membuat kita tidak ada jemaah yang sakit. Alhamdulillah jemaah datang sehat. Urusan ibadah juga mudah tidak ada yang tertinggal tidak ada yang jalan lambat," ujarnya.

Tim khusus yang memeriksa kesehatan calon jamaah haji

Karena diberangkatkan dalam keadaan sehat inilah, jamaah haji asal Malaysia sangat sedikit yang meninggal dunia. Untuk tahun ini jumlah jemaah haji asal Malaysia yang meninggal di Arab Saudi hanya 1 jemaah.

Pemerintah Malaysia mengumpulkan pada ahli kesehatan untuk merumuskan penyakit bawaan apa saja yang dilarang bagi jemaah haji. Jika lolos tes kesehatan maka jamaah haji bisa diberangkatkan.

"Sebelum bulan puasa, kita sudah kumpulkan pakar kesehatan. Mereka merumuskan dan kita tinggal jalankan untuk kriteria jemaah seperti apa," kata dia.

Perbedaan jamaah haji Indonesia dan Malaysia

Terdapat sedikit perbedaan antara jamaah haji Malaysia dan Indonesia. Jamaah Indonesia mendapatkan program Arbain, yakni salat 40 waktu berjamaah di Masjid Nabawi Madinah. Sementara jamaah haji Malaysia tidak mendapatkan kesempatan ini.

Dihapusnya program Arbain adalah dengan alasan ibadah ini sunah dan untuk efisiensi waktu.

"Sudah 10 tahun arbain kita hilangkan dari buku-buku panduan haji di Malaysia," ujarnya.

Tim haji Indonesia yang sigap dan cekatan

Jumlah jamaah haji Indonesia memang tiga kali lipat dari Malaysia namun panitia tim haji diklaim sigap dan cekatan membantu para jamaah haji.

Pihak Tabung Haji Malaysia memuji tim haji Indonesia. Dengan jumlah jamaah lebih tiga kali lipat, petugas haji Indonesia bisa melayani dengan baik.

Tim haji Malaysia juga memuji kesiagaan tim kesehatan haji Indonesia yang menyiagakan beberapa ambulan khusus jemaah, utamanya saat Safari Wukuf. Hal itu belum bisa dilakukan Malaysia.

Kuota haji Indonesia lebih besar

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI Hilman Latief mengatakan secara umum pelaksanaan haji di Indonesia dan Malaysia sama.

Untuk waktu tunggu, Indonesia lebih beruntung karena mendapatkan kuota lebih besar. Hanya di Indonesia aturan untuk jemaah tidak bisa seketat Malaysia. "Kami di Indonesia tidak bisa menuangkan kalau berat badan pun ditentukan," ujar Hilman Latief.

Waktu tunggu calon jamaah haji Indonesia juga beragam dan berbeda setiap daerahnya. Jadi jika ada calon jamaah haji yang mendaftar di tahun 2020, maka belum tentu akan berangkat di tahun yang sama.



Simak Video "Kasus 46 Calon Dideportasi Saudi, Apa Itu Haji Furoda?"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia