Bagaimana Hukum Orang Mampu yang Tidak Berkurban saat Idul Adha? Ini Penjelasannya

Devi Setya - detikEdu
Kamis, 07 Jul 2022 14:45 WIB
Presiden RI Joko Widodo menyumbang hewan kurban sapi di Masjid Al Akbar Surabaya. Sapi yang disumbang Jokowi berbobot 1.242 kg.
Ilustrasi sapi kurban yang siap disembelih saat Idul Adha Foto: Faiq Azmi/detikcom
Jakarta -

Momen Idul Adha menjadi waktu yang dinanti banyak umat muslim, terutama bagi yang berniat menjalani ibadah kurban. Ibadah kurban hukumnya adalah sunah muakkad atau sunah yang dikuatkan.

Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Dilansir dari situs resmi Nadhlatul Ulama (NU) ketentuan kurban sebagai sunah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi'i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan safar (bepergian), hukumnya adalah wajib. (Ibnu Rusyd al-Hafid: tth: 1/314).

Anjuran berkurban ditujukan bagi semua umat muslim, terutama bagi yang mampu secara ekonomi. Meskipun demikian, faktanya masih ada saja orang yang mampu secara finansial namun masih enggan menjalani kurban.

Dalam hadist Ibnu Abbas, beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda

ثَلَاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ اَلْوِتْرُ وَالنَّحَرُ وَصَلَاةُ الضُّحَى

Artinya: "Tiga hal yang wajib bagiku, sunah bagi kalian yaitu shalat witir, kurban, dan shalat Dhuha" (HR Ahmad dan al-Hakim).

Abu Hanifah berpendapat bahwa kurban hukumnya wajib bagi setiap orang mukim yang mampu kecuali orang yang sedang melaksanakan haji di Mina. Yang dimaksud mampu adalah orang yang memiliki harta lebih senilai nishabnya zakat mal, yaitu 200 Dirham, yang melebihi kebutuhan pokok dirinya dan pihak yang wajib ditanggung nafkahnya.

Syekh al-Imam al-Nawawi berkata:

وقال ربيعة والليث بن سعد وأبو حنيفة والأوزاعي واجبة على الموسر إلا الحاج بمنى. وقال محمد بن الحسن هي واجبة على المقيم بالأمصار والمشهور عن أبي حنيفة أنه إنما يوجبها على مقيم يملك نصابا

Artinya: "Dan berkata Rabi'ah, al-Laits bin Sa'ad, Abu Hanifah dan al-Auza'i, berkurban adalah wajib atas orang yang kaya kecuali jamaah haji di Mina". Berkata Muhammad bin al-Hasan bahwa kurban adalah wajib atas orang yang bermukim di kota-kota, yang masyhur dari Abu Hanifah bahwa beliau hanya mewajibkan kurban bagi orang mukim yang memiliki satu nishab (200 dirham)" (al-Imam al-Nawawi, al-Majmu', juz.9, hal. 290).

Dikutip dari buku Ensiklopedia Hadits Ibadah Shalat Sunnah dan Perkara Lain Mengenai Shalat karya Syamsul Rijal Hamid (6/7) Rasulullah SAW bersabda dalam beberapa hadist.

Rasulullah SAW telah bersabda "aku diperintahkan menyembelih kurban dan kurban itu sunah bagimu" (HR. Daruqutni).

Sebagian ulama berpendapat bahwa qurban hukumnya wajib. Mereka menggunakan dasar hukum sebagai berikut, yang artinya :

"Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang memiliki kemampuan, tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia menghampiri tempat shalat kami" (H.R. Ahmad)

Hadits di atas menjadi sandaran ulama dalam berpendapat bahwa kurban itu wajib bagi orang kaya.

Sepintas antara kedua hadits yang pertama riwayat Daruquthni bertentangan dengan hadits terakhir riwayat Ahmad. Namun, sebenarnya tidak. Dua hadits pertama merupakan pijakan agar orang kaya yang masih banyak beban utang tidak berkurban dengan rasa terpaksa. Bukankah banyak orang yang dalam pandangan kita kaya karena rumahnya besar dan memiliki banyak kendaraan, tetapi ternyata itu semua masih kredit?

Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda bahwa kurban itu sunah. Akan tetapi, bagi orang yang benar-benar mampu dan tidak memiliki tanggungan utang besar, ia wajib berkurban.

Lantas seperti apa orang dianggap mampu secara finansial?

Dilansir dari CNN (6/7) mayoritas ulama mengatakan bahwa perintah ibadah kurban termasuk sunah muakkad, yang berarti tidak kurban, tidak apa-apa. Tetapi, Mazhab Hanafi menyatakan bahwa kurban diwajibkan bagi orang yang mampu, hal ini disampaikan Ustaz M. Yusuf Siddik.

Lebih lanjut ia menambahkan, jika seseorang memiliki harta tunai maupun non-tunai yang cukup, ia dapat berkurban. Misalnya, ia memiliki uang tunai yang melimpah, maka ia wajib untuk berkurban. Ini juga berlaku bagi orang yang juga memiliki harta non-tunai, seperti mobil mewah, tanah, atau barang yang bernilai tinggi yang dapat diuangkan.

Bagi seseorang yang mempunyai uang senilai harga hewan kurban akan tetapi kebutuhan pokok bagi dirinya dan pihak yang wajib dinafkahi akan kekurangan di saat hari raya Idul Adha atau hari tasyrik, maka ia bukan tergolong mampu berkurban.



Simak Video "Ma'ruf Amin Imbau Peternak Siapkan Hewan Kurban Bebas PMK"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia