ADVERTISEMENT

Guru Besar UGM: Ganja Tidak Perlu Dilegalisasi

Nikita Rosa Damayanti Waluyo - detikEdu
Kamis, 07 Jul 2022 13:15 WIB
Tanaman ganja.
Di tengah desakan kebutuhan ganja medis, pakar UGM menjelaskan ketidaksetujuannya atas legalisasi ganja untuk kebutuhan medis. Foto: Agus Setyadi/detikSumut
Jakarta -

Polemik ganja medis semakin mencuat dalam beberapa waktu terakhir. Viralnya seorang ibu dengan anak penderita cerebral palsy mendesak pemerintah segera melegalkan ganja untuk terapi.

Menyikapi kondisi tersebut, Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik UGM Prof. Apt. Zullies Ikawati tidak setuju terhadap upaya legalisasi ganja meskipun dengan alasan untuk tujuan medis. Mengapa demikian?

Zullies mengatakan, ganja yang digunakan dalam bentuk belum murni seperti simplisia atau bagian utuh dari ganja masih mengandung senyawa utama tetrahydrocannabinol (THC) yang bersifat psikoaktif. Artinya, kandungan ini bisa mempengaruhi kondisi psikis pengguna dan menyebabkan ketergantungan serta berdampak pada mental.

"Ganja sebagai tanaman dan bagian-bagiannya mestinya tetap tidak bisa dilegalisasi untuk ditanam dan diperjualbelikan karena masuk dalam narkotika golongan 1," jelas Zullies, dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (6/7/2022).

Ia menyampaikan bahwa yang dapat dilegalkan atau diatur adalah senyawa turunan ganja seperti cannabidiol yang tidak memiliki aktivitas psikoaktif. Senyawa ini dapat digunakan sebagai obat dan bisa masuk dalam narkotika golongan 2 atau 3.

Zullies juga mencontohkan penggunaan ganja medis dari obat-obatan golongan morfin. Morfin berasal dari tanaman opium yang menjadi obat legal selama melalui resep dokter.

Morfin digunakan dalam pengobatan nyeri kanker yang sudah tidak merespons lagi obat analgesik lainnya. Namun begitu, opium tetap masuk golongan narkotika golongan 1 karena memiliki potensi penyalahgunaan yang besar.

Meski demikian, Zullies menekankan bahwa ganja medis bukanlah obat satu-satunya yang bisa mengatasi kejang pada tubuh seseorang. Oleh sebab itu, ganja medis disarankan sebagai obat alternatif atau bukan obat utama yang baru digunakan jika obat lain sudah tidak berefek bagi pasien.

"Jadi saya pribadi say no untuk legalisasi ganja walau dengan alasan memiliki tujuan medis. Komponen ganja yang bersifat obat seperti cannabidiol bisa digunakan sebagai obat, namun jadi alternatif terakhir," tegasnya.

Dalam melegalisasi ganja menjadi obat, Zulies menerangkan bahwa prosedur harus mengikuti kaidah pengembangan obat. Legalisasi ganja medis harus didukung dengan adanya data-data uji klinis terkait, dalam bentuk obat yang terukur dosisnya, serta didaftarkan ke BPOM.

"Untuk ganja tidak bisa menggunakan regulasi seperti obat herbal lainnya yang tidak mengandung senyawa psikoaktif," terang Guru Besar UGM itu.



Simak Video "Komisi III Rapat Bareng Santi Warastuti, Bahas Legalisasi Ganja Medis"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/twu)

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia