ADVERTISEMENT

Sejarah Bank Indonesia & Bank Pertama di Nusantara, Sudah Ada Sejak Masa VOC?

Fahri Zulfikar - detikEdu
Rabu, 06 Jul 2022 13:15 WIB
FILE PHOTO: FILE PHOTO: Bank Indonesias logo is seen at Bank Indonesia headquarters in Jakarta, Indonesia, September 2, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana/File Photo/File Photo
Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana/Sejarah Bank Indonesia & Bank Pertama di Nusantara, Sudah Ada Sejak Masa VOC?
Jakarta -

Tanggal 5 Juli diperingati sebagai Hari Bank Indonesia. Pada tahun 2022, Bank sentral di Indonesia ini menginjak usia 69 tahun. Bagaimana sejarah pendiriannya?

Melansir laman Direktorat SMP Kemdikbud RI, bank pertama di Nusantara berdiri pada tahun 1746 dengan nama Bank van Courant en Van Leening.

Bank ini memiliki tugas untuk memberikan pinjaman dengan jaminan emas, perak, perhiasan, dan barang-barang berharga lainnya.

Kemudian pada tahun 1752, Bank van Courant disempurnakan menjadi De Bank van Courant en Bank van Leening. Tugasnya adalah memberikan pinjaman kepada pegawai VOC agar mereka dapat menempatkan dan memutarkan uang mereka pada lembaga ini.

Hal ini dilakukan dengan memberikan imbalan bunga. Namun sayangnya pada tahun 1818 Bank Courant en Bank Van Leening terpaksa tutup karena krisis keuangan.

Cikal Bakal Bank Indonesia

Pada tahun 1828, tepatnya setelah Bank Courant en Bank Van Leening tutup, berdirilah De Javasche Bank yang menjadi cikal bakal Bank Indonesia.

Pada saat itu, pemerintah Kerajaan Belanda memberikan octroi atau hak-hak istimewa kepada De Javasche Bank (DJB) untuk bertindak sebagai bank sirkulasi.

Sebagai bank sirkulasi, DJB memiliki kewenangan untuk mencetak dan mengedarkan uang Gulden di wilayah Hindia Belanda Octrooi secara periodik diperpanjang setiap 10 tahun sekali.

Saat itu De Javasche Bank juga menjadi bank sirkulasi pertama di Asia. Pada tahun 1922 Pemerintah Belanda menerbitkan undang-undang De Javasche Bank Wet.

Membentuk Bank Sirkulasi BNI

Setelah Indonesia berhasil merdeka pada tahun 1945, sesuai mandat yang tertulis dalam penjelasan UUD 45 pasal 23, maka Pemerintah Republik Indonesia membentuk bank sirkulasi yaitu Bank Negara Indonesia (BNI).

Sebagai upaya menegakkan kedaulatan ekonomi, BNI menerbitkan uang dengan nama Oeang Republik Indonesia (ORI).

Pada tahun 1951, muncul desakan kuat untuk mendirikan bank sentral sebagai wujud kedaulatan ekonomi Republik Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk membentuk Panitia Nasionalisasi DJB. Proses nasionalisasi dilakukan melalui pembelian saham DJB oleh Pemerintah RI, dengan besaran mencapai 97%.

Pemerintah RI pada tanggal 1 Juli 1953 menerbitkan UU No.11 Tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia, yang menggantikan DJB Wet Tahun 1922.

Maka sejak 1 Juli 1953 Bank Indonesia secara resmi berdiri sebagai Bank Sentral Republik Indonesia.

Fungsi Bank Indonesia

Pada tahun 1968, Bank Indonesia berfungsi menyalurkan kredit komersial, namun berperan sebagai agen pembangunan dan pemegang kas negara.

Saat krisis moneter yang terjadi di Asia, Bank Indonesia mengambil langkah-langkah kebijakan penanggulangan krisis, seperti penerapan kebijakan floating exchange rate untuk nilai tukar, penutupan bank-bank bermasalah, dan restrukturisasi bank-bank yang tidak sehat.

Pada 1999, Bank Indonesia ditetapkan sebagai Bank Sentral yang bersifat independen. Tujuan BI antara lain yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah, dan menghapuskan tujuan sebagai agen pembangunan.

Hingga saat ini Bank Indonesia masih terus beroperasi dan menjalankan fungsinya untuk memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pengelolaan bidang Moneter, Sistem Pembayaran, dan Stabilitas Sistem Keuangan.



Simak Video "Uang Kertas Baru 2022, Gimana Cara Dapetinnya?"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia