ADVERTISEMENT

Bolehkah Niat Kurban Sekaligus Aqiqah? Ini Hukumnya

Kristina - detikEdu
Kamis, 30 Jun 2022 06:00 WIB
Sejumlah hewan kurban di kawasan Jakarta Utara diperiksa kesehatannya. Pemeriksaan dilakukan guna mencegah penyebaran PMK menjelang Idul Adha.
Ilustrasi hewan ternak untuk kurban dan aqiqah. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Kurban dan aqiqah adalah amalan yang dikerjakan dengan menyembelih hewan ternak. Bolehkah niat kurban digabungkan dengan aqiqah?

Menurut Prof Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu Juz 4, secara etimologis kurban adalah sebutan bagi hewan yang dikurbankan atau disembelih pada Hari Raya Idul Adha. Ibadah ini dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sementara itu, secara etimologis aqiqah artinya rambut di kepala bayi yang baru lahir, sedangkan menurut istilah aqiqah adalah penyembelihan hewan yang dilakukan karena kelahiran anak dan dilakukan pada hari ketujuh kelahirannya.

Selain berbeda dari segi pengertiannya, kurban dan aqiqah juga sedikit berbeda dari segi hukum pelaksanaannya.

Jumhur ulama sepakat bahwa kurban di Hari Raya Idul Adha adalah sunnah bagi setiap orang yang mampu melaksanakannya. Kesunnahan ini dijelaskan dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad dan Imam al-Hakim.

"Tiga perkara yang bagiku hukumnya fardhu tapi bagi kalian hukumnya tathawwu' (sunnah), yaitu sholat witir, menyembelih udhiyah (hewan kurban), dan sholat dhuha."

Kurban disyariatkan disyariatkan pada tahun ketiga Hijrah, bersamaan dengan zakat dan salat hari raya melalui firman-Nya dalam surat Al Kautsar ayat 2.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢

Artinya: "Maka, laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!"

Sementara itu, hukum aqiqah adalah sunnah dilakukan oleh pihak-pihak yang wajib menafkahi si anak, menurut ulama mazhab Syafi'i. Adapun, ulama mazhab Hanafi menyebut hukum aqiqah mubah dan tidak sampai mustahab (dianjurkan).

Hukum Menggabungkan Niat Kurban dan Aqiqah

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum menggabungkan niat kurban dan aqiqah. Beberapa ada yang memperbolehkan dan beberapa yang lain tidak memperbolehkannya.

Mengutip buku Panduan Qurban dari A sampai Z: Mengupas Tuntas Seputar Fiqh Qurban karya Ammi Nur Baits, pendapat pertama yang memperbolehkan menggabungkan niat kurban dan aqiqah berasal dari ulama mazhab Hanafi, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan beberapa pendapat dari tabi'in, seperti Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirrin, dan Qatadah rahimahullah.

Dalil yang menerangkan pendapat ini adalah bahwa tujuan kurban dan aqiqah adalah beribadah kepada Allah dengan menyembelih, sehingga keduanya bisa digabungkan.

Menurut Hasan al-Bashri, "Jika ada yang berkurban atas nama anak maka kurbannya sekaligus menggantikan aqiqahnya."

Adapun, Hisyam dan Ibn Sirrin mengatakan, "Kurban atas nama anak, itu bisa sekaligus untuk aqiqah." Sementara itu, Qatadah mengatakan, "Kurban tidak sah untuknya, sampai ia diaqiqahi."

Dijelaskan dalam buku Fiqih Aqiqah Perspektif Madzhab Syafiiy oleh Muhammad Ajib Lc, Imam ar-Ramli rahimahullah dalam kitab Nihayatul Muhtaj Ilaa Syarhil Minhaj mengatakan, "Seandainya satu ekor kambing diniatkan kurban dan aqiqah sekaligus maka sah dan mendapatkan kesunahannya."

Sementara itu, ulama kalangan Malikiyah, Syafi'iyah dan salah satu pendapat Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, berkurban tidak bisa digabungkan dengan aqiqah. Dalil yang menguatkan pendapat ini bahwa kurban dan aqiqah adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, sehingga pelaksanaannya tidak bisa digabungkan.

Selain itu, sebab pensyariatan kurban dan aqiqah juga berbeda, sehingga tidak bisa saling menggantikan. Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj mengatakan:

"Dzahir pendapat ulama Syafi'iyah bahwa jika seseorang meniatkan satu kambing untuk kurban sekaligus aqiqah maka tidak bisa mendapatkan salah satunya. Dan inilah yang lebih kuat. Karena masing-masing merupakan ibadah tersendiri."



Simak Video "Tata Cara dan Doa Menyembelih Hewan Kurban"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia