Polusi Udara Bisa Sita Harapan Hidup Lebih Banyak, Ini Studinya

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 17 Jun 2022 13:15 WIB
DKI Jakarta jadi kota terburuk populasi di dunia
Ilustrasi polusi udara pangkas harapan hidup lebih tinggi. Foto: Nafilah/detikHealth
Jakarta -

Polusi udara pangkas lebih dari dua tahun harapan hidup rata-rata global, ketimbang efek alkohol, rokok, terorisme, dan konflik. Demikian hasil laporan Institut Kebijakan Energi Universitas Chicago.

Dalam laporan tahunan yang bertajuk AQLI atau Air Quality Life Index ini, ditemukan bahwa kandungan partikulat yang merupakan campuran dari kontaminan seperti asap, debu, juga serbuk sari tetap tinggi. Dalam KBBI, partikulat adalah partikel yang sangat kecil/halus.

Kandungan partikulat yang tinggi di udara tetap terjadi meskipun pandemi COVID-19 sudah membuat ekonomi global mengalami perlambatan dan langit cerah terlihat di beberapa kawasan dengan udara paling tercemar.

Indeks kualitas udara tersebut menyampaikan, risiko kesehatan yang terkait dengan polusi juga meningkat. Mengutip dari The Washington Post, laporan itu turut menunjukkan para pemimpin dunia tidak menangani hal ini dengan urgensi yang layak.

Polusi Udara Pangkas Harapan Hidup Lebih Banyak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan polusi udara bisa menyebabkan penyakit strok, jantung, kanker paru-paru, dan berbagai penyakit pernapasan lainnya. Laporan Institut Kebijakan Energi Universitas Chicago ini menyebutkan, lama harapan hidup rata-rata global yang berkurang akibat polusi adalah selama 2,2 tahun.

Sebagai perbandingan, merokok memangkas 1,9 tahun harapan hidup. Sementara, minum alkohol memangkas 8 bulan.

Kemudian, air yang tercemar dan sanitasi yang buruk dapat mengurangi harapan hidup sebanyak 7 bulan, sedangkan konflik dan terorisme hanya 9 hari.

Tidak sama seperti alkohol atau rokok, para peneliti dalam laporan ini mengatakan polusi udara nyaris tak bisa dihindari. Dan dikarenakan risiko kesehatan yang lebih parah, WHO pada tahun lalu memperbarui standar polusi udara yang boleh ditolerir. Standar yang baru diperbarui lagi sejak 2005 itu mengatakan, batas 10 µg/m3 kini menjadi 5 µg/m3.

Asia Tenggara Paling Tercemar

Menurut analisis AQLI, dengan adanya standar revisi itu, maka artinya 97 persen populasi dunia hidup di tempat di mana polusi udara melampaui batas WHO. Asia Tenggara adalah kawasan dengan udara paling tercemar.

Meningkatnya tingkat polusi beriringan dengan tumbuhnya populasi dan perkembangan Asia Tenggara sendiri. Sehingga, hal itu menyebabkan penggunaan bahan bakar fosil yang lebih banyak.

Disebutkan bahwa Bangladesh adalah negara yang pencemaran udaranya paling buruk. Namun, sejak 2013 sekitar 44 persen peningkatan polusi di dunia datang dari India.

Apabila kondisi ini tetap berlanjut, para penduduk Asia Tenggara diprediksi kehilangan rata-rata sekitar 5 tahun harapan hidup.

Usaha mengurangi polusi udara secara permanen untuk memenuhi pedoman WHO akan meningkatkan harapan hidup global dari 72 tahun menjadi 74,2 tahun. Para peneliti juga menunjuk China sebagai contoh negara yang sukses membersihkan udaranya.

Laporan tersebut turut menegaskan bahwa polusi udara sangat berkaitan dengan perubahan iklim. Sehingga, menanganinya bisa menciptakan solusi untuk keduanya.



Simak Video "Tips Aman Berolahraga di Tengah Buruknya Udara Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia