Ragam Stupa Pada Candi Borobudur yang Dianggap Lambang Agama Buddha

Devi Setya - detikEdu
Rabu, 15 Jun 2022 13:15 WIB
Petugas Balai Konservasi Borobudur (BKG) menunjukkan aus di bagian tangga dan relief Candi Borobudur, Magelang, Selasa (7/6/2022)
Ilustrasi Stupa pada Candi Borobudur Foto: Eko Susanto/detikJateng
Jakarta -

Stupa adalah lambang dari agama Buddha yang berbentuk mangkuk terbalik. Stupa pada Candi Borobudur juga sering disebut berbentuk genta atau lonceng.

Dilansir dari Kemdikbud (14/6) pada candi Borobudur terdapat 73 buah dengan rincian 1 buah stupa induk, 32 stupa pada teras melingkar I, 24 stupa pada teras melingkar II, dan 16 stupa pada teras melingkar III. Setiap stupa memiliki bentuk yang berbeda.

Stupa induk memiliki rongga, tanpa lubang terawang. Sementara stupa pada teras melingkar I dan II memiliki bagian lubang terawang yakni lubang berbentuk belah ketupat. Lain lagi dengan stupa di teras melingkar III yang memiliki lubang segi empat. Bagian atas stupa memiliki bentuk tongkat.

1. Ragam Stupa Candi Borobudur

Mengutip dari situs Kemdikbud, stupa Candi Borobudur juga sering disebut berbentuk genta atau lonceng. Stupa pada Candi Borobudur terdiri dari stupa induk, stupa teras, dan stupa-stupa kecil sebagai ornamen tubuh candi atau pagar langkan.

Stupa induk adalah stupa utama atau stupa puncak yang paling besar di antara stupa teras lainnya. Stupa induk tidak berlubang dan mempunyai garis tengah 9,90 meter dan tinggi 7 meter. Di dalam stupa induk ini terdapat rongga yang ketika ditemukan dalam keadaan kosong.

Ada yang berpendapat bahwa rongga tersebut dahulunya merupakan ruangan untuk tempat menyimpan arca atau relik (peninggalan-peninggalan yang dianggap suci, seperti benda-benda, pakaian, tulang belulang Sang Buddha, arhat dari bhiksu terkemuka). Sebagian lagi berpendapat bahwa rongga dalam stupa ini memang kosong, mengingat bahwa stupa pada tingkat Arupadhatu menyimbolkan unsur tak berwujud.

2. Makna Chattra di Stupa Candi Borobudur

Pada puncak stupa, biasanya terdapat chattra. Istilah Chattra ini digunakan untuk menyebut bagian yang berada di paling atas stupa. Bentuknya tongkat bersusun tiga. Secara filosofi keagamaan, memang ada bentuk seperti ini, misalnya di Bodh Gaya.

Dilansir dari detik.com Gagasan mengenai chattra Candi Borobudur dikemukakan pertama kali oleh Van Erp pada tahun 1931. Gagasan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk rekonstruksi stupa utuh dengan tiga susun chattra dan ditambah susunan batu sebanyak 9 lapis di bawahnya. Saat ini, chattra masih dapat dilihat di Museum Borobudur di area Taman Wisata Candi Borobudur.

Di bawah bentuk chattra terdapat susunan batu berbentuk tongkat yang dinamakan yasti. Di bawah yasti ada harmika, yaitu bagian antara badan dan puncak stupa.

Harmika pada Candi induk mempunyai dua bentuk, yaitu persegi empat dan persegi delapan. Pada stupa-stupa teras melingkar, bagian harmika pada teras I dan II bawah berbentuk kotak, sedangkan pada stupa teras III berbentuk persegi delapan.

3. Kegunaan Stupa Candi Borobudur

Melansir dari situs Kabupaten Magelang (14/6) stupa dalam budaya agama Buddha didirikan untuk menyimpan relik Buddha atau relik para siswa yang telah mencapai kesucian. Dalam bahasa agama, relik disebut saririka dhatu, diambil dari sisa jasmani yang berupa kristal setelah dilaksanakan kremasi.

Bila belum mencapai kesucian, sisa jasmani tidak berbentuk kristal dan tidak diambil. Diyakini bahwa relik ini mempunyai getaran suci yang mengarahkan pada perbuatan baik. Pada setiap upacara Waisak, relik ini juga dibawa dalam prosesi dari Mendut ke Borobudur untuk ditempatkan pada altar utama di Pelataran Barat.



Simak Video "Roy Suryo Penuhi Panggilan Polisi Terkait Kasus Meme Stupa Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia