Aturan Kuburan dalam Islam, Apa Boleh Pakai Batu Nisan dan Disemen?

Rahma Harbani - detikEdu
Jumat, 10 Jun 2022 14:00 WIB
Tombstones in fall.
Ilustrasi. Apa hukum kuburan dalam Islam yang dipasang batu nisan dan disemen? (Getty Images/iStockphoto/strathroy)
Jakarta -

Perkara kuburan dalam Islam mungkin masih membingungkan bagi sebagian muslim, terutama dalam hal pemasangan batu nisan maupun meninggikannya dengan disemen. Seperti apa aturan kuburan dalam Islam yang sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW?

Pada dasarnya, Rasulullah SAW menganjurkan umat muslim untuk memperdalam lubang kuburan bagi jenazah. Hal ini ditujukan agar menahan bau busuk jenazah serta mencegah binatang buas untuk menggali kubur yang dikhawatirkan merusak tubuh jenazah.

Ukuran Kuburan dalam Islam

Menurut buku Syarah Fathal Qarib Diskursus Ubudiyah Jilid Satu oleh Tim Pembukuan Mahad Al Jamiah Al Aly UIN Malang, ukuran kedalaman galian lubang kubur disunnahkan mencapai tinggi orang dewasa yang melambaikan tangan atau sekitar 3,5-4,5 dzira' (1 dzira' sekitar 46,2 cm). Hal ini didasarkan pada salah satu riwayat hadits Rasulullah SAW.

Dinarasikan dari Hisyam bin Amr RA, dia bercerita bahwa Rasulullah SAW pernah menganjurkan umat muslim untuk memperdalam lubang kuburan bagi pasukan perang yang gugur dalam Perang Uhud.

"Kami mengadukan kepada Rasulullah SAW pada saat Perang Uhud, kami berkata, 'Wahai Rasulullah, lubang yang kami buat tidak cukup untuk setiap orang,' maka Rasulullah bersabda, 'Galilah, perdalamlah galiannya, perbaguslah, dan kuburkanlah dua atau tiga jenazah dalam satu lubang kubur,'" (HR An Nasa'i dan At Tirmdizi).

Bentuk lubang kubur juga disunnahkan memakai lubang lahat atau lubang yang digali di bawah kubur sebelah kiblat dan diperkirakan cukup untuk memuat tubuh jenazah. Kemudian ditutup dengan papan atau bambu.

Hukum Kuburan yang Dipasang Batu Nisan dan Disemen

Tidak asing bagi muslim Indonesia menemukan kuburan yang disemen atau pun dipasang batu nisan yang bertuliskan identitas jenazah. Untuk memberikan tulisan sebagai penanda dari kuburan dalam Islam, ada dua pendapat dari dua imam besar mazhab.

Hal tersebut dimakruhkan dalam Mazhab Maliki bahkan hanya untuk menulis nama mayat maupun huruf Al-Qur'an di kuburan. Mengutip Fiqih Islam wa Adilatuhu Jilid 2, berikut penjelasan Mazhab Maliki,

"Tulisan pada kuburan adalah makruh hukumnya menurut mayoritas ulama, baik nama mayat tersebut atau yang lainnya, di sisi kepala atau lainnya, tulisan halus atau tebal, dan haram menulis Al-Qur'an pada kuburan menurut mazhab Maliki," bunyi buku yang ditulis Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili tersebut.

Perkara tersebut disejajarkan dengan kemakruhan menginjak kuburan sebagaimana diriwayatkan dalam salah satu hadits Rasulullah SAW. Dari Jabir bin Abdillah RA berkata,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Artinya: "Nabi Muhammad SAW melarang mengapur kubur (memberi semen), menulisinya (sebagai tanda), mendirikan bangunan di atasnya, dan menginjaknya," (HR Ahmad dan At Tirmidzi)

Sementara Mazhab Hanafi berpendapat, ada ijma' atau penetapan ulama yang diamalkan sehingga boleh menuliskan pada kuburan dengan catatan dibutuhkan agar penandanya tidak hilang. Meski demikian Mazhab Hanafi juga membenarkan larangan tersebut.

Hal ini disandarkan dari Rasulullah SAW yang pernah memasang batu atau kayu sebagai tanda pengenal untuk kuburan tersebut. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW pernah memberikan tanda pada kuburan Utsman bin Mazh'un dengan batu sebagai penciri kuburannya (HR Ibnu Majah).

Terkait perkara memberikan semen untuk kuburan, sebagaimana disinggung dalam hadits sebelumnya, termasuk dalam perkara yang makruh. Dr. Musthafa Dib Al-Bugha dalam Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi'i menafsirkan hadits larangan memberi kapur pada kubur dari Jabir RA.

Menurutnya, mengapur kuburan diartikan juga dengan memberi semen atau menembok dinding kuburan dan menghiasinya dengan marmer. "Hal ini karena ada larangan untuk mendirikan bangunan di atasnya kuburan)," tulisnya.

Sebaliknya, disunnahkan untuk meninggikan kuburan seperti gundukan setinggi satu jengkal. Ditambah lagi, peninggian tanah kubur hanya ditujukan untuk penanda keberadaan kuburan agar tidak terinjak atau terduduki.

"Dan haram hukumnya meninggikan kuburan melebihi itu (satu jengkal)," tulis Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi dalam Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq.

Bukti kemakruhan hal tersebut pernah disinggung dalam salah satu hadits Rasulullah SAW. Dari Abul Hayyaj Al Asadi berkata,

"Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku, 'Maukah aku mengutusmu untuk sesuatu yang Rasulullah mengutus hal itu kepadaku? Janganlah kamu tinggalkan patung-patung kecuali kamu menghancurkannya, jangan pula kuburan yang bangunannya tinggi, kecuali kamu ratakan," (HR Muslim).



Simak Video "Heboh! Batu Nisan Internet Explorer di Korea Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia