Pemotongan Hewan Kurban di Tengah Marak PMK, Apa Solusi dari MUI?

Rahma Harbani - detikEdu
Senin, 30 Mei 2022 18:00 WIB
Presiden RI Joko Widodo menyumbang hewan kurban sapi di Masjid Al Akbar Surabaya. Sapi yang disumbang Jokowi berbobot 1.242 kg.
Ilustrasi. Apa solusi dari MUI mengenai penyembelihan hewan kurban di tengah wabah PMK? (Faiq Azmi/detikcom)
Jakarta -

Belum lama ini, Indonesia dihebohkan dengan kemunculan wabah penyakit mulut dan kuku pada sapi yang ditemukan di Aceh dan Jawa Timur. Untuk antisipasi hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyusun panduan ibadah kurban 1443 H bagi muslim di Indonesia.

"Untuk mengantisipasi penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak, MUI melakukan pembahasan intensif untuk menyusun pedoman keagamaan dalam ibadah kurban 1443 H," kata Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Niam Sholeh dikutip dari laman MUI, Senin (30/5/2022).

Niam menjelaskan, penyusunan pedoman tersebut melibatkan sejumlah pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) hingga Kementerian Pertanian (Kementan). Menurut Niam, penjelasan para ahli diperlukan untuk mengetahui kondisi penyakit zoonosis ini.

Setelahnya, pihak MUI akan melakukan rapat dan sidang fatwa dalam membahas panduan yang berbentuk fatwa atau pun pedoman khusus tersebut. Berikut dampak dan langkah mitigasinya, untuk menjaga kesehatan dan kualitas daging kurban.

"Untuk itu MUI mengundang dan mendengar penjelasan ahli dari IPB dan Kementan sebagai penanggung jawab," katanya.

Denny Widaya Lukman, Anggota Komisi Ahli Kesehatan Hewan Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan Karantina Hewan Kementan menambahkan, masyarakat muslim dapat melaksanakan kurban secara daring melalui Rumah Penyembelihan Hewan (RPH) maupun tempat dengan izin penyembelihan dari pemerintah daerah.

"Mohon MUI agar menghimbau masyarakat agar DKM memaksimalkan memotong daging kurbannya di RPH dan tempat yang mendapat izin dinas saja, dan hanya dilakukan saat hari H, untuk meminimalkan risiko penularan," kata Denny.

Risiko penularan yang dimaksud, menurut penuturan Denny, adalah penularan virus PMK hewan kurban yang dapat mencemari lingkungan. Meski demikian, anggota tim pakar penyusun Surat Edaran Kurban ini menegaskan, virus PMK tidak akan menular pada manusia.

"Yang kita khawatirkan adalah pencemaran lingkungan yang akhirnya menulari hewan lain, dan merusak ekosistem, tidak berbahaya untuk manusia," tuturnya.

Denny mengatakan, disusunnya pedoman kurban diharapkan dapat mencegah pencemaran dan penularan virus PMK pada hewan ternak dan nonternak lainnya. Terutama bagi hewan ternak terinfeksi yang lolos dari pengawasan.

"Harapannya jikalau ada kemungkinan virus ada di bagian tubuh hewan kurban yang dipotong kemudian tidak terdeteksi, maka tidak akan jatuh atau mencemari lingkungan yang nantinya lingkungan itu akan menyebarkan penyakit tersebut ke ternak yang lain," tandasnya.



Simak Video "Panduan dan Syarat Sah Kurban di Tengah Wabah PMK Menurut Fatwa MUI"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia