Hukum Hewan Qurban Terinfeksi Penyakit Mulut dan Kuku, Ini Komentar MUI

Devi Setya - detikEdu
Selasa, 24 Mei 2022 18:00 WIB
Ilustrasi gedung MUI
Foto: MUI
Jakarta -

Qurban merupakan salah satu ibadah dalam agama Islam. Dalam Al Qur'an Surat Al-Kautsar ayat 2 juga disebutkan, "Maka sholatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah kurban."

Ada beberapa persyaratan yang wajib dipenuhi jika ingin melaksanakan ibadah qurban. Salah satunya yakni memastikan hewan sudah cukup umur dan dalam keadaan sehat.

Lantas bagaimana jika hewan qurban memiliki beberapa penyakit, misalnya infeksi virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)?

Dilansir dari situs resmi MUI (24/5) Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan melakukan pendalaman bersama sejumlah ahli dan kementerian terkait untuk memutuskan fatwa apakah hewan terinfeksi virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) boleh dijadikan hewan qurban atau tidak. Kegiatan ini dijadwalkan akan dilakukan pada Jumat, 27 Mei 2022 mendatang.

Hal ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda. "Setelah kita mendengar pendalaman dari ahli terkait virus PMK. Kita baru mengeluarkan statement fatwa tentang hewan yang terpapar virus PMK sah atau tidak untuk dijadikan (hewan) qurban," kata Kiai Mifatahul Huda.

Lebih lanjut, Kiai Miftahul Huda juga mengatakan, pendalaman materi tersebut akan melibatkan beberapa instansi pemerintah seperti Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan. Jadi fatwa yang akan dikeluarkan ini adalah hasil diskusi dari berbagai kalangan terkait.

Tujuan dari melibatkan berbagai instansi pemerintahan ini juga dikaitkan dengan proses distribusi hewan qurban yang biasanya didatangkan dari berbagai daerah di Indonesia. Diperlukan aturan-aturan yang diterbitkan oleh kementerian terkait, untuk mencegah penularan terhadap hewan qurban yang lain.

Beberapa dokter menyatakan bahwa hewan yang terpapar virus PMK ini sebenarnya masih boleh dan aman dikonsumsi. Namun perlu dikaji lagi untuk hewan yang akan dijadikan qurban.

"Hewan qurban itu berbeda hukumnya dengan hewan yang disembelih untuk dikonsumsi dagingnya secara biasa," tegas Kiai Miftahul Huda.

Dijelaskan pula beberapa persyaratan wajib yang harus dipenuhi oleh hewan qurban, diantaranya harus sehat secara fisik, baik anggota tubuhnya tidak ada yang cacat, maupun tidak memiliki gangguan virus.

"Oleh karena itu, harus berhati-hati, meskipun ada pernyataan dari dokter bahwa daging hewan yang sudah terpapar virus PMK itu layak dikonsumsi. Tetapi untuk hewan qurban memiliki persyaratan khusus," terangnya.

Sebagai dampak dari infeksi virus PMK, hewan umumnya tidak bisa berjalan dengan normal karena virus ini menyerang tubuh bagian kaki. Bukan hanya membuat hewan kesulitan berjalan, jika virus ini sudah menyerang dengan serius maka hewan juga akan lumpuh dan tak bisa berjalan.

"Hewan pincang saja tidak boleh digunakan untuk qurban, apalagi yang tidak bisa jalan," jelasnya.

Bukan hanya menyebabkan masalah kesehatan pada kaki, PMK ini juga bisa menyebabkan kematian pada hewan. Terbukti sudah ada sapi-sapi di beberapa daerah yang dikabarkan mati karena infeksi virus PMK.

Di samping itu, hewan yang terpapar virus PMK juga biasanya tergolong tidak sehat. Beberapa bagian dari hewan yang terinfeksi PMK tidak disarankan untuk dikonsumsi, misalnya bagian mulut, kaki dan juga bagian organ dalamnya.

Kiai Miftahul Huda mengingatkan bahwa hewan qurban nantinya akan menjadi tabungan di akhirat untuk ditunggangi. Karenanya, sangat disarankan untuk memilih hewan qurban yang terbaik dan sempurna fisiknya.



Simak Video "Bolehkah Hewan Terjangkit PMK untuk Berkurban? Berikut Fatwa MUI"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia