Kisah Kesabaran Imam Syafi'i Mengajar Ar Rabi yang Lamban Menerima Ilmu

Devi Setya - detikEdu
Kamis, 26 Mei 2022 06:00 WIB
Ilustrasi pria muslim sedang membaca Al-Quran
Ilustrasi pria muslim sedang membaca Al-Quran. Foto : iStock
Jakarta -

Iman Syafi'i merupakan seorang mufti besar umat Islam, beliau juga pendiri mazhab Syafi'i. Selama masa hidupnya, Imam Syafi'i memiliki banyak murid yang mendalami ilmu kepadanya.

Salah satu murid Imam Syafi'i bernama Ar Rabi bin Sulaiman. Banyak riwayat yang mengisahkan tentang Rabi. Ia termasuk sosok yang istimewa, dan saat ini dikenal sebagai salah satu ulama besar yang terpercaya dalam periwayatannya.

Rabi juga dikenal sebagai pelantun adzan dengan suara merdu. Ia sering melantunkan adzan di masjid Jami Fusthath; masjid yang sering dikenal dengan nama masjid 'Amru bin al-'Ash. Suara merdunya saat adzan bahkan sering mendapat pujian Imam Syafi'i.

Namun ada kisah menarik dari Rabi yang juga dikenal lamban dalam menerima pelajaran dari Iman Syafi'i. Dikutip dari buku Ensiklopedia Imam Syafi'i karya DR. Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi (25/5) dikisahkan perjalanan Rabi dalam menuntut ilmu.

Sama seperti murid lainnya, Rabi selalu hadir ketika Imam Syafi'i menyampaikan ilmu dalam majelis. Namun Rabi selalu gagal memahami ilmu yang disampaikan Imam Syafi'i. Dengan sabar, Imam Syafi'i yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i al-Muththalibi al-Qurasyi ini dengan sabar kembali mengulang pelajaran yang disampaikan.

Setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafi'i bertanya, "Rabi sudah faham paham belum?" lantas djawab Rabi "Belum faham."

Dengan kesabarannya, Imam Syafi'i mengulang lagi pelajaranya dan menanyakan hal yang sama. "Sudah faham belum?".Berulang kali juga Rabi mengatakan belum faham.

Dalam kitab Manaqib Imam Syafii yang ditulis oleh Imam Baihaqi disebutkan bahwa Imam Syafi'i sampai harus menerangkan hingga 39 kali, namun tidak juga dipahami oleh Rabi. Mengetahui sang murid tak kunjung paham, Imam Syafi'i lantas mengundang Rabi untuk datang ke rumahnya dan mengajar secara privat.

Dengan penuh kesabaran, Imam Syafi'i menjelaskan dan menyampaikan ilmunya. Dan lagi-lagi Rabi tak bisa memahami. Sampai suatu hari Imam Syafi'i mengatakan kepada Rabi sebuah kalimat yang menenangkan sekaligus menjadi motivasi.

"Muridku, sebatas inilah kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu." ujar Imam Syafi'i.

Rabi memang mengalami kesulitan menyerap ilmu yang disampaikan Imam Syafi'i namun ia memiliki suara merdu saat melantunkan adzan. Suatu hari Imam Syafi'i mendengar suara adzan Rabi dan mengatakan:

"Sungguh aku sangat senang mendengar suara adzanmu. Seandainya aku bisa menurunkan ilmu kepadamu, aku akan menyuapkannya kepadamu seperti seorang bayi yang disuapi makanan oleh ibunya."

Mendengar ucapan sang guru, Rabi menjadi semakin bersemangat belajar sekaligus bermunajat kepada Allah SWT agar ia dipermudah menerima ilmu. Keikhlasan, kesalehan, dan kesungguhan dari Rabi ini pun membuahkan hasil.

Rabi' bin Sulaiman kini bahkan bukan hanya dikenal sebagai muadzin bersuara merdu. Pria yang lahir pada Tahun 174 Hijriyah dan wafat pada Tahun 270 Hijriyah ini kemudian berkembang menjadi salah satu ulama besar Madzhab Syafi'i dan termasuk perawi hadis yang sangat terpercaya dalam periwayatannya.

Selain berguru pada Imam Syafi'i, Rabi juga banyak belajar dari ulama lain seperti Abdullah bin Wahb, Abdullah bin Yusuf at-Tanisi, Ayyub bin Suwaid ar-Ramli, Yahya bin Hassan Asad bin Musa.



Simak Video "Terima Kunjungan Mufti Rusia, Dasco: Bahas Kerja Sama Ekonomi-Kebudayaan"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia