Khutbah Jumat Syawal: Hikmah Perang Uhud yang Terjadi di Bulan Syawal

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 06 Mei 2022 10:00 WIB
Ilustrasi Ramadan Imsak Buka Puasa
Khutbah Jumat Syawal: Pelajaran dari Perang Uhud yang terjadi di bulan Syawal. Foto: HaiBunda/ Annisa Shofia
Jakarta -

Umat muslim memasuki minggu pertama bulan Syawal setelah Hari Raya Idulfitri 1443 H. Menyambut bulan istimewa ini, hendaknya kita mengenali keutamaan dan hikmah peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Syawal. Salah satunya yakni melalui khutbah Jumat Syawal pertama setelah Ramadan.

Bulan Syawal adalah bulan penuh keberkahan. Umat muslim dapat mengerjakan amalan sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW, mulai dari puasa 6 hari di bulan Syawal, memperbanyak sedekah, dan amalan lainnya.

Bulan Syawal juga menyimpan sejarah penting yang berpengaruh bagi kehidupan Rasulullah SAW dan peradaban Islam. Salah satunya yaitu Perang Uhud yang meletus pada 15 Syawal. Dalam Al Qur'an disebutkan, Perang Uhud merupakan salah satu ujian ketaatan kepada sunah dan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Berikut selengkapnya tentang hikmah Perang Uhud di bulan Syawal bagi umat muslim, seperti dikutip dari Bunga Rampai Bincang Syariah oleh Mohammad Hafid, Lc., M.H.:

Khutbah Jumat Syawal Minggu Pertama

Bulan Syawal kita kenal sebagai bulan yang menggembirakan. Sebab, di dalamnya terdapat momen dan suasana Lebaran. Tentunya yang namanya Lebaran kita identik dengan hari kesenangan. Terbukti, hari ini menjadi hari makan makan, hari silaturrahim, hari penampilan baju dan busana baru, serta menjadi hari jalan-jalan bersama orang terkasih.


Momen dan suasana seperti ini bagi kita sebagai umat muslim Indonesia tidaklah cukup satu hari dua hari yaitu pada hari 1 Syawal saja. Melainkan, terus berlanjut hingga hari kedelapan bulan Syawal.

Artinya, momen ini berlangsung lebih dari satu minggu dan berakhir dengan Lebaran yang dikenal dengan Lebaran ketupat. Itulah sepintas gambaran pemaknaan hari Lebaran bagi kita sebagai masyarakat Indonesia.

Kita sebagai umat Nabi Muhammad saw tentunya tidak boleh larut sedalam-dalamnya dalam momen Lebaran yang berlangsung berhari-hari di bulan Syawal ini, hingga kita melupakan perjuangan Nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya, khususnya di bulan ini.

Bagi Nabi Muhammad saw beserta sahabat dan pengikutnya, bulan ini, di samping menjadi bulan yang seharusnya riang gembira, ternyata menjadi bulan yang menyedihkan. Karena di bulan inilah kaum muslimin harus menerima kekalahan dalam perang Uhud. Jatuh banyak korban akibat satu kesalahan yang dilakukan oleh pasukan kaum muslimin yang tertipu dengan harta.

Salah satunya adalah paman Nabi sendiri, yaitu Sayyidina Hamzah yang syahid wafat karena kaum kafir Quraisy. Saya ingin mengajak saudara yang budiman untuk membaca kembali sejarah peperangan yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya, khususnya perang Uhud ini, yang menelan banyak korban.

Tujuannya tiada lain kecuali mengorek dan mengambil hikmah serta pelajaran, untuk kemudian bisa dijadikan bekal dalam menata kehidupan selanjutnya.

Perang Uhud terjadi pada pertengahan bulan Syawal tahun ke-3 Hijriah di kaki gunung Uhud, di utara Madinah. Perang Uhud terjadi akibat kekalahan kaum kafir Quraisy pada satu tahun sebelumnya.

Kaum kafir Quraisy ingin menebus kekalahan yang terjadi pada saat itu. Mereka menyusun kekuatan sebaik mungkin dengan menyiapkan segala hal untuk bertekad mengalahkan kaum muslimin pada perang ini.


Perang Uhud terjadi antara kaum muslimin yang berjumlah 700 orang, yang dipimpin langsung oleh baginda Nabi Muhammad SAW, dan pasukan kaum kafir, dengan jumlah 3.000 orang dengan pimpinan Abu Sufyan dan Khalid bin Walid.

Strategi yang digunakan oleh Nabi Muhammad adalah dengan menempatkan pasukan panah di punggung bukit untuk melindungi kaum muslimin jika diserang dan membentengi dari serangan balik pasukan berkuda musuh. Beliau berpesan agar para pemanah tersebut tidak meninggalkan tempat dengan alasan apapun.

Pasukan Islam di bawah komando Rasulullah SAW bertempur dengan hebat sehingga memperoleh kemenangan. Pegulat yang paling menonjol di antara mereka ialah Abu Dujanah, Thalhah, Hamzah, Ali, Nadr bin Anaas, Sa'id bin Rabi, dan lain-lain.


Pertempuran ini bisa berakhir dengan kemenangan mutlak bagi kaum muslimin kalau saja pasukan panah yang bertugas melindungi Rasullullah SAW dan pasukan di medan tempur tidak turun memperebutkan harta yang ditinggalkan musuh. Komandan mereka, yaitu Abdullah bin Jubair mengingatkan mereka akan instruksi Rasulullah SAW yang harus dipatuhi, yaitu jangan sekali-kali meninggalkan posisi mereka.

Akan tetapi, peringatan itu tidak mereka dengarkan. Mereka bahkan meninggalkan celah yang seharusnya mereka jaga. Inilah kesalahan fatal mereka karena pasukan Quraisy tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka berputar untuk menerobos dari belakang, melalui celah yang ditinggalkan itu.


Akibat serangan itu, pasukan Islam menjadi kocar-kacir, banyak diantara mereka yang terbunuh dan melarikan diri. Banyak juga yang menderita luka parah, termasuk Rasulullah SAW. Beliau mendapat luka cukup serius akibat kepungan pasukan kafir yang berhasil menerobos sampai ke depan beliau dan menyerang beliau sampai gigi gerahamnya pecah.

Kaum kafir Quraisy membunuh Mush'ab bin Umair, pemegang bendera perang, di depan Rasulullah SAW, maka bendera itu perang beliau serahkan kepada Ali bin Abi Thalib.

Pertempuran itu berlangsung sampai terbenamnya matahari sehingga pasukan musyrikin merasa letih. Akhirnya, mereka mengundurkan diri untuk kembali ke Makkah tanpa berhasil merealisasi target mereka karena ketabahan dan keberanian Rasulullah SAW dalam mempertahankan Madinah.

Dua Pelajaran Penting

Kita sebagai generasi penerus Rasulullah SAW yang berada di suatu zaman yang jauh dari peperangan,tentunya dalam membaca ulang ini tidaklah ingin mengembalikan sejarah silam. Bukan itu tujuannya. Tapi ingin mengorek semangat, pesan, serta pelajaran guna dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan.

Perang bagi kita yang sesungguhnya adalah bagaimana kita bisa membentengi diri dengan segala senjata dari serangan hawa nafsu yang menjerumuskan hingga kita jauh dari kesuksesan. Setidaknya ada dua pelajaran berharga dari kekalahan kaum muslimin saat Perang Uhud.

Kita sebagai umat Nabi Muhammad saw harus menjadikannya sebagai pedoman dalam menata kehidupan selanjutnya. Mulai dari hal-hal yang paling kecil sekalipun hingga ke yang paling besar.

Pertama, kemaksiatan dapat mencegah kesuksesan dan kemenangan. Lihatlah betapa kemaksiatan telah merenggut kemenangan yang seharusnya didapat oleh kaum muslimin. Hanya satu kemaksiatan yang dilakukan oleh para pemanah bisa menggagalkan kemenangan.

Mereka melanggar perintah Nabi untuk tetap siaga di tempat dengan turun gunung memperebutkan harta yang ditinggalkan oleh kaum kuffar setelah mereka mampu mengusirnya. Namun pada akhirnya, kaum kuffar menyerang balik dengan menempati posisi yang ditempati kaum muslimin sebelumnya. Akhirnya kekalahan menjemput mereka sementara kemenangan menjauh mendekati kaum kafir.

Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 152:


وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعْدَهٗٓ اِذْ تَحُسُّوْنَهُمْ بِاِذْنِهٖ ۚ حَتّٰىٓ اِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَآ اَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّوْنَ ۗ مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الْاٰخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۚ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ - ١٥٢

152: Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu, tetapi Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.

Sungguh kemaksiatan telah menjadi pangkal segala kerusakan dan kegaduhan. Kesenangan akan sulit didapat. Keadilan serta kemakmuran tidak akan meninggalkan jejak. Puncaknya kesuksesan dan kemenangan akan menjadi harapan belaka. Tidak akan bisa dijemput apalagi dirangkul.

Maka usahakan kita dengan segala filter dan benteng untuk tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan. Agar kita bisa menjemput kemenangan dan kesuksesan. Kita harus teguhkan kembali pada diri kita bahwa kemenangan kaum muslimin dijauhkan oleh Allah hanya karena satu kemaksiatan.

Di samping, Nabi Adam AS pun dikeluarkan dari surga akibat satu kemaksiatan yang dilakukan. Janganlah kita menganggap remeh satu kemaksiatan walaupun tergolong kecil untuk selalu dilakukan terus menerus. Karena akibatnya akan fatal. Hati akan buta.
Kemuliaan dan karamah akan sirna. Apalagi keberkahan. Akan semakin menjauh.

Kedua, bahayanya mencintai dunia. Kemaksiatan yang terjadi dalam Perang Uhud dengan tidak mengindahkan perintah Rasulullah SAW untuk tetap siaga dalam posisi semula diakibatkan oleh kecintaan terhadap dunia. Mereka terpana dan tertarik mengejar dunia dengan meninggalkan akhiratnya. Akhirnya, bukanlah dunia yang didapat akan tetapi kekalahan yang harus dihadapi hingga mengakibatkan jatuhnya banyak korban.


Dari perang ini kita belajar bahwa kecintaan terhadap dunia dapat merusak hati kita yang menjadi mesin penggerak segala kebaikan. Kita akan sulit berbuat baik, apalagi melakukan perintah-perintah Allah SWT. Kita akan lupa diri, apalagi tuhan kita. Akhirnya, kemenangan dan kesuksesan sangat sulit kita dapatkan.

Allah dan Rasul-Nya Saw menjelaskan dalam surah Al Ankabut ayat 64,

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: "Dan tidaklah kehidupan dunia ini kecuali hanya sebatas senda gurau dan permainan, dan sesungguhnya akhirat adalah kehidupan sejati. jikalau mereka mengetahui,"


Marilah kita teguhkan diri kita untuk tetap tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan sekecil apapun bentuknya hingga dilakukan terus menerus. Bersamaan dengan itu juga kita juga tidak boleh terpukau apalagi terseret untuk cinta dunia.

Sebagaimana dijelaskan, jurang kemaksiatan dan cinta dunia, keduanyalah yang begitu nampak dalam kehidupan ini akan konseksuensi dan akibatnya. Keduanyalah yang menjadi awal dari segala bentuk kerusakan. Keduanyalah yang mencegah kebaikan nampak di permukaan.

Serta keduanyalah yang dapat mengakibatkan kesuksesan serta kemenangan tinggal harapan belaka. Tanpa mewujud nyata dalam kehidupan.

Wallahu a'lam.

Demikian contoh khutbah Jumat Syawal pertama setelah Lebaran yang bisa kita ambil hikmah di dalamnya. Semoga bermanfaat.



Simak Video "Momen Massa Buruh Gelar Salat Jumat di Depan Gedung DPR"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/rah)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia