Studi Temukan Seniman Prasejarah Ukir Batu Pakai Cahaya Api

Kristina - detikEdu
Selasa, 03 Mei 2022 11:00 WIB
Nyala api digunakan sebagai alat untuk mengukir batu pada zaman prasejarah.
Ilustrasi nyala api dalam goa. Foto: KozioĊ‚ Kamila/stock.adobe.com
Jakarta -

Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkap adanya karya seni zaman prasejarah yang terbuat dari bantuan api. Nenek moyang awal kita diketahui telah mengukir batu hiasan dengan cara dipanaskan.

Temuan ini diketahui dari pemeriksaan terhadap 50 batu berukir yang digali di Prancis. Batu yang diukir dengan desain artistik sekitar 15.000 tahun yang lalu memiliki pola kerusakan akibat panas. Diprakirakan batu tersebut diukir dekat cahaya api yang berkedip-kedip.

Melansir Science Daily, penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di University of York and Durham ini melihat koleksi batu berukir, yang dikenal sebagai plakat, yang sekarang disimpan di British Museum.

Benda prasejarah tersebut kemungkinan dibuat menggunakan alat-alat batu oleh orang Magdalena, budaya pemburu-pengumpul awal yang berasal dari antara 23.000 dan 14.000 tahun yang lalu.

Rekonstruksi batu ukir yang ditemukan di Prancis menunjukkan bahwa seniman prasejarah mengukir batu dengan cahaya api.Rekonstruksi batu ukir yang ditemukan di Prancis menunjukkan bahwa seniman prasejarah mengukir batu dengan cahaya api. Foto: Dr Andy Needham/University of York via PHYS

Para peneliti mengidentifikasi adanya pola kerusakan panas merah muda di sekitar tepi beberapa batu. Ini memberikan bukti bahwa batu tersebut telah ditempatkan di dekat api.

Mereka kemudian bereksperimen dengan mereplikasi batu itu sendiri menggunakan model 3D dan perangkat lunak virtual reality untuk membuat ulang plakat seperti yang akan dilihat oleh seniman prasejarah.

Penulis utama studi tersebut, Dr Andy Needham dari Departemen Arkeologi di University of York dan Co-Director of the York Experimental Archaeology Research awalnya berasumsi bahwa kerusakan akibat panas yang ditemukan pada batu disebabkan karena kesalahan yang tidak sengaja.

"Sebelumnya telah diasumsikan bahwa kerusakan akibat panas yang terlihat pada beberapa plakat kemungkinan besar telah telah disebabkan oleh ketidaksengajaan, tetapi percobaan dengan plakat replika menunjukkan kerusakan lebih konsisten dengan sengaja diposisikan dekat dengan api," ucapnya.

Bekerja dengan kondisi seperti ini akan memiliki efek dramatis terhadap cara orang prasejarah saat menciptakan karya seni, kata para peneliti. Metode ini akan mengaktifkan berbagai bagian otak manusia.

Rekan penulis studi ini, mahasiswa PhD Izzy Wisher dari Department of Archaeology at the University of Durham mengatakan, temuan ini juga memperkuat teori bahwa pancaran hangat api akan menjadikannya sebagai pusat komunitas untuk pertemuan sosial, bercerita, dan membuat karya seni.

Era Magdalena memberikan gambaran terkait perkembangan seni awal, dari seni gua dan dekorasi alat dan senjata hingga ukiran batu dan tulang.



Simak Video "Ketika Karya Seni Berpadu dengan Kecanggihan Teknologi"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia