Puasa Belakangan Ikut Kemenag tapi Lebaran 2022 Bareng Muhammadiyah, Kok Bisa?

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Selasa, 26 Apr 2022 14:15 WIB
Disunnahkan Makan dan Minum sebelum Shalat Idul Fitri
Ilustrasi. Puasa Ramadan berdasarkan Kemenag dimungkinkan hanya berlangsung 29 hari. (iStock)
Jakarta -

Muhammadiyah sudah lebih dulu menetapkan Lebaran 2022 atau Idul Fitri 1443 H pada Senin (2/5/2022). Keputusan tersebut didasarkan pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/MLM/I.0/E/2022 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, Dan Zulhijah 1443 H.

"Umur bulan Ramadan 1443 H 30 hari dan tanggal 1 Syawal 1443 H jatuh pada hari Senin Pon, 2 Mei 2022 M," bunyi maklumat yang dikeluarkan pada Februari 2022 lalu tersebut dan dikutip, Selasa (26/4/2022).

Sementara itu, keputusan 1 Syawal 1443 H atau Lebaran 2022 dari pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) masih menanti hasil dari keputusan hasil sidang isbat. Meski demikian, Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin menyebut, hilal sudah terlihat saat sidang isbat yang digelar mulai sore pada Minggu, 1 Mei 2022.

"Secara hisab, pada hari tersebut posisi hilal awal Syawal di Indonesia telah masuk dalam kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura)," kata Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin dalam keterangannya, Senin (25/4/2022)

Ada kemungkinan keputusan Lebaran 2022 dari Kemenag seragam dengan keputusan dari Muhammadiyah. Sebab, pergantian hari dalam kalender Hijriah dimulai pada waktu matahari terbenam atau Magrib menurut buku Sejarah dan Kebudayaan Islam oleh Prof. Dr. H. Faisal Ismail.

Sama seperti penetapan Idul Fitri, Muhammadiyah juga lebih dulu memutuskan awal 1 Ramadan 1443 H. Ormas tersebut menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Sabtu (2/4/2022), sedangkan pemerintah memutuskan dimulainya puasa pada Minggu (3/4/2022).

Dengan kemungkinan Idul Fitri diputuskan seragam, puasa Ramadan sesuai keputusan pemerintah terkesan mulai belakangan. Namun Idul Fitri dirayakan lebih awal daripada yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Atau dapat dikatakan pula, puasa Ramadan berdasarkan keputusan Kemenag atau pemerintah hanya dilakukan selama 29 hari. Sementara Muhammadiyah melakukan puasa Ramadan sebanyak 30 hari karena dimulai lebih awal daripada pemerintah. Mengapa bisa demikian?

Hal ini disebabkan dari perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan, seperti disampaikan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama (Kemenag) Adib. Metode yang dimaksud adalah imkanur rukyat (pengamatan hilal) dan hisab wujudul hilal (perhitungan astronomis).

Ditambah lagi, pemerintah mulai mengadopsi kriteria baru dari MABIMS pada 2021 yang menetapkan hilal memenuhi syarat bila mencapai ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat. Sebelumnya, kriteria MABIMS hanya menetapkan tinggi hilal minimal 2 derajat dengan sudut elongasi 3 derajat.

2 Metode Penentuan Awal Bulan

A. Metode hisab

Metode hisab ini merupakan metode penentuan awal bulan melalui perhitungan astronomis. Artinya, metode hisab wujudul hilal menentukan awal bulan baru tanpa melakukan pemantauan dengan mata telanjang selama memenuhi kriteria tertentu yakni di antaranya:

  • Telah terjadi ijtimak (konjungsi)
  • Ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam
  • Pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud)

Semua kriteria tersebut harus terpenuhi untuk menandakan dimulainya bulan baru. Apabila ada satu yang tidak terpenuhi maka belum masuk bulan baru.

B. Metode pengamatan hilal

Metode rukyatul hilal didasarkan pada penglihatan dan pengamatan bulan secara langsung. Bulan yang dimaksud adalah bulan sabit muda sangat tipis pada fase awal bulan baru atau yang kemudian disebut sebagai hilal.

Pengamatan hilal dengan metode ini dilakukan pada hari ke-29 atau malam ke-30, dari bulan yang sedang berjalan. Bila malam tersebut hilal sudah terlihat maka malam itu pula sudah dimulai bulan baru.

Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat maka malam itu adalah tanggal 30 bulan yang sedang berjalan. Malam berikutnya dimulai tanggal satu bagi bulan baru atas dasar istikmal (digenapkan).

Sama seperti penentuan awal Ramadan, dalam menentukan 1 Syawal atau Lebaran 2022, pemerintah akan menggunakan dua metode gabungan di atas. Metode hisab digunakan sebagai informasi awal, kemudian hasil pengamatan hilal digunakan untuk mengonfirmasi hasil hisab dan kriterianya.

Sebagai informasi tambahan, menjalankan puasa Ramadan sebanyak 29 atau 30 hari bukan hal asing sejak zaman Nabi SAW. Durasi puasa ini dijelaskan dalam hadits berikut

إِنَّمَا الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

Artinya: "Sesungguhnya dalam sebulan itu terdapat 29 hari. Maka janganlah kalian berpuasa sebelum melihat hilal (Ramadhan) dan janganlah kalian berhenti berpuasa sebelum kalian melihat hilal (Syawal). Jika cuaca mendung, maka genapkanlah (30 hari)." (HR Bukhari).



Simak Video "Hasil Pengamatan Kanwil Kemenag DKI, Posisi Hilal Capai 4 Derajat"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia