Bagaimana Aktivitas Otak Menjelang Kematian? Ini Kata Pakar Unair

Anatasia Anjani - detikEdu
Senin, 04 Apr 2022 13:30 WIB
ilustrasi otak manusia
ilustrasi otak. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta -

University of Tartu Estonia melakukan penelitian mengenai aktivitas otak manusia menjelang ajal kematian. Penelitian ini dilakukan oleh Dr Raul Vicente. Raul dan timnya menggunakan alat electroencephalography (EEG) pada pasien berusia 87 tahun yang menderita epilepsi.

Berkaitan dengan penelitian itu, spesialis neurologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Kurnia Kusumastuti ada beberapa gejala yang dialami manusia menjelang ajal kematiannya.

Gejala itu adalah penurunan kesadaran, saat sudah tidak sadar pasien tidak dapat mengingat memori dalam hidupnya yang baik ataupun buruk. Gejala itu ditemukan pada pasien yang mati secara mendadak. Kesadarannya menurun secara drastis.

"Saat direkam menggunakan EEG, pasien yang menderita epilepsi terkena serangan jantung dan tidak ada darah yang mengalir ke otak. Sehingga tidak ada step-step jelang kematiannya," ujar Kurnia dalam keterangan tertulis Unair yang dikutip Senin (4/4/2022).

Cara Kerja EEG

Kurnia menjelaskan EEG adalah pendeteksi aktivitas gelombang listrik pada otak melalui grafik atau gambar.

"Jadi dengan EEG kita bisa melihat fungsi otak yang ditinjau dari kelistrikannya, terdapat pola gelombang listrik normal. Jadi jika ada penyimpangan gelombang, tandanya ada gangguan pada fungsi otak," kata Kurnia.

Menjelang kematian, otak manusia akan melambat. Dalam keadaan normal, gelombang otak sebanyak 9-10 gelombang per detik. Sedangkan pada orang yang sudah dekat ajalnya kesadarannya akan menurun dan hanya 2-3 gelombang dalam 1 detik.

Adapun, aktivitas listrik pada otak normal dapat diukur dengan microvolt yaitu dengan angka 70-100 microvolt. Namun jelang kematian amplitudo otak semakin rendah yaitu kurang dari 2 microvolt.

"Hasil pengamatan EEG otak manusia yang normal dengan yang terkena penyakit epilepsi menunjukkan pola gelombang yang sama, yaitu lebih dari 2 microvolt dan kurang dari 10 microvolt. Namun terlihat perbedaan pola gelombang pada 1-2 jam menjelang kematian," kata Kurnia.

Lebih lanjut, keadaan otak jelang kematian cenderung melambat, rendah, aktivitas ritmis yang berulang-ulang dalam periode waktu yang sama pada pengidap epilepsi, sedangkan pada otak orang sehat akan meninggal dengan tidak adanya aktivitas ritmis, dan amplitudonya yang berangsur angsur rendah.

Selain menggunakan alat EEG, aktivitas otak menjelang kematian juga diketahui melalui pola napas dan ukuran pupil mata.

"Pola napas dikendalikan oleh otak, pola tersebut dapat diketahui jelang kematian jika terjadi apnea, yaitu napas yang berhenti," kata Kurnia.

Pupil mata yang normal akan membesar jika diberi sinar, lalu mengecil. Jika pupil tidak mengecil artinya fungsi saraf di otak sudah terganggu.



Simak Video "4 Teknologi yang Mencoba "Melawan" Kuasa Tuhan "
[Gambas:Video 20detik]
(atj/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia