Mengenal Cumi Raksasa yang Hidup di Laut Antartika, Si Colossal Squid

Kristina - detikEdu
Minggu, 03 Apr 2022 19:00 WIB
Colossal squid, cumi-cumi raksasa yang hidup di laut Antartika.
Colossal squid, cumi-cumi raksasa yang hidup di laut Antartika. Foto: Ilustrasi Museum of New Zealand Te Papa Tongarewa
Jakarta -

Cumi-cumi kolosal atau colossal squid adalah salah satu spesies misterius di Laut Antartika. Cumi jenis ini hampir mirip dengan cumi raksasa, tapi dengan tentakel yang lebih pendek.

Melansir World Atlas, selain tentakelnya yang pendek, cumi ini memiliki mantel yang lebih besar. Tubuhnya juga lebih lebar dan lebih kompak daripada kebanyakan cumi-cumi lainnya. Panjangnya bisa mencapai 46 kaki atau sekitar 16 meter dan beratnya 1.100 pon atau sekitar 498 kg, hampir setengah ton.

Habitat Cumi-cumi Kolosal

Cumi-cumi kolosal dewasa diketahui hidup di kedalaman hingga 7.200 kaki atau sekitar 2.194 meter di perairan dingin Samudera Selatan. Sedangkan cumi yang masih muda dapat hidup hingga kedalaman 3.300 kaki, setengah kedalaman cumi dewasa.

Hewan yang juga dikenal dengan cumi-cumi Antartika ini juga ditemukan di perairan dekat bagian selatan Selandia Baru, Afrika Selatan, dan Amerika Selatan.

Predator alami mereka adalah paus sperma. Ini diketahui dari penemuan tentakel dan paruh cumi-cumi kolosal yang ada di perut paus sperma. Hal ini diperkuat lagi dengan bekas luka di tubuh paus sperma yang bentuknya mirip dengan kait yang ditemukan pada tentakel cumi-cumi kolosal.

Selain paus sperma, anjing laut gajah (Mirounga angustirostris), paus paruh, hiu dari jenis Somniosus pacificus, serta elang laut juga menjadi predator cumi-cumi kolosal.

Perilaku dan Reproduksi Cumi-cumi Kolosal

Informasi tentang kehidupan sehari-hari cumi-cumi kolosal masih terbatas. Meski demikian, para ilmuwan mengatakan bahwa cumi ini dianggap sebagai hewan yang soliter dengan pergerakan yang lambat.

Hewan dengan nama latin Mesonychoteuthis hamiltoni ini kemungkinan merupakan predator penyergap dan memanfaatkan paruhnya yang besar untuk menyerang mangsanya.

Berkaitan dengan proses reproduksi, belum banyak referensi yang mencatat proses perkembangbiakan cumi-cumi jenis ini. Beberapa hal yang diketahui, cumi-cumi kolosal termasuk hewan dimorfik seksual dengan betina yang lebih besar daripada jantan.

Menurut catatan Museum of New Zealand Te Papa Tongarewa, cumi-cumi kolosal pertama kali dilaporkan pada tahun 1925, ketika kepala dan tentakelnya ditemukan dalam perut paus sperma. Sejak itu, total hanya ada delapan cumi-cumi kolosal dewasa yang telah dilaporkan, enam di antaranya ditemukan dalam bentuk sisa di perut paus sperma.



Simak Video "Beda Pandangan PBNU dan MUI soal Hukum Kurban Hewan Terjangkit PMK "
[Gambas:Video 20detik]
(kri/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia