Soal Gelaran Fashion di Paris, Pakar Unair: Bisa Tingkatkan Engagement

Soal Gelaran Fashion di Paris, Pakar Unair: Bisa Tingkatkan Engagement

Nikita Rosa Damayati Waluyo - detikEdu
Rabu, 23 Mar 2022 16:30 WIB
Kampus UNAIR Surabaya
Pakar Unair soal gelaran fashion di Paris yang diklaim sejumlah brand Indonesia. Foto: Kampus UNAIR Surabaya (dok. Humas Unair)
Jakarta -

Agenda fashion internasional di Paris menarik perhatian warganet Indonesia. Pasalnya, sejumlah brand mengaku berpartisipasi dalam Paris Fashion Week yang merupakan salah satu ajang mode terbesar dunia.

Klaim itu ternyata tidak seluruhnya benar hingga para brand dituding halu dan terkesan membodohi konsumen. Hal ini turut menarik perhatian pakar komunikasi branding Universitas Airlangga (UNAIR) Dina Septiani

"Relevan dengan pencitraan merek, tujuan sebenarnya adalah agar bisa dilihat dan dibicarakan oleh kita. Sekaligus menempatkan brand mereka di kancah internasional, utamanya agar dilihat oleh reseller dan konsumen mereka," kata Dina.

Dikutip dari laman Unair, Dina menjelaskan fenomena tersebut sebetulnya cara untuk memperkuat positioning merek. Cara ini sekaligus bertujuan meningkatkan engagement dengan merek dagang terkait.

"Mereka ingin menciptakan adanya word of mouth, memberitahu follower brand dan brand ambassador yang ikut ke Paris, bahwa mereka sebagai brand Indonesia bisa loh ke Paris, terlepas itu PFW resmi atau tidak," kata Dina.

Dengan membawa banyak selebgram ternama ke pagelaran fashion di Paris, Dina menilai cara tersebut berhasil meningkatkan engagement brand di media sosial. Meski begitu, Dina mengingatkan pentingnya etika dalam berkomunikasi.

"Brand harus dapat memahami batasan etika pemasaran, jika tidak benar maka jangan disampaikan. Tapi kalau ada kesalahpahaman, mari kita lihat apa tindakan yang akan dilakukan brand, apakah meminta maaf atau tidak," ujar Dina.

Semua hal yang disampaikan pada follower atau konsumen harus sesuai dengan kebenaran yang ada, termasuk soal fashion show di Paris. Positioning yang ingin didapatkan suatu brand sudah selayaknya dilakukan dengan mengikuti etika.

Perlakuan yang salah dengan melebih-lebihkan suatu hal sebetulnya tidak tepat. Apalagi jika sampai melanggar etika pemasaran yang sudah selayaknya dipegang teguh. Hasilnya, brand bisa mengalami kerugian akibat pencitraan yang buruk hingga kejatuhan.



Simak Video "Paris Hilton Umumkan Kelahiran Bayinya"
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia