Kenapa Awan Tidak Jatuh ke Tanah Tertarik Gravitasi? Ini Penjelasannya

Fahri Zulfikar - detikEdu
Jumat, 18 Mar 2022 14:00 WIB
Ilustrasi awan lentikularis
Foto: iStock/Sew Chek/Kenapa Awan Tidak Jatuh ke Tanah Tertarik Gravitasi? Ini Penjelasannya
Jakarta -

Pernah bertanya-tanya kenapa awan tidak jatuh ke tanah dan bisa terus melayang di langit? Padahal, benda yang memiliki massa umumnya bisa jatuh karena gaya gravitasi.

Awan merupakan massa yang dapat dilihat dari tetesan air atau kristal beku. Massa awan lebih berat daripada udara di sekitarnya. Sebagai contoh, awan kumulus rata-rata Anda terdiri dari sekitar 400 metrik ton air cair.

Lantas mengapa dengan massa yang berat, awan tidak jatuh? Berikut penjelasannya seperti dikutip dari ZME Science dan BBC.

Kenapa Awan Tidak Jatuh ke Tanah?

Awan Tidak Statis

Hal pertama yang perlu diketahui tentang awan adalah sifatnya sebagai massa yang tidak statis. Jika digambarkan, di dalam awan seperti ada air mancur tempat udara hangat dari bawah bisa mendorong ke atas melalui bagian tengah awan.

Ketika naik mencapai puncak, arus air mancur tersebut bisa mendorong keluar menjadi gumpalan awan. Itulah mengapa awan kumulus sering terlihat menggumpal di atasnya. Setiap tonjolan awan adalah hasil dari salah satu gumpalan udara hangat yang membantu pembentukan awan.

Awan Terbuat dari Tetesan Sangat Kecil

Seperti yang diketahui, awan terbuat dari tetesan air yang sangat kecil. Saking kecilnya, tetesan ini memiliki waktu yang lebih sulit untuk jatuh daripada benda-benda yang lebih berat.

Tetesan air yang sangat kecil itu berdiameter sekitar 0,01 mm. Sebagai gambaran, jika gula batu dibagi jadi satu miliar keping, maka setiap fragmen gula batu tersebut akan berukuran sama dengan tetesan awan.

Saat tetesan-tetesan awan jatuh, gerakannya menghasilkan gesekan dengan udara di sekitar. Karena memiliki massa yang lebih kecil, tetesan air pembentuk awan lebih sulit mendorong ke bawah di udara.

Tetesan Awan Tetap Jatuh

Sama halnya seperti parasut, tetesan awan sebenarnya tetap akan jatuh mengikuti gravitasi. Namun, tetesan air pembentuk awan akan jatuh sangat pelan.

Jatuhnya tetesan awan juga dipengaruhi peran angin. Ada angin yang bisa bertiup tegak lurus dengan tanah, lurus ke atas atau disebut updraft. Jenis angin ini yang menghentikan tetesan kecil agar tidak jatuh.

Jika tidak ada udara di perjalanan, gravitasi akan membuat tetesan awan dan benda seperti sebutir timah jatuh pada kecepatan yang sama.

Tetapi, udara mendorong kembali benda-benda yang jatuh melaluinya. Nah, dorongan udara lebih berpengaruh daripada gravitasi ketika sebuah benda sangat kecil seperti tetesan air pembentuk awan ini. Udara bisa membawa tetesan awan bergerak ke atas lebih cepat daripada saat jatuh.

Jadi, bisa dikatakan juga bahwa seluruh awan tidak jatuh sekaligus, seperti halnya sepotong besar es batu.

Tetesan awan terbesar jatuh terlebih dahulu, diikuti oleh tetesan yang lebih kecil secara bertahap sampai tidak ada cukup air yang tersisa untuk membentuk lebih banyak tetesan.

Nah, itulah jawaban kenapa awan tidak jatuh. Jadi, sebenarnya tetesan air pembentuk awan tetap bisa jatuh ya, detikers!



Simak Video "Penampakan Awan Hitam Berbentuk Ombak di Langit Kukar Kaltim"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/twu)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia