Disinformasi dan Inferiority Complex di Paris Fashion Week, Ini Kata Pakar

Anatasia Anjani - detikEdu
Senin, 14 Mar 2022 15:30 WIB
glamour shot of attractive blond hair woman with her dress in the wind posing with Eiffel Tower in background and feeling seductive.
Pakar UM Surabaya soroti disinformasi dan inferiority complex jenama Indonesia di Paris Fashion Week. Foto: Getty Images/stock_colors
Jakarta -

Fenomena Paris Fashion Week 2022 menghebohkan media sosial di awal tahun. Pasalnya, sejumlah brand Indonesia mengaku tampil dalam perhelatan tersebut.

Hal ini menarik perhatian dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya Radius Setiyawan. Menurut dosen yang berfokus di Cultural Studies tersebut, fenomena ini termasuk dalam kategori disinformasi dan sindrom inferiority complex.

"Beberapa hari ini sosial media dibuat gaduh oleh beberapa brand dan artis yang mengaku tampil di PWF 2022, padahal brand lokal tersebut hanya tampil di Paris Fashion Show yang diselenggarakan oleh Gekraf, bukan Paris Fashion Week milik Fédération de la Haute Couture et de la Mode (FHCM). Fenomena go internasional masih menjadi obsesi banyak brand dan banyak artis di tanah air," kata Radius yang dilansir dari laman UM Surabaya, Senin (14/3/2022).

Radius berpendapat, obsesi segenap pihak yang ingin tampil di Paris Fashion Week merupakan hal wajar. Namun hal itu dapat menjadi masalah apabila melakukan disinformasi terhadap publik.

Apa Itu Disinformasi?

Disinformasi adalah informasi yang salah dan orang yang menyebarkannya tahu bahwa hal tersebut merupakan suatu kesalahan.

"Disinformasi masuk dalam kategorisasi hoax. Secara definisi disebut kepalsuan yang sengaja dibuat-dibuat untuk menyamarkan sebagai kebenaran. Hal tersebut tentu hal yang tidak baik dan tentunya berisiko. Di tengah masyarakat melek media, harusnya para artis berhati-hati betul akan informasi yang dibagikan," jelas Radius.

Karier Go Internasional sebagai Wacana Kolonial

Selain itu, ia mengatakan obsesi untuk go international merupakan sebuah fenomena lama. Ia menganggap imajinasi untuk berkarier di luar negeri terutama Eropa atau Amerika sebagai tempat yang lebih baik merupakan wacana kolonial.

"Dalam konteks Indonesia hal tersebut bukan sesuatu hal yang baru. Menjadikan Barat sebagai standar keberhasilan dan ukuran kesuksesan. Di beberapa tayangan film atau hiburan di televisi, banyak kita saksikan hal-hal tersebut. Sebagai sebuah semangat tidak masalah. Tetapi akan menjadi masalah ketika menempatkan segala sesuatu seolah lebih rendah dari yang di luar negeri," jelas Radius.

Adapun fenomena Paris Fashion Week juga disebut sebagai sindrom inferiority complex. Inferiority complex yaitu menganggap budaya asing dan bangsa lainnya lebih superior daripada kita.

"Sikap rendah diri, minder, dan menganggap yang dari luar selalu lebih bagus sehingga ukuran keberhasilan selalu dari luar adalah sebuah fenomena khas dunia bekas jajahan. Apalagi obsesi-obsesi tersebut dilakukan dengan cara-cara yang tidak tepat seperti fenomena Paris Fashion Week 2022 ini," kata Radius.



Simak Video "Hati-hati! Paris Fashion Week Peringatkan soal Pencurian Identitas"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/twu)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia