Pakar Sejarah Unpad Sebut Musik Indonesia Bisa Mendunia, Kok Bisa?

Anatasia Anjani - detikEdu
Minggu, 13 Mar 2022 10:00 WIB
Sejumlah toko musik menjual album musik dalam bentuk kaset dan vinyl di Blok M Square, Jakarta, Rabu (2/2/2022). Terdapat banyak toko musik yang menjual kaset dan vinyl dari musisi dalam maupun luar negri dengan harga mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.
Penjual kaset dan vinyl musik. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Musik Indonesia pernah berjaya pada tahun 1960an. Kejayaan tersebut berhasil membawa musik Indonesia hingga pasar internasional.

Dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) R.M. Mulyadi menyebut musik Indonesia juga membawa pengaruh bagi kebiasaan mendengarkan lagu pada masyarakat Malaysia.

Dosen yang akrab disapa Lucky ini menambahkan, pada tahun 1960-1970an, sebanyak 60 persen lagu-lagu yang diputar di Malaysia adalah lagu Indonesia.

"Hal ini menjadikan habit bagi orang Malaysia dalam mendengarkan musik, mereka akhirnya terbiasa mendengarkan musik Indonesia," kata Lucky yang dikutip dari laman Unpad, Sabtu (12/3/2022).

Musik Indonesia Berhubungan dengan Kebijakan Politik

Popularitas musik Indonesia menurut Lucky tidak jauh dari kebijakan politik kala itu. Ia menjelaskan, kebijakan pemerintah kala itu menguntungkan industri musik Indonesia. Misalnya yaitu kebijakan Presiden Soekarno yang melarang lagu-lagu Barat sehingga lagu lokal berkembang.

Lucky juga melakukan penelitian tentang industri pop Malaysia yang menurutnya berbeda dengan Indonesia. Ia mendapati, Malaysia tidak memiliki kebijakan pelarangan seperti itu di masanya. Terlebih, banyak perusahaan rekaman asing yang beroperasi di era tersebut.

Selain itu, Indonesia juga pernah meminjamkan koleksi piringan hitam miliki Radio Republik Indonesia (RRI) ke Malaysia. Hal ini menyebabkan lagu-lagu Indonesia diputar di Malaysia.

Pada era Orde Baru, sambungnya, industri musik menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar di Indonesia. Hal itu kemudian disadari oleh musisi tahun 1970-an.

Lucky menyampaikan sebelum akhir 1970-an, musisi belum dianggap sebagai profesi melainkan hobi semata. Banyak grup musik yang bubar karena personelnya memutuskan untuk melanjutkan studi atau membuka usaha.

"Contohnya ada biduanita sewaktu diwawancara wartawan masih ditanya cita-citanya apa. Padahal dia sudah jadi penyanyi dan membuat beberapa album," jelas Lucky.

Berpotensi Dikenal Dunia

Menurut Lucky, musik Indonesia berpotensi dikenal dunia dan dapat meniru kesuksesan industri pop Korea Selatan.

"Korea melihat ada keuntungan ekonomi, bahwasanya industri musik itu adalah industri besar," ujar Lucky.

Lucky melihat industri musik dan film Korea Selatan terus mengalami perkembangan. Menurutnya ini tidak hanya persoalan ekonomi saja. melainkan adanya diplomasi budaya yang dibawa sehingga mampu meningkatkan hubungan bilateral dengan negara lain.

"Indonesia harusnya sudah bukan lagi wacana," kata Lucky.



Simak Video "Grup Musik Roxx Cari Keberadaan Produser Dannil Setiawan, Ada Apa?"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/twu)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia