Mengenal Anonymous: Retas Situs Rusia, Dukung Ukraina

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 02 Mar 2022 20:00 WIB
anonymous guy fawkes
Aksi Anonymous dukung Ukraina, retas situs pemerintahan Rusia dan lainnya. Foto: Wikimedia Commons
Jakarta -

Kolektif Anonymous menyatakan cyber war melawan pemerintah Rusia atas serangan ke Ukraina. Sejak pernyataan tersebut, Anonymous mengklaim bertanggung jawab atas peretasan data Kementerian Pertahan Rusia dan situs-situs pemerintah Rusia, serta penayangan foto invasi dan lagu perjuangan Ukraina di televisi pemerintah Rusia.

"Kolektif Anonymous kini resmi perang siber melawan pemerintah Rusia. #Anonymous #Ukraine," cuit akun @YourAnonOne, Jumat (25/2/2022).

Anonymous dan Aksinya

Siapa Anonymous?

Anonymous adalah kolektif aktivis siber dari berbagai negara yang mengklaim bekerja untuk semua kelas pekerja demi membaiknya masa depan kemanusiaan. Anonymous menyatakan bekerja dengan prinsip kebebasan informasi, kebebasan berpendapat, akuntabilitas untuk perusahaan dan pemerintahan, dan privasi serta anonimitas bagi warga, seperti dikutip dari akun resminya.

Atas dasar prinsipnya dan gerakannya, anggota Anonymous atau anons dikenal lewat protes berbentuk serangan siber pada badan pemerintahan dan perusahaan. Serangan siber tersebut di antaranya mendukung protes pada pemerintahan Turki yang dipercaya bekerja sama dengan ISIS dan protes atas tragedi kematian George Floyd pada 2020.

Dukung WikiLeaks bocorkan dokumen intelijen AS

Semula, Anonymous berfokus pada anonimitas dan hiburan, salah satunya di Encyclopaedia Dramatica. Serangan DDoS "Operation Payback" yang dilancarkan Anonymous pada 2010 lantas membuat gerakan ini kenamaan. Saat itu, Anonymous menyerang situs situs MasterCard, Visa dan PayPal karena berhenti berbisnis dengan WikiLeaks, seperti dikutip dari CNN.

WikiLeaks sebelumnya membocorkan ratusan ribu dokumen rahasia intelijen AS tentang keterlibatan di perang di Irak dan Afghanistan serta hampir seperempat juta kabel Departemen Luar Negeri.

Protes akses internet dan informasi di Arab Saudi - Tunisia

Anonymous menyerang situs pemerintah Arab Saudi dan Tunisia pada 2011 untuk mendukung protes masyarakat akan pembatasan hak akses internet dan informasi.

"Anonymous adalah kamu. Kamu tidak akan mendapat penolakan atas hak kebebasan berpendapat, kebebasan berasosiasi, dan hak universal untuk mengakses informasi secara langsung maupun lewat internet dengan bebas," bunyi voice over di situs pemerintahan Arab Saudi dan Tunisia yang sudah diretas, seperti dikutip dari CNN.

Masyarakat yang saat itu turun ke jalan lalu turut mengenakan topeng Guy Fawkes, atribut khas anggota Anonymous.

'Mengembalikan' Taiwan jadi anggota PBB

Anonymous meretas situs PBB pada 2020 dan membuat halaman baru untuk Taiwan. Pada 1971, Taiwan dikeluarkan dari PBB atas permintaan China.

Laman Taiwan di situs PBB diletakkan di bagian Departemen Ekonomi dan Sosial. Dikutip dari Taiwan News, situs PBB juga ditambahi bendera Taiwan, emblem Kuomintang (KMT) atau bendera kemerdekaan Taiwan, logo Anonymous, dan kalimat "TAIWAN NUMBAH WANNNN!!," kutipan kenamaan dari game streamer AngryPug pada 2015.

Anonymous di Konflik Rusia-Ukraina

Situs pemerintahan Rusia kremlin.ru termasuk media pemerintah Russia Today down akibat serangan DDoS Anonymous. Hingga hingga Rabu (2/3/2022), situs resmi Presiden Rusia Vladimir Putin kremlin.ru dan Kementerian Pertahahan Rusia tidak dapat diakses.

Sebelumnya, Pemerintah Ukraina melaporkan adanya gelombang hacks atau peretasan yang ditujukan pada Ukraina. Peneliti dari perusahaan keamanan siber ESET menemukan software destruktif penghapus data beredar di ratusan komputer Ukraina sejak 2 bulan lalu. Korban malware tersebut mencakup data lembaga pemerintahan dan institusi keuangan Ukraina, seperti dikutip dari Reuters.

Di hari yang sama, situs pemerintahan Ukraina seperti kementerian luar negeri dan layanan keamanan juga down. Pemerintah Ukraina mengatakan, serangan ini bertujuan membuat layanan siber pemerintahan Ukraina tidak tersedia karena traffic atau distributed denial of service (DDoS).

Peneliti Vikram Thakur dari firma keamanan siber Symantec juga mendapati serangan siber terdeteksi di Latvia dan Lithuania, negara Baltik yang mendukung Ukraina di konflik Rusia-Ukraina. Program tersebut diperkirakan sudah terpasang di Ukraina sejak 2 bulan lalu.

Wakil Perdana Menteri dan Menteri Transformasi Digital Ukraina Mykhailo Fedorov meminta bantuan untuk menangani dan mengantisipasi serangan siber Rusia.

"Kami sedang membuat IT Army. Kami butuh talenta digital. Semua tugas operasional akan diberikan di sini https://t.co/Ie4ESfxoSn. Akan ada tugas untuk semua orang. Kita lanjut berjuang di front siber. Tugas pertama yakni di kanal spesialis siber," kata Fedorov dalam cuitan, Minggu (27/2/2022).

Dikutip dari The Washington Post, kendati dinilai sebagai serangan skala kecil ketimbang malware yang diterima Ukraina, aksi Anonymous mendapat respons dari masyarakat.

Sejumlah simpatisan Ukraina salah satunya diduga menjadi penyebab situs Moscow Stock Exchange tidak dapat diakses, setidaknya hingga Rabu (2/3/2022) . Kelompok yang diduga bukan warga Ukraina ini mengklaim berafiliasi dengan Anonymous.



Simak Video "PBB Prediksi 90% Warga Ukraina Terancam Miskin Akibat Perang"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia