5 Dampak Perang Rusia-Ukraina Menurut Para Peneliti

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 27 Feb 2022 13:00 WIB
The Palazzo Marino in Milan, Italy, is lit up in the colors of the flag of Ukraine following the Russian attack of Ukraine. Russia is pressing its invasion of Ukraine to the outskirts of the capital after unleashing airstrikes on cities and military bases and sending in troops and tanks from three sides. (Claudio Furlan/LaPresse via AP)
Berbagai warga dunia termasuk di Italia menyalakan lilin sebagai simbol dukungan pada Ukraina. Berikut dampak perang Rusia-Ukraina secara global hingga Indonesia. Foto: AP Photo/Claudio Furlan
Jakarta -

Dampak perang Rusia-Ukraina menurut sejumlah peneliti tidak hanya akan dirasakan kedua negara tersebut serta pendukungnya, tetapi juga secara global. Dampak tersebut salah satunya mengenai sektor ekonomi dan politik.

Invasi Rusia ke Ukraina berlangsung sejak Kamis (242/2/2022) dengan sejumlah serangan udara di pangkalan militer dan kota-kota besar termasuk Kyiv, ibu kota Ukraina. Dikutip dari CNN, invasi Rusia tersebut mengakibatkan sanksi besar-besaran oleh negara-negara Barat untuk merusak ekonomi Rusia dan menegaskan presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pihak bersalah.

Sejumlah peneliti dari lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dan Paramadina Graduate School of Diplomacy mengatakan, respons berbagai negara ini dapat berimbas secara global, termasuk Indonesia. Berikut selengkapnya.

Dampak Perang Rusia-Ukraina

1. Aliansi Rusia dan antisipasi perluasan konflik

Peneliti INDEF Eisha M. Rahcbini mengatakan, Amerika Serikat setidaknya telah memberikan sanksi pada pemain pasar keuangan dan perusahaan teknologi Rusia. Ia menjelaskan, kendati berdampak pada ekonomi Rusia, negara ini masih mungkin mendapat bantuan keuangan dan perdagangan dari China.

Peneliti Ahmad Khoirul Umam dari Paramadina Graduate School of Diplomacy menambahkan, negara-negara di Asia Tenggara harus mengantisipasi perluasan konflik agar tidak berpindah ke kawasan Asia Tenggara. Ia mengatakan, konsolidasi kekuatan di kawasan Indo-Pasifik sebelumnya dibuat melalui deklarasi pakta pertahanan Australia, United Kingdom dan United States of America (AUKUS) pada September 2021.

"Telah menjadi rahasia umum, pakta pertahanan AUKUS ini dihadirkan sebagai upaya perimbangan kekuatan (balance of power) terhadap China yang semakin mengokohkan pengaruh dan kekuatan ekonomi-politik serta pertahanannya di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik secara general," kata Khoirul Umam dalam siaran Twitter Space Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini, ditulis Minggu (27/2/2022).

"Jangan sampai Asia Tenggara, khususnya Indonesia, menjadi ajang medan pertempuran dan adu pelanduk di antara dua kekuatan besar di kawasan. Perlu komitmen semua negara di kawasan harus terus ditegakkan, untuk menghadirkan kerja-kerja diplomasi dan komunikasi politik yang jujur, transparan, dan akuntabel," imbuhnya.

2. Kenaikan harga komoditas dunia

Eisha mengatakan, perang dapat berisiko pada kenaikan harga komoditas dari Rusia-Ukraina. Ia menjelaskan, Russia adalah salah satu produsen dunia minyak bumi, kalium karbonat (potash) bahan baku pupuk, dan industri pertambangan seperti nikel, alumunium dan palladium. Rusia dan Ukraina juga merupakan negara pengekspor utama gandum.

Ia menambahkan, perang Rusia-Ukraina dapat berdampak pada kenaikan harga minyak bumi yang diperkirakan meningkat mencapai lebih dari $100/barrel. Sementara itu, harga bahan bakar minyak meningkat di AS dan Eropa sebesar 30%.

3. Pemulihan ekonomi pasca COVID-19 terancam lebih rendah

Jika perang berlanjut, kata Eisha, pemulihan ekonomi global juga terancam akan lebih rendah dari prediksi awal. Ia mengatakan, pemulihan ekonomi dunia post COVID-19 dengan ancaman inflasi sebelumnya telah terlihat di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat hingga Indonesia.

Ia merinci, prediksi awal pertumbuhan ekonomi global diprediksi 4.4% pada 2022, 3.8% pada 2023, 3.9% pada negara maju di tahun 2022, dan 2.6% di negara berkembang pada tahun 2023.

Peneliti Mahmud Syaltout dari Paramadina Graduate School of Diplomacy menambahkan, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) Indonesia juga bisa semakin terbebani karena perang Rusia-Ukraina. Sebab, sebagai negara pengimpor minyak bumi, harga minyak yang melambung berisiko menggangu pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membaik pada 2021.

4. Suplai komoditas dan logistik terhambat

Eisha mengatakan, rantai pasokan global sebelumnya sudah mengalami hambatan logistik akibat COVID-19. Konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan, sambungnya, berisiko memperburuk supply chain dan memicu kenaikan harga komoditas.

Ia menjelaskan, jika suplai komoditas dan logistik pengiriman terhambat, lalu infrastruktur utama seperti pelabuhan di area Laut Hitam rusak akibat perang, maka negara maju dapat memberikan sanksi banned atas komoditas Rusia. Tetapi,sanksi ini juga dapat memperburuk harga komoditas karena pasokan komoditas alam dari Rusia untuk global ikut turun.

5. Potensi harga ekspor naik

Mahmud mengatakan, kendati perang membuat kerugian dan krisis perdagangan maupun ekonomi, ada beberapa negara yang justru diuntungkan. Ia mencontohkan, negara penghasil emas, perak, alumunium, dan nikel seperti Indonesia mengalami kenaikan harga komoditas saat konflik Rusia-Ukraina berlangsung.

Ia menambahkan, negara lain penghasil minyak, gas bumi, perak, emas, nikel dan alumunium, hingga palladium juga mengalami kenaikan ini.

"Untung dan rugi secara ekonomi maupun perdagangan dalam konflik Russia-Ukraina ini bukan hanya bergantung pada sisi mana kita berpihak secara politik, (ke Rusia atau Ukraina), tapi juga bergantung pada interdependensi perdagangan kita, apakah dengan jejaring dagang aliansi besar Russia ataukah aliansi Ukraina-US-EU dan juga secara khusus pada komoditas ekspor dan impor kita," kata Mahmud.



Simak Video "Pasar Saham Asia Anjlok Imbas Serangan Rusia ke Ukraina"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia