Badan Bahasa: 8 Bahasa Daerah Punah dan Puluhan Lainnya Terancam

Tim detikcom - detikEdu
Jumat, 18 Feb 2022 20:30 WIB
Sejumlah warga yang tergabung dalam Perkumpulan Gerakan Kebangsaan melakukan Aksi Sosialisasi Sukseskan Pilkada  2020 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Senin (7/12). Kegiatan sosialiasi suksekan Pilkada yang dilakukan dengan atribut pakaian adat dengan bahasa daerah itu bertujuan untuk mensukseskan Pilkada 2020 serentak di 270 daerah agar berjalan tertib dan damai serta menerapkan protokol kesehatan pada 9 Desember mendatang
Sosialisasi Pilkada dengan bahasa daerah beberapa waktu lalu (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Hasil penelitian vitalitas bahasa yang dilakukan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) dalam rentang tahun 2011-2019 menunjukkan 8 bahasa daerah di Indonesia telah punah. Bahasa-bahasa ini berada di bagian timur Indonesia yakni di Maluku dan Papua.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Endang Aminudin Aziz menyebut bahasa yang punah di Maluku ada bahasa Kaiely, Moksela, Piru, Palumata, Hukumina. "Sementara di Papua ada bahasa Tandia dan Mawes," ujar Aminudin dalam Forum Diskusi Redaktur Media, Jumat (18/2/2022).

Penelitian tersebut dilakukan pada 94 bahasa dari 718 bahasa daerah yang telah terpetakan. Selain punah, didapatkan pula 5 bahasa dalam keadaan kritis, 24 bahasa terancam punah, 12 bahasa dalam kondisi rentan, dan 21 lainnya berstatus aman.

Menurut Aminudin, kepunahan bahasa terjadi terutama karena para penuturnya tidak lagi menggunakan atau mewariskan bahasa tersebut kepada generasi berikutnya. "Kepunahannya bahasa umumnya karena sikap penuturnya merasa tidak penting lagi menggunakan bahasa daerah," ujarnya.

Lalu apakah bahasa yang punah tersebut dapat dihidupkan kembali? Aminudin menyampaikan ada preseden di sejumlah negara contohnya di Selandia Baru. "Di Selandia Baru bahasa Maori sudah mati, tidak dituturkan lagi para pemakainya," ujar mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London itu.

Sebuah tim dari sebuah universitas kemudian menginvestigasi kembali struktur bahasa Maori. Setelah itu, tata bahasanya disusun kembali. "Kini bahasa Maori diajarkan dan hidup lagi," ujar Aminudin.

Namun yang terpenting, menurut Aminudin upaya menghidupkan kembali sebuah bahasa harus dikembalikan pada masyarakat penutur. "Kalau pemilik bahasa menyatakan tidak mau (revitalisasi) ini akan sulit," ujarnya.



Simak Video "JIS Diminta Punya Nama Bahasa Indonesia, Wagub: Kami Pertimbangkan"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia