Pakar UGM Perkirakan Akhir Gelombang 3 COVID-19 Omicron

Pakar UGM Perkirakan Akhir Gelombang 3 COVID-19 Omicron

Anatasia Anjani - detikEdu
Selasa, 08 Feb 2022 13:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Indonesia tengah mengalami lonjakan kasus gelombang ketiga COVID-19 dengan varian Omicron. Menurut Wakil Dekan Bidang Kerjasama Alumni, dan Pengabdian Masyarakat FK-KMK UGM, Yodi Mahendradhata mengungkapkan jika saat ini Omicron telah menggantikan posisi Delta.

"Lonjakan kasus ini nyata, kita telah memasuki gelombang 3 dengan puncaknya diprediksikan pada akhir bulan Februari 2022. AHS UGM perlu memaksimalkan potensinya untuk menghadapi varian Omicron," kata Yodi yang dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada (UGM).

Yodi berharap agar pemerintah lebih siap menghadapi gelombang 3 Omicron dengan mengedepankan mitigasi kebijakan nasional. Mitigasi itu dapat dilakukan dengan menguatkan sistem rujukan, komunikasi, shelter masyarakat, maupun rumah sakit lapangan.

"Konsolidasi ini untuk memperkuat apa yang sudah dipersiapkan agar upaya mitigasi bisa dilakukan secara maksimal," imbuh Yodi.

Melihat Kasus dari India

Adapun menurut pakar epidemiologi FK-KMK UGM, Riris Andono Ahmad, mengatakan jika kasus Omicron yang terjadi di Amerika Serikat, Australia, Inggris maupun India mungkin akan menyebabkan situasi darurat seperti saat gelombang varian Delta di Indonesia atau akan sebaliknya.

"Kalau kita melihat secara global, hari ini memang Omicron berhasi mendorong kasus jauh lebih tinggi daripada varian sebelumnya. Meskipun dengan jumlah kematian lebih kecil daripada gelombang varian Delta. Omicron ini penyumbang kasus terbesar di Eropa dan Australia, namun untuk Asia masih tergolong relatif kecil untuk saat ini," kata Doni.

Doni berpendapat agar Indonesia mempelajari tren kasus dari India. Hal ini dikarenakan Indonesia mengalami kenaikan kasus setelah India mengalami penurunan kasus.

Tingkat Reinfeksi Tinggi

Lebih lanjut, Doni mengatakan jika gejala umum Omicron relatif sama dengan varian lainnya termasuk yang tanpa gejala. Tetapi, tingkat reinfeksi Omicron lebih tinggi daripada varian lain.

"Data dari Inggris menunjukkan bahwa Omicron memiliki kemampuan reinfeksi 16 kali lipat. Capaian vaksinasi tinggi bukan berarti kita akan bisa menghindari meluasnya Omicron. Problemnya adalah ketika Rate hospital dan kematian rendah, dengan transmisi lebih tinggi maka Omicron bisa menghasilkan efek lebih tinggi dari varian Delta," kata Doni.

Hal yang Harus Diperhatikan

Doni mengungkapkan harus memperhatikan empath al dalam pengendalian Omicron, yaitu sebagai berikut:

1. Kasus infeksi yang tinggi menyebabkan kebutuhan isolasi dengan kapasitas yang jauh lebih besar untuk antisipasi.

2. Jumlah hospitalisasi bisa sama atau lebih tinggi dari gelombang Delta jika kasus infeksi ini mengalami peningkatan dengan cepat.

3. Jumlah kematian Omicron bisa sama dengan gelombang Delta.

4. Tingginya kasus anak dalam gelombang Omicron ini mengakibatkan munculnya kebutuhan tempat isolasi ramah anak.

5. Orang yang belum tervaksinasi dan komorbid menjadi kelompok rentan atau berisiko tinggi hospitalisasi dan kematian dari kasus Omicron.



Simak Video "UGM Dapat Hibah 5 Pesawat Microlight dari KLHK"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia