Soal Sultan Dadakan Tuban yang Jadi Bangkrut, Apa Kata Ahli UM Surabaya?

Anatasia Anjani - detikEdu
Rabu, 02 Feb 2022 13:15 WIB
Potret Kampung Miliarder
Kampung Miliarder Tuban. (YouTube Jejak Bang Ibra)
Jakarta -

Media sosial sempat diramaikan dengan pemberitaan kampung miliarder di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Tuban, Jawa Timur pada tahun 2021. Pasalnya, warga di kampung tersebut menerima uang untuk lahan pertanian yang mereka jual dari Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP).

Uang tersebut lalu mereka gunakan untuk membeli mobil, sepeda motor, hingga membangun rumah. Namun setahun berlalu, sebagian warga kampung miliarder Tuban melakukan demonstrasi karena uang simpanan mereka habis. Mereka juga mengaku tak kunjung diberi pekerjaan usai pembebasan lahan.

Warga yang melakukan demo tepatnya dalam kategori Ring 1 yang terdampak proyek PRPP, yakni warga Desa Wadung. Mayoritas mereka hanya memiliki tanah pekarangan dan rumah. Hasil uang pembebasan itu hanya bisa digunakan membeli tanah dan membangun rumah kembali.

Melihat fenomena tersebut, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya Arin Setyowati menjelaskan, fenomena tersebut merupakan contoh fatal akibat without planning over budgeting atau anggaran lebih besar dari yang direncanakan. Hal ini dapat berujung pada sifat konsumtif dari warga.

"Sehingga yang dibelanjakan lebih banyak dan sifatnya konsumtif. Bukan aset produktif yang bisa menjadi alternatif sebagai pendapatan pengganti untuk keberlangsungan hidup selanjutnya," kata Arin, seperti yang dilansir dari laman resmi UM Surabaya, Rabu (2/2/2022).

Fenomena itu juga terjadi, kata Arin, sebagai akibat minimnya literasi keuangan pada masyarakar di kampung miliarder Tuban tersebut. Menurut Arin, mereka tidak memikirkan pengeluaran jangka panjang dan tenggelam dalam kesenangan sesaat.

Untuk itu ia menekan pentingnya memahami literasi keuangan. Literasi keuangan sendiri maknanya adalah kemampuan seseorang untuk mengelola uang secara efektif. Orang yang mampu mengelola uang dengan baik mengerti kebutuhan prioritasnya mana yang harus dipenuhi atau tidak.

"Literasi keuangan menjadi salah satu skill penting yang dibutuhkan masa kini, dan internalisasinya perlu sedini mungkin sehingga akan membentuk habit dan menjadi karakter baik bagi setiap generasi. Terlebih bagi umat muslim, bahwa perencanaan dan pengelolaan keuangan maupun harta yang tepat sangat penting diperhatikan untuk bekal di akhirat," kata Arin, yang dikutip dari laman UM Surabaya.

Lebih lanjut, Arin menambahkan ada literatur soal pengelolaan keuangan yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut literatur tersebut, alokasi keuangan dibagi ke dalam beberapa pos.

Rinciannya adalah pengeluaran zakat dan sumbangan sebesar 5 persen, tabungan dan dana darurat 10 persen, biaya rumah tangga kebutuhan 40 persen, investasi masa depan 5 persen, dana pendidikan anak 10 persen, cicilan pinjaman 20 persen, premi asuransi 5 persen, dan hiburan sebesar 5 persen.

"Alokasi persentase tersebut merupakan komposisi ideal, persentase tersebut menjadi standar minimum dalam upaya pengelolaan keuangan yang baik dan tentu harus dilanjutkan dengan disiplin menjaga pola anggaran tersebut," tandas Arin.



Simak Video "BPS: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal II-2022 5,44%"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/rah)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia