Kenapa Salju Bisa Turun di Gurun yang Dikenal Bersuhu Panas? Ini Kata Pakar

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 24 Jan 2022 16:17 WIB
Salju di Gurun Sahara
Foto: Karim Bouchetta via Daily Mail
Jakarta -

Belum lama ini media sosial twitter kembali dihebohkan dengan fenomena salju yang turun di Gurun Sahara. Seorang fotografer bernama Karim Bouchetata menangkap foto salju dan es yang ada di dekat Kota Ain Sefra, sebelah barat laut Aljazair.

Fenomena salju yang turun di gurun ini bukanlah hal yang pertama. Dalam kurun waktu 42 tahun, sudah terjadi setidaknya lima kali di pegunungan Sefra yakni 1979, 2016, 2018, 2021, dan 2022, dikutip dari Daily Mail.

Kenapa Salju Bisa Turun di Gurun Sahara?

Salju dan es memang tidak biasa di daerah gurun tetapi tidak sepenuhnya tidak diketahui. Suhu di gurun bisa turun drastis dalam semalam, tetapi hujan salju biasanya mencair lebih awal pada hari berikutnya.

Dalam kasus seperti yang di Ain Sefra Aljazair, sistem tekanan tinggi dari udara dingin telah berpindah ke gurun, menyebabkan suhu yang lebih rendah.

Antisiklon semacam itu cenderung mencapai Arab Saudi dengan bergerak searah jarum jam keluar dari Asia Tengah, mengambil uap air dalam perjalanan yang mendingin membentuk salju.

Januari 2021 dan 2022 salju turun di Sahara dan Arab Saudi, tetapi ini bukan pertama kalinya titik-titik panas yang biasanya terik ini diselimuti warna putih.

Anjlok hingga -2 Derajat Celcius

Dikenal sebagai salah satu gurun terpanas di dunia, suhu Gurun Sahara tercatat bisa mencapai 58 derajat celsius. Namun, dalam beberapa tahun terakhir suhu bisa anjlok hingga -2 derajat celcius.

Akibatnya, es menyelimuti permukaan gurun dan menciptakan pemandangan langka sekaligus indah. Bahkan di beberapa spot, es bisa menumpuk di bukit-bukit pasir.

Meski suhu udara yang berubah-ubah di daerah gurun adalah hal yang lumrah, namun fenomena es dan salju dinilai sebagai hal yang langka.

Krisis Iklim

Roman Vilfand, kepala Layanan Federal Rusia untuk Hidrometeorologi dan Pemantauan Lingkungan, mengatakan bahwa krisis iklim dapat berperan dalam hujan salju Sahara.

"Situasi seperti itu, termasuk hujan salju di Sahara, musim dingin yang panjang di Amerika Utara, cuaca yang sangat hangat di bagian Eropa Rusia dan hujan berkelanjutan yang memicu banjir di negara-negara Eropa Barat, telah terjadi lebih sering," katanya dikutip dari The Independent.

"Kekambuhan yang tinggi dari kondisi (cuaca) ekstrem ini berasal dari pemanasan global. Ini bukan hanya sudut pandang saya, tetapi juga pendapat yang dibagikan oleh anggota Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim."



Simak Video "Langit Spanyol Berubah Jadi Oranye Akibat Badai Celia"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia