6 Pencapaian Kelam di Dunia pada 2021, Ada Kawasan Es Terakhir Mencair

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 31 Des 2021 09:00 WIB
In this long exposure photo, embers light up hillsides as the Dixie Fire burns near Milford in Lassen County, Calif., on Tuesday, Aug. 17, 2021. (AP Photo/Noah Berger)
Beragam aktivitas manusia meraih pencapaian kelam di dunia sepanjang 2021. Berikut daftarnya. Foto: AP Photo/Noah Berger
Jakarta -

Aktivitas manusia punya peran besar untuk peradaban, mulai dari kemajuan teknologi hingga pendidikan. Namun, berbagai pencapaian manusia juga berdampak pada iklim dan bumi.

Bencana badai, kekeringan, kenaikan permukaan laut, kebakaran hutan, gelombang panas, dan banjir yang menelan korban jiwa merupakan salah satu dampak dari aktivitas manusia dalam menggunakan bahan bakar fosil sehari-hari dan membuat gas rumah kaca terbang ke atmosfer, seperti dikutip dari Live Science.

Berikut daftar pencapaian kelam manusia pada 2021 bagi dunia.

Pencapaian kelam di dunia 2021

Berbagai fenomena dalam pencapaian kelam merujuk pada perbuatan manusia yang berdampak buruk pada iklim dan lingkungan.

1. Hutan hujan pabrik karbon

Hutan hujan tropis disebut juga jantung planet karena memproduksi oksigen dan menyerap karbon dioksida. Namun, peran ini sudah berbalik. Hutan hujan tropis kini 'memproduksi' karbon dioksida terbanyak lewat daripada yang bisa diserapnya karena pembakaran hutan.

Hutan Amazon contohnya, menghasilkan ebih dari 1.1 miliar ton kubik karbon dioksida per tahun, sementara hanya dapat menyerap setengah miliar ton kubik per tahun, seperti ditulis peneliti Luciana V. Gatti dalam Amazonia as a Carbon Source Linked to Deforestation and Climate Change di jurnal Nature.

2. Kawasan es terakhir di dunia mencair

Kawasan es di Greenland semula diperkirakan akan tetap menjadi kawasan paling beku meskipun iklim Bumi memanas. Namun, kawasan yang disebut Last Ice Area ini mungkin tidak bisa bertahan melalui pemanasan global.

Pada 2020, kawasan es di Laut Wandel di timur Last Ice Area menyusut hingga 50 persen saat musim panas. Ilmuwan mendapati, pemanasan global menyebabkan pencairan kawasan Last Ice Area sepanjang tahun sehingga ketebalan es menurun cepat. Kini, kawasan es di Greenland diperkirakan hilang pada 2040.

3. Pemanasan global lebih dari yang ditetapkan pada Perjanjian Paris

Pemimpin dunia menandatangani janji penanganan iklim Perjanjian Paris pada 2015 untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan produksi gas rumah kaca. Perjanjian tersebut bertujuan untuk membatasi pemanasan global hingga 3, derajat Fahrenheit atau 2 derajat Celcius. Namun, angka ini sudah terlewati pada 2021.

Ilmuwan Chen Zou dkk. dalam The Pattern Effect melaporkan, makin hangat bumi, makin cepat pemanasan global terjadi. Sebab, saat planet Bumi kehilangan es dan salju, Bumia memantulkan lebih sedikit panas kembali ke luar angkasa.

4. Pompa CO2 ke udara tercepat dalam 2000 tahun

Laporan 200 ahli iklim dari review 14.000 penelitian mendapati kinerja manusia mendorong perubahan iklim yang cepat. Laporan ini diikuti report United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada Agustus 2021 yang mendapati pembakaran bahan bakar fosil telah memompa banyak CO2 ke atmosfer. Akibatnya, laju pemanasan global saat ini merupakan yang tercepat selama 2000 tahun terakhir.

5. Pemicu angin topan dan gelombang panas

Iklim bumi juga diatur oleh arus laut. Salah satu yang paling berperan adalah Arus Teluk, yang bertindak seperti sabuk konveyor raksasa yang mengangkut panas di sekitar lautan. Arus Teluk juga mengatur iklim dan cuaca dengan mengedarkan air asin yang hangat di sekitar Bumi.

Tetapi karena suhu Bumi menghangat, es mencair jadi air tawar dan mengalir ke lautan. Air es ini menurunkan salinitas air laut dan mengganggu aliran arus. Jika Arus Teluk terputus-putus dan berhenti, cuaca yang lebih ekstrem bisa terjadi, seperti angin topan dan gelombang panas yang berisiko korban jiwa.

6. Kenaikan permukaan laut makin cepat

Gangguan pada Arus Teluk juga berisiko mempercepat kenaikan permukaan laut di pesisir Eropa dan Amerika Utara. Namun, fenomena kenaikan permukaan laut ini juga terasa di berbagai negara di dunia.

Sebelumnya, peneliti memprediksi kenaikan air laut mencapai 1,1 meter pada tahun 2100. Tetapi berdasarkan evaluasi data historis terbaru, peneliti Aslak Grinsted dan Jens Hesselbjerg Christensen kini mendapati kenaikan permukaan laut kini dapat terjadi lebih cepat dari 80 tahun. Ini artinya, risiko bencana banjir dan kota tenggelam makin besar.

Nah, itu dia deratan pencapaian kelam di dunia sepanjang 2021 untuk iklim dan bumi. Yuk, kurangi kegiatan dan konsumsi barang yang meningkatkan perubahan iklim agar bencana alam tidak memakan lebih banyak korban jiwa.



Simak Video "Tahun 2021 Disebut Peneliti Tahun Terpanas Keenam Sepanjang Sejarah"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia