Kisah Ibu Kota Negara Baru Tetangga RI Malaysia dan Myanmar, Beda Banget!

Fahri Zulfikar - detikEdu
Sabtu, 22 Jan 2022 08:00 WIB
Ibu kota Myanmar, Naypyidaw yang sepi
Gambar ibu kota baru Malaysia di Putra Jaya. Foto: its.ac.id
Jakarta -

Indonesia akan memindahkan ibu kota negara (IKN) dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur. Ibu kota negara baru pun telah memiliki nama yakni Nusantara, yang disampaikan langsung oleh Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

Pemindahan ibu kota negara bukan hanya terjadi pada Indonesia tapi juga terjadi di beberapa negara. Seperti Inggris yang pernah memindahkan ibu kota dari Winchester ke London pada tahun 1066.

Kemudian di Asia Tenggara juga ada yang lebih dulu mengganti ibu kota negaranya. Ada negara tetangga RI yakni Malaysia dan Myanmar.

Myanmar yang telah memindahkan ibu kotanya dari Yangon ke Naypyidaw pada 2005. Sedangkan Malaysia hanya memindahkan kantor-kantor pemerintahannya ke Putrajaya, sebuah kota berjarak 25 kilometer dari Kuala Lumpur.

Lantas bagaimana nasib ibu kota negara baru di kedua negara tersebut? Berikut ulasannya dikutip dari laman resmi ITS dan CNBC Indonesia.


A. Kondisi Ibu Kota Negara Baru Myanmar

Myanmar punya ibu kota negara baru hanya karena memenuhi ambisi pimpinan militer sekaligus pimpinan negara Myanmar pada saat itu, Than Shwe.

Pemerintah Than Shwe berpendapat bahwa iklim Naypyidaw lebih aman daripada Yangon yang sering dilalui oleh badai siklon. Selain itu, posisinya yang berada di tengah negara Myanmar diharapkan dapat dijangkau oleh semua masyarakat.

Ambisi itu mengharapkan Naypyidaw akan menjadi setara dengan Canberra di Australia dan Brasilia di Brazil, menjadi ibu kota dan pusat ekonomi masyarakat yang bersih dari polusi.

Namun akibat perencanaan yang kurang matang, ambisi itu seperti "jauh panggang dari api". Kini, Naypyidaw yang telah terbangun megah malah menjadi "kota hantu" karena sepinya kegiatan masyarakat yang ada di sana.

Sepinya Naypyidaw disebabkan oleh kurangnya fasilitas umum. Hal ini karena pemerintah Myanmar terlalu fokus untuk membangun perkantoran dan fasilitas militer, namun melupakan pembangunan fasilitas umum dan perumahan.


B. Ibu Kota Negara Baru di Malaysia

Putrajaya dulunya adalah lahan perkebunan karet dan kelapa sawit yang bernama Prang Besar. Kemudian pada tahun 1990an, Perdana Menteri Malaysia saat itu, Tun Dr Mahathir Mohamad, memulai pembangunan daerah tersebut menjadi sebuah kota.

Alasannya, Kuala Lumpur sudah terlalu padat sehingga pusat pemerintahan Malaysia perlu dipindahkan ke tempat lain. Sejak pembangunannya selesai pada 1999 hingga kini, Putrajaya menjadi pusat pemerintahan yang sangat dinamis.

Dengan bangunan-bangunan berarsitektur indah dan tata kota yang rapi, Putrajaya dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat sekaligus penyangga Kuala Lumpur sebagai ibu kota.

Pembangunan kawasan baru ini cukup berhasil karena dalam prosesnya, pemerintah Malaysia memperhatikan segala aspek kehidupan. Termasuk mengedepankan bangunan dengan prinsip hemat energi air dan listrik.

Beda nasib dengan ibu kota negara baru Myanmar, dari sisi populasi, jumlah penduduk Putrajaya meningkat. Misal data pada 2010, jumlah penduduk Putrajaya adalah sekitar 70.000 orang sementara di 2020 jumlahnya bertambah menjadi 110.000 orang.



Simak Video "Pro-Kontra Pemindahan Ibu Kota Negara"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia