Sempat Mati Suri, Siapa Tokoh Pendidikan yang Hidupkan Kembali Istilah Nusantara?

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 18 Jan 2022 12:30 WIB
Nama ibu kota baru kini telah disepakati oleh pemerintah dengan nama Nusantara. Bagaimana fakta terbarunya?
Foto: dok. Screenshot
Jakarta -

Presiden Joko Widodo menyetujui nama Nusantara sebagai sebutan untuk Ibu Kota Negara (IKN) yang baru. Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengumumkan nama tersebut dalam rapat bersama Panja RUU IKN di gedung DPR/MPR, Senin (17/01/2022).

Meski menuai ragam komentar, namun istilah Nusantara sendiri sebenarnya tidaklah asing di telinga masyarakat Indonesia karena berkaitan erat dengan sejarah.

Istilah Nusantara Sudah Ada Sejak Abad ke-13

Istilah Nusantara sudah ada pada abad ke-13 era keemasan Kerajaan Majapahit. Kata tersebut tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan abad ke-12 sampai abad ke-16 dan digunakan untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dipegang Majapahit.

Dinukil dari buku Menggenggam Nusantara Raya tulisan Abdurrahman Misno dan Sabri Mohamad Sharif, Majapahit memiliki konsep kenegaraan yang meyakini Raja Dewa. Jadi, raja yang memerintah adalah jelmaan sosok dewa.

Berdasarkan konsep tersebut, daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit merujuk pada kekuasaan dewa yang terbagi menjadi tiga wilayah, yakni Negara Agung, Mancanegara, dan Nusantara.

Nusantara artinya pulau lain di luar Pulau Jawa. Daerah ini berada di luar pengaruh budaya Jawa, tetapi masih dianggap sebagai wilayah taklukan karena penguasa daerahnya harus membayar upeti.

Istilah Nusantara juga tertulis dalam naskah Sumpah Palapa. Patih Gajah Mada mengucapkan sumpah tersebut pada 1336.

Selanjutnya, Kitab Negarakertagama pun menyebutkan istilah itu untuk melanjutkan konsep Majapahit. Di dalamnya, wilayah yang dicatat sebagai bagian dari Nusantara adalah sebagian besar wilayah Indonesia saat ini dan negara tetangga Malaysia, Brunei, Singapura, dan sebagian kecil di bagian selatan.

Istilah Nusantara Sempat Mati Suri

Pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit, istilah Nusantara sempat tidak terdengar. Namun, tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara menghidupkannya kembali pada awal abad ke-20. Dia mengusulkan kata tersebut sebagai alternatif nama negara yang akan dibangun setelah kekuasaan Hindia Belanda.

Walau tidak menjadi nama resmi, istilah Nusantara sering menjadi padanan kata untuk Republik Indonesia. Kata tersebut juga dipakai untuk menyebutkan pengertian antropogeografi atau politik, misalnya seperti Wawasan Nusantara yang kita kenal.

Pada perkembangan politik abad berikutnya, kata Nusantara juga menggambarkan kesatuan geografi dan antropologi kepulauan yang ada di antara Benua Asia dan Australia yang mencakup juga Semenanjung Malaya, tetapi biasanya tidak memasukkan Filipina.

Pada penggunaan tersebut, Nusantara adalah Kepulauan Melayu atau Malay Archipelago dan kondang di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Utamanya dalam literatur-literatur berbahasa Inggris.

Jelang usainya Perang Pasifik usai di tahun 1945, wacana kawasan Indonesia Raya yang mencakup Britania Malaya (Malaysia bagian barat) dan Kalimantan Utara pun muncul.

Istilah Nusantara akhirnya populer di masyarakat Semenanjung Malaya, bersamaan dengan semangat kesamaan latar belakang sebagai orang Melayu.

Di samping itu, beberapa tokoh juga memiliki definisi Nusantara versi mereka sendiri.

Ernest Francois Eugene Douwes Dekker misalnya, mengartikan Nusantara sebagai "Nusa di antara dua samudra dan dua benua."

Kemudian, Tontowi Amsia (2008) dikutip dari Menggenggam Nusantara Raya mendefinisikan Nusantara sebagai. "Suatu negara kepulauan yang berada dalam posisi silang. Lalu, Joko Darmawan mengartikan Nusantara sebagai, "Wilayah Indonesia yang dimulai dari Nangroe Aceh Darussalam sampai Papua."



Simak Video "Saat Jokowi Ajak-ajak Investor dalam Pembangunan IKN Nusantara"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/faz)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia